#8 Prompt: Pasir Putih, Sekop Biru, dan Bikini Pink

#8 prompt

Bisa buatkan istana pasir?

notreland.wordpress.com

.

“Bisa buatkan istana pasir?”

Aaron mendengar ada yang bertanya lemah di sampingnya. Majalah GQ setengah bacanya menutup matanya, jadi dia tidak yakin itu tadi hanya suara-suara dalam mimpinya atau suara cewek betulan. Tangan kanan, yang tadinya ia gunakan sebagai bantal bersama tangan yang kiri, ia tarik dari bawah kepalanya. Aaron menggenggam bagian bawah si majalah yang rasanya lebih berat dari saat sebelum dia tinggal tidur.

Begitu dia sudah bisa melihat lagi, dia lihat ternyata suara tadi berasal dari cewek betulan yang sekarang berjongkok dekatnya. Cewek itu sepertinya seumuran dengannya, tapi umur mental mereka jauh—Aaron yakin dengan poin yang terakhir. Cewek itu memakai bikini strapless yang warnanya pink menyala. Aaron juga cukup yakin harusnya bikini itu membuat orang kelihatan seksi, dan sebangsanya. Tapi nyatanya cewek itu kelihatan seperti anak kecil yang berpakaian terlalu dewasa.

“Apa?” Aaron bertanya basa-basi.

Cewek itu tidak menjawab. Mulutnya membuka besar sekali saat mereka bertatap mata. Aaron tidak yakin ada apa di mukanya, tapi dia baru ingat ada apa di mukanya. Ada ketampanan yang kata kakaknya bertambah kalau dia habis tidur. Atau mungkin ada mata menawan yang menurut teman-temannya bisa membuat cewek langsung pingsan.

“Apa?” cowok itu mengulang lagi. Untung kali ini si cewek bereaksi—dia berkedip-kedip lalu menutup mulut lebarnya. Tangannya tiba-tiba terangkat, mungkin mau pamer sekop mainan yang ternyata dia bawa.

“Bisa buatkan istana pasir?”

Aaron menyingkirkan majalah dari pangkuannya, dia geser ke samping. “Untuk?” Serius, untuk apa dia bantu cewek nggak benar ini buat istana pasir?

“Untuk adikku. Dia kesini mau bikin istana pasir. Tapi aku nggak bisa, padahal sudah janji. Aku mau minta tolong ke orang lagi, tapi pasti mereka sibuk dengan temannya masing-masing, atau nggak sedang tidur. Kamu saja yang—eh, jangan tidur!”

Aaron terbangun karena cewek itu menampar pipinya pakai sekop mainannya. Salah cewek itu sendiri, bicara kemana-mana tidak jelas. Sumpah, deh, harusnya sekarang ini Aaron sedang tidur siang, menunggu Romeo balik dari mengemis plester; bukannya mengurusi cewek jadi-jadian.

“Bantu aku bikin istana pasir, ya? Ya?”

Dengan sekuat tenaga, Aaron menatap lemas si cewek, berusaha mengirim pesan bahwa dia sedang tidak ingin—dan tidak akan pernah ingin—membantu siapapun melakukan apapun. Dan itu termasuk membantu si cewek membuat istana pasir. Ditambah lagi matahari seperti menggila begini; bisa-bisa dia mati kepanasan sebelum bahkan membuat gundukan.

“Tidak, terima kasih,” dia ambil majalahnya dan siap-siap tidur lagi. Kira-kira kurang tiga inci lagi majalahnya sudah menutup muka, ada tangan kekar yang menahan tangannya sendiri. Dia lirik dari bawah majalah, ternyata tangan kekar itu milik si cewek yang sekarang mukanya menunjukkan tanda-tanda mau menangis. Dengan rasa takut si cewek bakal menangis betulan, dia mengangkat tubuhnya lagi, sambil memutuskan, “Kubantu, deh.”

Kali ini Aaron sangat yakin tampang mau menangis tadi itu hanya bohongan, karena tidak sampai semenit dia menutup mulutnya, si cewek tersenyum lebar-lebar. Sebenarnya, jauh di dalam hati kecilnya yang penuh rasa malas dan ketidaksukaan, diam-diam dia ikut merasa senang karena tawa konyol cewek itu. Dan untuk informasi saja, ini pertama kali dalam hidupnya, hatinya yang sudah berdebu itu merasa seperti ini.

