Title : Our Life | Cast : Teen Top’s Chunji | Length : Chaptered | Genre : fail!Action, Idol life | Rating : Mature

Warning: Gay content!

***

Apel kalifornia ini sepertinya besar sekali. Dari tadi tidak habis-habis. Acara itu juga sepertinya tidak habis-habis. Tapi, acara itu lumayan. Aku baru tahu ada acara seperti itu pada pukul sepuluh malam begini.

Tahu-tahu, pintu kamar Byunghun terbuka. Dia keluar dengan bat di tangan.

“Oy, mau kemana?”

Dalam langkah kelimanya, ia berhenti dan berbalik menatapku.

“Berlatih baseball, hyung. Temanku sedang nafsu berlatih baseball. Dan katanya dia rindu padaku, hehe,” katanya diakhiri cengiran.

“Ya sudah. Pulang sebelum Minsu hyung mengunci pintu.”

“Tentu, hyung. Dadah.”

Aku selalu suka Byunghun. Dan asal kau tahu, bukan suka antara kau dan kakakmu, atau antara kau dan idolamu. Tapi, seperti antara kau dan pacarmu sekarang (jika kau tidak punya pacar, katakanlah seperti kau dan orang yang kau sukai).

Iya. Katakan saja keras-keras.

Aku homoseksual.

Haha, kejutan untuk kalian, para fansku di luar sana yang membaca kalimat tadi.

Mukaku tidak terlihat gay ‘kan? Memang, mukaku pandai menipu. Padahal, Byunghun bilang mukaku ‘sangat gay’, sementara dia sendiri tidak tahu aku memang gay. Dan suka padanya.

Aku sudah melihat comeback tiga bocah tengil komplotanku.Siapapun yang menyepelekan EXO, memang salah besar. Aku harus bilang pada direktur, comeback kami selanjutnya harus bisa mengalahkan mereka. Aku sampai bingung, kenapa mereka bisa sebegitu hebat. Padahal, jika kau tahu bagaimana watak asli mereka, kau tidak akan tahan dengan ketidak bagusan mereka. Aku serius. Tapi, jika mereka bisa masuk SM, berarti mereka memang hebat.

Ketika akhirnya apel-terlampau-manis-dan-besar tadi habis, menyikat gigi adalah kegiatan selanjutnya. Sejujurnya, aku tidak mau menyikat gigi secepat ini. Kau tahu ‘kan, bagaimana rasa di mulutmu ketika rasa apel yang tersisa bercampur dengan rasa mint pasta gigi. Tapi, daripada aku lupa dan gigiku jelek, lebih baik kutahan rasa tidak enak itu untuk lima menit saja.

Yah, tadi tidak buruk. Aku merasa bahagia, bahwa rasa apelnya tidak terlalu kentara. Sekarang, coba kulihat. Makan apel, cek. Minum susu, cek. Sikat gigi, cek. Sudah semua, kurasa aku bisa tidur sekarang.

Tunggu, ada hal penting lain.

Aku harus pakai kaus abu-abu tipis, atau tidak pakai sama sekali?

Apa? Itu penting, kau harus tahu. Tertawa saja. Menurutku itu sangat penting.

Tidak usah pakai apa-apa saja, malam ini panas sekali. Hey, untuk kalian yang berpikiran aneh-aneh, buang pikiran itu. Malam ini memang panas, hampir tiga puluh sembilan derajat. Pemanasan global, mungkin.

Ok, yang sekarang harus kulakukan adalah menghitung domba. Yah, jika tidak memangnya kenapa? Akan bahaya. Aku tidak bisa tidur. Jangan salahkan aku sendiri jika aku mengidap insomnia. Daripada besok pagi aku dihajar habis-habisan oleh Minsu hyung lantaran terlalu pulas tidur.

Ok, ayo kita mulai.

Satu domba putih kecil.

Dua domba putih kecil.

Tiga domba putih kecil.

Empat domba putih kecil.

Lima domba putih kecil.

Sepuluh domba putih kecil.

Jadi, mataku hampir padam ketika mencapai domba putih kecil ketiga ratus lima puluh delapan. Tapi, memori tentang Myungsoo berkata, ‘Pukul dua belas, di tempat biasa,’ menyelinap dengan kurang ajar, dan itu mengganggu.

Oh, ayolah. Ketika insomnia adalah masalah terberat untuk malammu, dan kau terganggu saat sudah setengah terlelap, tidakkah itu menyebalkan? Katakan tidak, dan ingatkan aku untuk mengajarmu tentang hal ‘menyebalkan’ suatu hari nanti.

Jadi? Aku harus apa?

Ah, sudahlah. Hanya Myungsoo. Kalau Minsu, kau harus.

