#7 Prompt: Romeo dan Bukan Juliet

#7 prompt

Punya plester?

notreland.wordpress.com

.

Romeo sedang berjalan di pasir mencari-cari orang yang punya plester melainkan berselancar di tengah laut sana. Ini salah Mikael. Waktu dia cari untuk diminta pertanggung jawabannya, yang bersangkutan ternyata sedang kecan buta di atas bukit. Dasar belut.

Ceritanya begini. Romeo itu bukan peselancar yang andal. Memang, sih, dia sudah akrab dengan ombak—tapi di bawahnya, bukan di atasnya. Sampai umur segini juga dia masih tidak mengerti kenapa orang-orang mau mengendarai ombak. Untuknya pribadi, sih, lebih baik pergi kemana-mana menunggangi banteng rodeo. Karena ketidak mampuannya itu ia jatuh berkali-kali, kalah telak dengan ombak Pantai California. Dan sekali waktu, ia terjatuh dan terseret hingga ke tepian. Sebongkah karang pecah sialan menggores dan menciptakan luka di lututnya yang tidak tertutup celana surfing.

“Punya plester?” Romeo bertanya ke nenek-nenek yang sedang berjemur dengan cucunya. Tentu saja nenek itu tidak punya, apa, sih, isi kepalanya? Setelah berjalan sedikit lagi ke arah barat, Romeo bertemu lebih banyak orang, dan menerima lebih banyak gelengan kepala saat dia bertanya, “Punya plester?”

Sudah hampir mati dehidrasi dirinya, sampai tahu-tahu dia melihat fruit bar tidak begitu jauh di depan matanya. Tempat itu ramai—kemungkinan ada yang punya plester menjadi semakin besar. Dengan penuh semangat, ia jejaki lagi pasir panas. Semakin ia mendekat, semakin ia sadar bahwa fruit bar yang tadinya ia pikir tenang, ternyata penuh riuh-rendah orang-orang yang kehausan.

“Ehm… permisi,” Romeo mengetuk meja di bar, berusaha menarik perhatian salah satu dan satu-satunya pelayan yang sedang bekerja. Cewek itu tampak kerepotan menangani pesanan-pesanan yang di luar kemampuannya. Tadinya Romeo hendak memencet bel hotel klasik yang ternyata ada di dekat tangannya, tapi dia sangat menahan diri untuk tidak melakukan hal itu. Tapi sekali lagi, ia angkat bicara. “Permisi,” katanya lagi.

“Maaf, tapi kalau ingin pesan harus mengantri,” cewek itu akhirnya merespon, dengan alis dikerutkan, tangan sibuk mengupas apel, dan mata waswas mengamati blender yang sedang menghaluskan nanas.

“Ehm… aku bukan ingin pesan jus, aku ingin minta plester. Kalau kamu punya, sih,” Romeo tidak tahan untuk tidak khawatir soal apel di tangan cewek itu, dan nanas dalam blender karena cewek itu terus-terusan melirik kedua buah itu melainkan fokus ke mata hijaunya yang kata orang, sih, mengundang untuk ditatap.

“Aku punya, tapi aku agak sibuk. Tunggu sebentar,” cewek itu benar-benar pergi meninggalkan Romeo yang sampai sekarang masih merasa denyut menyebalkan dari lututnya yang masih terekspos udara segar sampai sekarang. Sialan, ini luka.

Romeo baru menyimpulkan, menunggu sambil berdiri itu malah tambah menyiksa, jadi dia duduk di atas kursi bar yang tinggi. Berkali-kali ia lihat cewek itu mondar-mandir, mengambil ini, mengambil itu. Dalam hati kecilnya, yang ia anggap sensitif tapi Mikael tidak, ia ingin membantu cewek itu. Sumpah. Tapi dirinya sendiri tidak jauh lebih baik.

Dasar cupu, hati kecilnya yang sensitif mengejek dirinya sendiri.

Apa? Aku juga bukan dalam kondisi bisa membantu, tahu, ia melempar argumen untuk hati kecilnya yang tahu-tahu saja agresif.

Kamu belajar jadi belut begitu dari siapa? Mikael, ya?

Dibilang aku nggak bisa bantu. Kalau memang nggak bisa, mau apa?

Tapi itu, ‘kan, cewek. Kamu nggak kasihan?

Kasihan, sih.

Romeo menggigit-gigit kecil bagian dalam pipinya waktu memutuskan membantu atau tidak. Saat dalam pikirannya berkelebat, Ah, sial, ia bangkit dari kursi bar-nya, dan memutari toko untuk masuk ke dalam. Kalau melihat dari balik konter seperti ini, ya, memang horor juga situasinya. Cewek yang dari tadi masih bolak-balik itu belum sadar Romeo menyusup ke dalam bar-nya. “Hey,” Romeo menyentuh pundak cewek itu, membuat atensinya berpindah dari blender yang sedang menghaluskan melon, ke matanya. “Biar kubantu, deh,” cowok itu tidak bisa berkata panjang karena salah tingkah, dan matanya menatap lantai kayu berpasir di bawah kaki telanjangnya. Tadi dia kesal karena matanya tidak dilihat lawan bicaranya, sekarang siapa yang menghindari kontak mata?

“Ah, iya!” Cewek itu tergagap, entah karena lega atau karena masih kaget. “Langsung saja kamu kerjakan pesanan nomor tujuh puluh dua.” Cewek itu menunjuk papan yang penuh kertas kecil catatan pesanan. Mungkin Romeo salah ambil keputusan, harusnya, ‘kan, sekarang dia sudah kembali ke laut lagi sekarang, melainkan membuat fruit salad seperti ini.