Aaron pertama-tama menggulung majalahnya, dan digenggam erat-erat. Dia tatap lagi si cewek aneh dengan tatapan lelahnya, “Aku juga tidak bisa bikin istana pasir. Kita cari orang yang bisa saja.”

Aaron tidak berdiri, dia hanya celingukan kesana-kemari. Dia berhenti saat mukanya menghadap agak ke kiri. Dia mengambil napas sebelum berteriak, “Oy!”

Anak pirang di dekatnya yang sedang sibuk bermain pasir menengok, dan menatap dirinya. “Iya, kamu. Sini.”

Si anak pirang dengan celana pendek warna biru itu sudah mendekat. “Adikmu dimana?” Aaron berbisik malas ke si cewek pengganggu tidur siang.

“Dekat payung pink di sana, tuh,” si cewek menunjuk payung yang bahkan tidak sampai lima meter dari tempat tidur siang Aaron. Aaron menunduk, dan menghembuskan napas malas.

“Itu, tuh,” Aaron menunjuk ke adik si cewek yang sedang sibuk main kerang-kerangan. “Cewek itu mau istana pasir. Sana buatkan,” Aaron memukul pantat si bocah pirang itu dan tanpa peduli sekitarnya, majalah setengah bacanya dia buka dan ditaruh di atas mukanya. Bisa dia rasakan juga, si cewek jadi-jadian itu ikut pergi bersama anak pirang tadi.

Cowok itu sudah hampir tidur; kalau saja tidak ada suara ribut-ribut yang dibuat segerombol bocah dekat tempat tidurnya. Hatinya agak enggan untuk mengangkat sedikit majalahnya—yang lagi-lagi rasanya tambah berat—dan mengintip barang sebentaaar saja. Ah, akhirnya juga dia bangun tiba-tiba dan duduk bersila, lengkap dengan tangan bersilang di depan dada, majalah digenggam di tangan kiri.

Dia duduk saja di sana. Sebetulnya dia ingin membantu, karena, sumpah demi apapun yang suci di dunia ini, anak pirang itu ternyata tidak bisa membuat istana pasir. Tapi dia tidak tahan jauh-jauh dari tempatnya di bawah payung lebar cintanya. Terlalu panas, dan kalau dia pingsan, tidak ada yang bisa menonjok Romeo di muka dan berkata, “Jangan pacaran terus, bodoh.” Meskipun Aaron cukup yakin cewek yang sedang bersama Romeo di fruit bar bukan pacarnya.

Setelah beberapa puluh ketukan jarinya di atas majalah, dia tidak tahan lagi dengan payahnya si anak pirang, jadi dia berdiri dan menghampiri bocah-bocah menyedihkan itu.

“Sini biar aku saja. Payah,” Aaron merebut sekop plastik dari tangan si bocah pirang.

Si bocah pirang itu tidak mau susah-susah menunggu sampai Aaron membangun pondasi istananya, dia langsung kabur saja. Mungkin memang dia tidak mau disuruh seperti itu dari awal. Dasar bocah.

Cewek di samping Aaron juga tidak membantu sama sekali. Bukannya membantu mengumpulkan pasir, atau apa, dia hanya diam saja, seperti penonton baseball yang bosan. Dasar cewek.

Adik si cewek juga tidak membantu. Malah kebalikanya. Dia sibuk membuat istana pasir punyanya sendiri. Kadang mengambil pasir sesuka hati, menyenggol pondasi istana punya Aaron. Saking kuatnya si anak kecil itu, istana pasir Aaron ambruk, sampai-sampai dia harus membangun ulang istananya. Dasar bocah cewek.

Setelah banyak rintangan, berkali-kali membangun ulang, akhirnya jadilah istana pasirnya. Oh, dan juga belang di kedua lengannya karena kemeja tipisnya ternyata masih terlalu tebal untuk bisa dilalui sinar matahari.

“Tuh, sana. Nikmati istana pasirmu.” Aaron melempar sekop biru plastik di tangannya sembarangan sebelum bangkit. Dengan langkah lemas ia hampiri tempat teduh tercintanya. Setelah akhirnya ia tinggal selangkah menuju tempatnya, ia duduk tidak sabaran.