Tapi, aku ‘kan tidak tahu apa maksud Myungsoo. Kalau penting, bagaimana?

Mana mungkin hal yang Myungsoo katakan sepenting itu?

Siapa tahu?

Terserahlah. Kalau kau kena marah, bukan salah.

Ya sudah. Aku pergi saja.

Lalu, pergilah bagian positif diriku menuju markas. Ternyata di luar dingin, tidak seperti di dalam. Mungkin beberapa lubang ventilasi di dorm tersumbat. Aku harus bilang manager hyung.

Berhubung aku terlalu malas untuk membuka gembok sepeda, atau menunggu bus dan semacamnya, aku berjalan. Tidak terlalu buruk. Ibuku selalu bilang, angin malam selalu membuat tidur lebih mudah. Setidaknya dengan keluar sekarang, ketika kembali nanti aku bisa tidur dengan mudah.

Aku tidak terlalu ingat jalan-jalan malamku yang terakhir. Aku lupa bagaimana kelihatannya lampu di tengah malam. Aku lupa kebisingan hening yang menyeruak, sensasi kabur tapi selalu kusuka. Aku lupa bagaimana aroma udara malam. Di dorm, air conditioner selalu menyala. Jadi, meskipun ventilasi lancar, udara natural tidak pernah bisa kuhisap di dalam sana.

Aku cukup senang Myungsoo menyuruhku keluar malam ini. Setidaknya perintah itu membuatku cukup senang dalam beberapa poin. Tapi, jangan lupa ingatkan aku bahwa lantaran melaksanakan perintahnya, tidurku terganggu.

Tinggal beberapa kaki lagi, dan pintu besi usang itu sudah dalam jangkauan tanganku. Dan menguarlah aroma besi usang begitu aku sampai di dalam sebagai ucapan selamat datang. Sambutan yang tidak terlalu bagus. Yah, apa yang bisa kuharapkan dari rumah komplotan yang isinya bocah tengil semua? Ya, kecuali diriku, tentu.

Dan, ternyata di dalam masih kosong. Seharusnya aku tahu aku tidak harus datang secepat ini. Sekarang aku harus apa? Menunggu bukan halku—bukan hal siapapun. Dan jika seperti ini, tidak mungkin aku berjalan pulang lalu kembali  lagi ‘kan?

Aku tidur sajalah. Lumayan untuk menunggu. Dan jika mereka sudah sampai nanti, dan membangunkanku—sekali lagi—jangan lupa untuk mengingatkanku untuk menendang pantat Myungsoo.

Dang!

Dang!

Dang!

Apa, sih?

Ah, sial—lantainya jadi dingin sekali. Aku sudah tidur selama hampir setengah jam, dan Myungsoo belum datang. Sialan. Aku tidak akan lupa untuk menendang pantatnya jika bertemu, terima kasih mengingatkan.

Tapi, omong-omong, suara sialan tadi apa? Darimana?

Ah, kakiku sakit. Mungkin kram. Tapi, aku harus mencari sumber itu. Mungkin dari ruang lain? Sebelum membuang tenaga untuk berjalan, biar kulihat lewat jendela kosong di sisi ruang dulu.

Eh?

Itu siapa?

Itu, bukannya…

L.Joe?

Eh, L.joe, bukan?

Rambutnya blonde dengan surai pink muda, kurus—sangat kurus—, dan tingginya tidak jauh beda denganku. Dan batnya—orang itu membawa bat—diikat dengan bandana hitam miliknya. Ok, aku tahu banyak orang di luar sana yang punya bandana hitam. Tapi, siapa  yang malam ini juga memakai sweater hitam dengan logo merah di dada kanan juga di punggung, jeans, snapback merah, dan sneakers abu-abu seperti L.Joe? Dan dengan lengan digulung sepertiga, apa lagi yang bisa menyangkal itu bukan L.Joe?

Si orang-yang-mirip-sekali-dengan-L.Joe itu berbalik, menampakkan wajahnya yang tertutup masker tengkorak—yang setahuku L.Joe juga punya. Di balik orang itu, tiga bocah tengil EXO menunduk, masing-masing menampakkan raut kesakitan.

Dan sekali lagi suara dang terdengar. Ternyata sumber dang sialan itu adalah hasil pertemuan abdomenal Sehun—atau dua orang lainnya—dengan bat besi milik si orang-mirip-L.Joe itu. Dan pasti itu menyakitkan, menilai dari raut kesakitan yang sedari tadi bocah-bocah itu perlihatkan.

Sembari masih menikmati menyiksa tiga bocah itu, sepemukul membuka maskernya. Meskipun orang itu memunggungiku, aku tahu orang itu sedang bicara, atau mungkin berbisik karena suaranya tidak terdengar. Ia menendang pelan punggung Kai. Bukan bermaksud menyakitinya, tapi lebih seperti agar ia bisa melihat wajahnya.

