#6 Prompt: Logika

#6 prompt

“Aku kepingin, deh, sekali-sekali kencan ke museum atau ke galeri seni.”

—NZH

“Aku kepingin, deh, sekali-sekali kencan ke museum atau ke galeri seni.”

Hah.

“Seperti ada saja laki-laki di dunia ini yang ingin berkencan di tempat seperti itu,” tanggapku negatif. Tidak biasanya Amanda berujar sebegitu bodohnya. Harusnya setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah hal benar dan realistis meskipun terkadang memang sedikit berkhayal akan romansa masa muda. Tapi masa’ sih, dia sebegitu hijaunya tentang laki-laki?

“Memang kenapa? Laki-laki seperti itu memang ada tahu, Dana,” protesnya tidak terlalu kencang.

Aku tahu hubungannya akhir-akhir ini dengan Jamie tidak terlalu bagus, jadi kenapa? Apa dia sedang berusaha menyampaikan kode berantai? Berharap agar kita, teman-temannya, menyampaikan kode ini kepada kekasihnya yang kabarnya tidak terlalu peka itu?

“Lagipula kalau memang ada,” sambungku lagi, kali ini berhasil menarik atensi Bella yang kebetulan sedang menggunakan otaknya di meja seberang.

“Kalau memang ada laki-laki seperti itu, bukannya sudah pasti dia akan lebih tertarik dengan koin koleksi museum atau lukisan abstrak yang terpajang daripada kepada dirimu?”

“Kenapa begitu?” pertanyaan dari mulut Bella terasa tidak masuk akal bagiku.

“Kenapa begitu? Yah,” aku merenung sebentar sebelum menemukan jawaban yang memuaskan diriku sendiri, “Karena kalau memang ada laki-laki yang suka galeri atau museum, laki-laki itu pasti golongan kutu buku, ‘kan? Sudah pasti mereka pergi ke tempat macam itu untuk belajar.”

Bella kembali mengerjakan esainya yang sempat terabaikan. Setelah satu kalimat, ia berkomentar, “Yah, betul juga katamu. Ayahku tidak sudi masuk museum, jadi tiap kali ibuku diantarnya ke museum, dia hanya duduk di luar gedung dan merokok. Sudah seperti buruh saja.”

“Tuh, ‘kan? Lagipula kalau aku laki-laki, cara pikirku akan tepat sekali seperti Ayah Bella.”

“Masa’ laki-laki sebegitu buruknya?”

“Percaya lah—logika laki-laki tidak berjalan searus dengan kita, Amanda.”

Hening sebentar ketika Bella kembali dibuai esainya, dan diriku disibukkan dengan angket drama untuk pentas akhir tahun. Tidak begitu lama jeda ini berlangsung hingga Amanda berkata, “Tapi…” dan ia berhenti sebentar untuk menemukan seonggok alasan yang cukup masuk akal untuk menentang pernyataanku.

“Tapi, kalau laki-laki itu benar-benar sayang kepadaku, harusnya ia akan dengan senang hati menemaniku kemana pun destinasi kencan kita, benar?”

“Kalau kau benar-benar sayang padanya, harusnya kau tahu dia tidak suka museum maupun galeri seni, dan tidak akan memaksa pacarmu itu untuk menemani, benar?”

Hening.

Bella tidak mengerjakan esainya, tapi ia menatap lembar kertas di hadapannya penuh makna. Amanda sendiri terdiam, menatap pensil yang tergeletak lemah dari tadi, menaruh fokusnya seolah benda itu tidak dalam posisi wajarnya. Setelah jeda canggung itu, Amanda tertawa terpaksa. “Ahaha, pendapatmu—”

“—pendapatmu masuk akal sekali kalau menurut logika yang digunakan Amanda,” Bella memotongnya.

Entah dengan yang lainnya, tapi aku masih saja memikirkan kata-kataku sendiri hingga malam telah larut. Setelah sekumpulan soal trigonometri kurampungkan, ada satu pesan masuk. Dari Nathan.

Nathan: Heyyyyy, sudah makan malam? 😉
Me: Sudah, jangan pikir kau bisa mencari-cari alasan untuk jalan denganku
Nathan: Tidak kok

Tidak sampai sepuluh detik kemudian, ada pesan lagi.

Nathan: Yah, mungkin sedikit
Nathan: Hehe

Tak urung, kalimat konyol itu membuatku mengembangkan kurva kecil di wajah.

Me: Apa?
Nathan: Apa apa?
Me: Kau ingin bicara apa?
Nathan: Tidak ada
Nathan: Eh
Nathan: Aku ingin bilang saja, debatmu tadi siang dengan Amanda dan Bella keren sekali 😉
Me: Jadi?
Nathan: Tidak apa-apa, aku hanya merasa beruntung saja
Me: Apa hubungannya?
Nathan: Yaaah, kalau misalnya di masa depan kita betulan pacaran, setidaknya kau bisa mengerti bahwa aku tidak suka museum dan galeri seni SAMA SEKALI

Ok.

Mungkin cukup untuk malam ini, Nathan.

FIN.

INI BASED ON TRUE STORY. Debat aku sama temen aku yg udah berpasangan soal date plan ke museum atau galeri seni itu lucu, kata dia. Padahal jelas banget ga sih kalo kita ke sana bareng pasangan, kita justru nyiksa pasangan kita? Kalaupun pasangan kita ga tersiksa untuk pergi ke sana, pastinya gabakal bisa dipanggil date, lebih kayak field trip ntar, soalnya cowok yg ga tersiksa kalo ke museum itu pastinya yg suka belajar serius aja kan?

Thanks for reading anyway!
Zyan

Advertisements

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s