Tapi Romeo tidak menyesal, kok. Dia malah mulai berpikir, Lumayan juga. Tahun depan kerja di sini, ah. Membuat jus, atau salad, atau mengisi ulang tempat cetakan popsicle tidak seburuk itu, kok. Atau ini cuman karena ada cewek itu di sebelahnya?

Matahari sudah merosot banyak dari posisi sebelumnya saat Romeo baru memasuki dapur fruit bar. Tahu-tahu saja, semuanya sudah tidak seribut waktu Romeo baru mulai bekerja. Sekarang, hanya ada dia, cewek itu, dan pasangan Asia yang sedang menikmati salad buah mereka.

Romeo sedang duduk di atas konter, membelakangin pantai dan menghadap si cewek yang sedang duduk di kursi tinggi mmiliknya sendiri. Saat dia melirik, dia lihat cewek itu sedang menenggak air mineral, ketika tahu-tahu cewek itu menjengit seperti teringat sesuatu. “Oh, iya. Tadi kamu minta apa?”

“Apa?” Romeo bingung sebentar, sebelum akhirnya ngilu kecil di lututnya terasa lagi, dan dia teringat. “Oh, iya. Aku mau minta plester, punya?”

Cewek itu diam sebentar sebelum menjawab, menggali ingatannya untuk memastikan dia punya plester apa tidak. “Oh, aku punya, kok. Sebentar,” cewek itu turun dari kursi tingginyaa, dan pergi ke dekat pintu keluar. Di sana dia mengaduk-adukkan tangannya ke dalam tas yang digantung dekat situ. Waktu tangannya keluar, satu renteng plester ada di genggamannya.

“Nih.” Cewek itu memberi Romeo satu buah. Tapi Romeo tidak tahu cara menangani lukanya. Sungguh, deh, Mikael harusnya ada di sini untuk merawat dirinya. Dasar belut.

“Kamu nggak tahu cara pakainya, ya?” cewek itu bergumam sendiri. Air mineral yang tadi belum habis cewek itu guyurkan di luka Romeo. Pedih, tapi juga dingin. Dengan tisu cewek itu keringkan lukanya. Baru plesternya dia tempelkan.

“Tuh, sudah.”

“Terima kasih.”

“Kok, bisa luka?” cewek itu bertanya saat sudah kembali ke kursi tingginya.

“Iya, tadi tergores karang.” Romeo tidak menjelaskan kenapa dia bahkan bisa jatuh. Mungkin kalau begitu kedengaran lebih keren.

“Hmm.”

“…”

Romeo diam. Dia merasa canggung setengah mati. “Namamu siapa?” cewek itu tahu-tahu bertanya, membuat Romeo bersyukur.

“Romeo. Kamu?”

“Yang pastinya bukan Juliet,” lalu cewek itu tersenyum, tertawa canggung kecil karena lelucon tidak lucunya.

Sumpah.

Yang barusan itu.

Terlihat seperti matahari terbit di ufuk timur laut California di musim panas yang seperti tanpa kemurungan.

Romeo diam saja, matanya berkedip beberapa kali mungkin, lalu dia ikut tertawa kecil. Hati kecil sensitifnya tahu-tahu seperti dipenuhi panah Cupid.

“Marilyn.”

“Marilyn?”

“Namaku.”

“Oh.”

Setelah ‘oh’-nya yang canggung, cewek yang namanya Marilyn itu meminum sisa air mineralnya. “Nah, Romeo,” dia turun lagi dari kursinya, dan melempar botol airnya dengan sempurna ke tempat sampah di ujung ruangan, “Kamu mau kerja tidak di sini?”

Mata Romeo mengerjap. “Di sini? Untuk berapa lama?”

“Aku tidak tahu. Semaumu saja. Sampai liburan musim panas selesai, mungkin?”

“Aku mau, kok.”

“Kalau begitu, selamat datang di sini, ya, Romeo,” cewek itu menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan secara resmi. Begitu tangan mereka menggenggam satu sama lain, radiasi panas yang tidak tahu darimana sumbernya merambati pipi Romeo. Dia tinggal berharap saja sunburn-nya menyamarkan warna apapun yang ada di mukanya sekarang.

Mikael tidak jadi belut, deh.

FIN.

Thanks buat kayen yang setelah aku stalk lagi blog-nya, prompt pack nya masih bisa bikin aku napsu nulis:”) Apalah aku tanpa prompt pack mu, kayen:”)

THANKS BUAT ROBIN DEIANA YANG UDAH JADI MUSE-MAN SELAMA LIBURAN INI LAF YAH

Thanks for reading!
Zyan

Advertisements

2 thoughts on “#7 Prompt: Romeo dan Bukan Juliet

  1. Dan aku ngakak sampe akhir pun romeo masih nyebut2 belut 😂

    Romeo…. kenapa gak beli plester di warung/? aja daripada minta sama nenek2 /.\ untung ujung2nya bisa dapet plester plus kenalan cewek cantik plus dapet kerjaan 😆 bencana membawa berkah *loh 🙌

    Terima kasih kembali zyan, udah pake prompt nya dan gak nyangka prompt absurd itu bisa jadi ff kece kaya gini 👍
    Sukses terus nulisnya ya zyan~ ^^)9

    • KIWKIW AKU DIKOMENIN KAYEN OMONA
      Orang ganteng mah bebas yah, bayangin aja gitu muka cem Brookly beckham jalan jalan di pantai ngemis-ngemis plester. Jangankan plester, ini hati aku kasih juga deh;(

      Makasih yaa kayen~~~
      Zyan

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s