Orang itu sepertinya mengatakan sesuatu yang sangat membuat Kai marah, karena setelah orang itu diam, wajah Kai berubah seperti kesetanan. Kai sepertinya hendak membalas—tapi berhubung dirinyalah yang habis dipukuli, orang itu dengan mudah menghindar dan menendang Kai lagi.

Samar- samar, kudengar orang itu berkata kepada Kai, “Ya, kau rookie, ok? Jangan sok berbakat. Katakan saja dirimu berbakat. Tapi, kami—para senior—lebih terlatih dari kau. Dan kami tidak ragu melakukan apapun. And by everything, i mean everything. Got it? Terlebih lagi jika orang itu senior yang mendendam.”

Orang itu selesai, berbalik dan menelantarkan mereka. Aku masih diam, berpikir. Aku harus mengejar orang itu, atau pura-pura tidak melihat, atau pura-pura lewat depan situ? Ah, tidak usah repot-repot. Aku tinggal memutar dan pura-pura lewat depan  orang itu saja, dan berlagak tidak mengetahui apapun. Bagaimana? Kreatif, eh?

Aku mengeluarkan permen tongkat yang tadi sempat kubeli di tengah jalan menuju ke sini, dan membuka bungkusnya, kemudian melahap setengah bagiannya. Sambil berjalan, sempat terpikir beberapa skenario yang akan ‘kupentaskan’ di depannya jika ia bertanya nanti.

Aku mengambil jalan memutar, jadi aku bisa keluar di lorong utama dan bertemu dengan pelaku tepat di ujung lorong itu nanti. Dan dengan begitu aku bisa memastikan siapa orang itu. Dan kalau misalnya orang itu benar-benar L.Joe, aku harus apa? Yah, lupakan. Akan kupikirkan nanti jika sudah tahu itu siapa.

Lorong utama sudah dekat, tinggal lurus melewati tiga pintu lagi lalu belok ke kiri. Aku tidak suka. Agak dingin, karena lorong utama itu punya banyak sekali jendela yang kacanya sudah pecah semua, jadi angin bisa dengan kurang ajar masuk seenaknya. Dan di sana bau besinya kuat sekali, karena banyak peralatan yang berbahan dasar besi, tentu saja.

Langkahku kupercepat. Harus, karena jika aku masuk ke lorong di belakang orang itu, mana bisa aku mengambil kesempatan untuk setidaknya melihat wajahnya? Jadi, aku harus cepat-cepat, meski itu artinya sepatuku berbunyi dan berdecit, dan dikarenakan lorong ini sempit dan kecil suaranya akan bergema. Menyebalkan.

Samar sih, tapi bisa kudengar langkah kaki dari orong di seberang. Aku tidak tahu itu orang yang tadi atau bukan, tapi pasti ada orang. Tidak mungkin ‘kan, kucing melangkah seberisik itu? Dan tidak mungkin juga Kai, Tao dan Sehun, karena langkah kakinya hanya satu pasang.Yang jelas, orang itu makin dekat denganku.

Kakiku menapak di atas keramik lorong utama. Aku masih berakting sibuk dengan permen tongkat di mulutku, ketika kelebat hitam orang di sebelah kiri tertangkap mataku. Assa, aku berhasil. Aku memang hebat. Ketika aku menoleh, orang yang sebelumnya menundukkan kepalanya itu mendongak.

Sebelum melihat wajahnya beberapa sekon sebelumnya, kulirik hal ditangannya—masker tulang yang tadi. Dan lewat satu sekon setelahnya, mata kami bertemu. Sial.

Orang itu memang L.Joe.

Hyung?”

Sial.

Ia mengenaliku juga.

Ya, kau.. sedang apa di sini?”

Hyung sendiri, sedang apa di sini?”

“Ayo, sambil jalan saja, aku mengantuk. Kau tidak?”

“Haha, iya, sih.”

Dan ketika langkah kami sudah seiring dan meninggalkan gedung apak tadi, L.Joe menagih penjelasan.

“Jadi, kau sedang apa di sana, hyung?”

“Aku tadinya disuruh ke sana oleh teman SMA. Tapi, aku lupa, dari dulu sampai kapanpun dia adalah orang kurang ajar. Dan dia ternyata tidak ada di sana. Padahal sebelum pergi tadi aku sudah hampir tidur. Ha, menjengkelkan.”

Hey, itu tidak sepenuhnya bohong ‘kan?

“Haha. Aku juga selalu tidak suka bocah macam itu.”