Apa, sih, ini baju? Dengan rasa kesal yang tidak jelas, ia melepas bajunya. Bisa-bisa dia mati dehidrasi kalau baju ini masih saja membuatnya kepanasan. Tangannya menggapai kotak es dengan susah-payah. Es yang ada di sana masih utuh. Untung tadi ia menyuruh Mikael membeli es krim saja daripada menghabiskan esnya. Ia ambil segenggam kotak-kotak kecil itu, dan dengan tidak pedulian ia balurkan di tubuhnya.

Aaron tidak tahu ia terlihat seperti apa sekarang. Tapi jelas si cewek bikini pink itu menikmati melihat Aaron menikmati sentuhan es di tubuhnya. Es yang meleleh membasahi tubuh Aaron, dan dia tidak senang dengan itu. Tanpa mengeringkan tubuhnya terlebih dahulu, ia genggam botol air minumnya kesal, dan dengan napsu mengguyur air itu ke kepalanya. Masa bodoh air itu bakal membuat celananya basah—toh, ‘kan, itu celana berenang.

Cepat-cepat ia keringkan tubuhnya. Tanpa basa-basi lagi, ia rujuk dengan majalah GQ setengah bacanya, dan mulai telentang di bawah naungan si manis payung. Baru saja dia mau masuk ke dunia mimpi lagi, ada jejak langkah yang terburu-buru ke arahnya. “Kalau pasirnya kering, nanti ambruk. Harus kuapakan?”

“Semprot pakai air.”

Si cewek itu pergi. Untuk sejenak, Aaron pikir kali ini dia betul-betulbetul bisa tidur. Tapi cewek itu menghampirinya lagi. Aaron mencoba amat sangat untuk tidak membuka majalahnya. “Boleh tidur di sampingmu, nggak?”

Kali ini Aaron berpikir keras. Kenapa tidak boleh? Nggak kayak dia bakal nyerang aku tiba-tiba waktu aku tidur, ‘kan? “Boleh.”

Tanpa berlama-lama, si cewek bikini pink itu berbaring di bawah bayangan payung yang kosong. Masa’ aku pakai alas dia tidak? Memangnya aku belut kayak Mikael? Aaron bangun dan—dengan terpaksa—mengubah posisi alas tidurnya. “Bangun dulu,” Aaron berucap pendek, lalu dengan cepat ia membuat alasnya melintang. Saat alasnya menyentuh pasir, ia tidur lagi tanpa bicara.

“Terima kasih, ya.”

“…”

“Ngomong-ngomong, kok, kamu bisa bikin istana pasir?”

“Diajarkan ibuku.”

“Keren banget. Aku kalau ke pantai main sendiri soalnya ibuku sibuk mengurus adikku.”

“…”

“Namamu siapa, sih? Kita belum kenalan, ‘kan?”

“Aaron.”

“‘Aaron’ itu artinya ‘pegunungan tinggi’ atau kakaknya Musa. Namaku Ruby, artinya batu rubi yang warnanya merah itu. Asalnya dari kata Bahasa Latin ‘Ruber‘; artinya merah. Ngomong-ngomong, batu rubi itu—,”

“Bisa diam tidak? Aku mau tidur.”

Cewek bikini pink itu terdiam. Di bawah majalah GQ-nya, diam-diam Aaron tersenyum; sebetulnya ia merasa ocehan cewek Ruby itu super lucu. Tapi dia gengsi.

Ah, sekarang yang belut aku.

Tidak, aku tidak belut.

Aaron menyingkirkan majalahnya dari muka. Ia menoleh untuk menatap mata si Ruby. Cewek itu lagi-lagi terpesona dengan matanya. Susah, memang, jadi orang tampan.

“Besok kamu kesini lagi?”

Ruby hanya mengangguk.

“Aku juga. Tapi aku nggak mau di pantai. Kita ke taman bermain saja, mau? Naik skateboard, semacamnya.”

Ruby lagi-lagi hanya mengangguk. Dan di luar kendalinya, Aaron tersenyum setulus hati.

“Kalau begitu sampai besok,” ditutupnya muka tampannya dengan majalah, membiarkan Ruby bingung-senang sendiri.

FIN.

Thanks lagi kayen buat prompt pack nya yang masih aja keliatan lucu meski aku udah liatin satu-satu prompt nya. Cuma prompt kayen yang menyelamatkanku dari writers block:”)

Thanks for reading!
Zyan

Advertisements

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s