“Kau sendiri? Katamu kau berlatih baseball dengan temanmu. Kenapa kau di gedung sialan itu?”

“Tadinya, sih, kami di lapangan. Kukira temanku sudah bicara dengan yang punya lapangan. Ternyata dia membobol gerbangnya. Kami dikejar oleh security dan pindah berlatih di gedung tadi.”

“Kenapa kau sendiri? Temanmu tidak ada?”

“Ada. Mereka masih berlatih. ‘Kan hyung sendiri yang bilang ‘pulang sebelum Minsu hyung mengunci pintu.’. Ya, ‘kan?”

“Iya, haha. Aku lupa.”

Hey, tidak buruk aktingnya. Tapi, sayang sekali Byunghun. Aku tahu semuanya. Terutama bahwa kau menyakiti teman satu komplotanku. Yah, bukan berarti mereka bocah tengil tolol, jadi aku tidak menyayangi mereka, ‘kan? Tapi aku tidak mencintai mereka seperti aku mencintai orang yang tidak sampai setengah jam yang lalu menggebuki mereka dengan bat, ok?

“Jadi, ehm, aku ingin bertanya. Jika kau tidak keberatan, tentu.”

“Yah,i tidak apa-apa, hyung. kita sudah lama saling mengenal, ‘kan? Kenapa hyung belum bisa merasa nyaman juga sampai sekarang?”

“Haha, oke, oke. Aku mengerti maksudmu. Katakan saja aku bukan ‘belum merasa nyaman’, tapi lebih kepada merasa pertanyaanku mungkin mengganggumu.”

“Ah, kalau aku terganggu, memangnya pernah hyung mendengarku memprotes yang mengganggu itu?”

“Ok. Begini, umurmu sudah lebih dari dua puluh, ‘kan? Aku ingin bertanya soal SMAmu dulu.”

“Ya, boleh. Apa?”

Udara di Seoul ketika malam cukup dingin, kalian harus tahu. Tapi, aku bisa merasa setitik keringat menempuh jalur baru di punggungku. Juga di tengkuk dan di pelipisku. Lupakan, Byunghun masih menunggu pertanyaan tadi.

“Kau pernah memiliki… hubungan dengan seseorang tidak?”

Dan sementara aku merutuk dan mengutuk diriku sendiri, tidak ada respon dari Byunghun. Iya, dia diam. Atau itu hanya asumsiku saja? Dan, ya, benar. Hanya asumsiku saja. Karena ternyata, ketika aku menilik wajahnya, ia sedang tertawa hening. Kau tahu, ‘kan, suara tertawa yang dalam diam seperti ‘heheh’ ringan atau hanya senyum lebar tapi sebetulnya sebuah tawa.

“Aku… pernah kenal seorang gadis. Dia lucu, selalu dengan kuncir di pucuk kepalanya, hanya sebagian karena maksudnya agar poninya tidak mengganggu. Pintar, rata-rata nilai A. Ramah, agak pendiam. Tapi orang itu tiba-tiba punya seseorang. Dia bahkan belum tahu aku suka padanya.”

“Hah, hanya segitu saja? Kau belum tahu perasaanku.”

“Memangnya apa, hyung? Apa yang bisa lebih buruk dari pengalamanku?”

“Aku menyukai seseorang. Sudah sangat lama, jadi kami sudah sangat dekat. Kita sering bicara, bermain, dan segala macam aktifitas. Tapi, dengan bodohnya dia bahkan tidak sadar ada yang menyukainya, dan itu aku. Ha.”

“Ya, hyung. Aku baru ternyata hidupmu semenyedihkan itu. Aku turut berduka cita.”

Kita bahkan sudah pernah mandi bersama dan kau masih belum sadar. Kau tidak sungguh-sungguh berduka cita, Byunghun.

Di lift, permenku habis. Dorm ada di lantai yang cukup untuk dibilang tinggi, jadi butuh lebih dari empat menit untuk mencapai lantai keberadaan dormku. Tentu saja sepi, sudah setengah satu dini hari. Cukup canggung di lift. Ketika sudah hampir sampai, entah apa yang menggerakkan diriku untuk berbisik, tidak jelas untuk siapa—untuk Byunghun kah? Untuk diriku kah?

“Sebelum kau berharap orang menjadi peka, lihatlah dirimu—cukup peka kah?”

∞FIN

Hehet, spesial chunji pov lhoooo~ Gimana, gimana? Yah, ini sebenernya chapter empat tapi dari pov nya chunji. Dan ini gay banget ga sih? Aku aja mual sendiri ngetiknya. Tapi, seru juga ngebayangin bahwa love story nya Chunji sengenes ini kan bahagia gitu ada orang ngenes~

And anyway, mind to review?

Zyan

Advertisements

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s