Title : Our Life | Cast : EXO’s Oh Sehun | Length : Chaptered | Genre : fail!Action, Idol life |  Rating : 13+ (PG)

***

“Today’s Music Bank winner is…”

“Yes! EXO, congratulations! Please say some words.”

“Thank you for giving us…”

“Hyung!”

Jongup berteriak dari depan kamar, menyebabkan Himchan memutar kepalanya penasaran. Ia mendatangi si bungsu palsu tersebut dan melihat yang dimaksud sedang berdiri di depan pintu kamar dengan postur shock.

“Heung?”

Ia melihat dari belakang leher Jongup. Sesuatu tergeletak di lantai.

“Apa itu?”

Segera setelah ia menyamai posisinya dengan Jongup, matanya menyaratkan shock.

Yongguk.

“Haaaaaaah, tadi itu menyenangkan. First win kita ‘kan? Aku senang sekali. Suho hyung sampai menangis. Acara tadi itu hanya sebuah pembukaan untuk jalan kita menuju karir internasional. Aku yakin kita akan terkenal hingga pelosok Amerika sekalipun.”

Berisik sekali. Aku masih tidak mengerti kenapa Kai suka sekali bicara pada dirinya sendiri. Tapi, memang tadi salah satu moment terbaik EXO. Hey, first win bukan suatu hal yang sepele, ‘kan?

‘Wolf’ memang lagu yang lumayan, untukku. Koreonya juga tidak terlalu sulit. Dan ini album pertama, ya ‘kan? Ini sesuatu yang besar untuk kita. Yah, Suho hyung tidak sepenuhnya salah ketika menangis habis–habisan tadi. Momen tadi itu seharusnya menjadikan kita semua sentimental. Bahkan Chanyeol hyung berusaha keras untuk mengambil alih pidato Suho hyung. Kecuali diriku, semua menerima luapan emosi yang besar.

Aku mandi. Akhir–akhir ini aku suka mandi. Aku tahu. Mandi tidak bisa dikategorikan hobi. Tapi, aku suka. Yah, kau tahu ‘kan, perasaan ketika air hangat menyapu seluruh tubuhmu. Atau ketika busa menutupi permukaan kulitmu dengan lembut. Atau sekedar sensasi yang ditimbulkan uap hangat sisa mandi ketika kau sedang mengeringkan tubuh. Ayolah, aku tahu kau juga suka.

Soojin selalu memenuhi bagian lain dalam otakku selain mandi. Yep, Soojin. Mungkin ada seorang cenayang yang membuatku terpaksa memikirkan dirinya terus menerus. Tapi, sejujurnya aku tidak membenci hal itu—tidak juga menyukainya.

Insiden first kiss itu menjadi berita panas di dorm selama beberapa hari. Tidak sampai sebulan, tapi cukup untuk membuatku panas. Hyungdeul, kau tahu mereka. Ketika maknae mengambil suatu tindakan dewasa, dan mereka akan terus menggodamu seperti… yah, kau tahulah. Dan parahnya, karena ini first kiss, bukan hanya Chanyeol hyung atau Baekhyun hyung. Bahkan D.O hyung. Dan Lay hyung. Memangnya kenapa, sih? Mereka iri? Atau karena memang karena tindakan itu terlalu cepat untuk anak seumuranku?

You’ve got a message.

Huh? Siapa yang mengirim pesan pukul segini?

Soojin Yun : Selamat! First win!

Ok, entah kenapa, hanya Yun Soojin yang berhasil membuat kupu–kupu kasat mata merasuki perutku dan membuatku geli, sekaligus tertawa seperti ini pada tengah malam seperti ini. Dan jujur saja, mungkin aku akan mengambil screenshot dari pesan itu.

Hyung, kau betul – betul tidak apa – apa? Ujung bibirmu mengeluarkan darah banyak sekali.”

“Tidak apa – apa. Aku perlu membersihkannya saja, lalu kuplester. Daehyun, tolong ambilkan kapas basah dan plester. Ah, juga alkohol.”

“Tapi, hyung, ini parah. Berani–beraninya mereka melakukan ini untuk kita. Kita harus beritahu manager hyung.”

“Jangan, Himchan. Jika manager hyung tahu, seluruh dunia entertainment akan tahu juga. Kau tahu dia.”

“Kau benar, hyung. Tapi, lukamu tidak akan sembuh jika hanya dicuci dan diplester. Lagipula, plester sebanyak apa yang akan menutupi wajahmu? Apa tidak akan terlihat aneh?”

“Biar sajalah. Yang penting rencana balik sudah siap.”

“Ah, ya. Aku baru ingat, hyung. Jadi, kau gunakan sekarang?”

“Ya, secepatnya.”

“Kau mau… keluar lagi, mungkin? Kapan–kapan?”

Hening. Suara di seberang tak kunjung datang hingga satu menit terlampaui. Kemudian, suara lembut yang membuat pemuda itu menghembuskan nafas lega, terdengar.

Yah, tentu saja, jika kau tidak sibuk.”

“Minggu ini mungkin? Setelah ‘SBS Inkigayo’?”

Tidak apa – apa. Pukul berapa?

“Eung… ‘SBS Inkigayo’ pukul 15.30, jadi… Aku ke rumahmu pukul lima sore.”

Ya. Terima kasih. Aku harus tutup dulu.

“Tidak apa–apa. Bye.”

“Bye.”

Beep.

Nafas lega, jelas terdengar keluar dari bibir tipis Oh Sehun. Dan dengan alasan acak, ia tersenyum. Selanjutnya, kenop pintu kamarnya terputar cepat, dan terbuka, memperlihatkan sosok raksasa Chanyeol—hyung paling tidak dewasa di dunia.

“Yaaaaaaaa, bungsu kita! Kau mengajaknya keluar lagi, eh? Baek, kemari! Dengar, ia ingin keluar lagi!”

“Eeeeeey, Sehunnie. Kencan lagi? Jangan macam – macam, dengar? Kau masih terlalu kecil untuk ‘itu’!”

“Dengar, Baek. Kita harus membantunya memilih baju untuk nanti! Juga hair-do untuknya.”

“’Ahhh, tidak. Aku tidak tahu harus pakai apa! Yang merah, atau yang biru? Aduh, rambutku belum ditata!’ Kau tahu Yeol, itu mungkin kata – katanya untuk beberapa bulan ke depan.”

Sehun bergeming dengan tindakan anti-klimaks dua hyung paling idiot itu. Ketika tawa raksasa bass Chanyeol dan tawa nyaring Baekhyun melebur, membuat suasana dorm jauh dari kata sepi dan damai pada malam hari. Ia berdiri, dengan niat bertanggung jawab mengembalikan kedamaian dorm.

“Keluar, hyung. Sudah malam, diam. Besok saja.”

Kedua makhluk yang tidak memiliki kata ‘diam’ dalam kamus mereka itu, masih tertawa sembari berjalan beriringan ke kamar mereka. Mereka tahu Sehun ada benarnya. Dan mau–tidak mau, mereka harus diam secepatnya sebelum Sehun melapor pada Suho Hyung dan berakhir dengan diusirnya mereka keluar dorm. Dan itu berarti juga mereka tidur di luar.

Sehun, yang merasa puas, duduk lagi di kasurnya. Suho Hyung belum selesai mandi—mungkin ia mandi dua kali dan berendam, pikirnya. Sementara hyungnya masih belum rela berpisah dengan mandi, pikirannya belum mau berpisah dengan Yun Soojin.

Memang mereka tidak membesar–besarkan ketika berkata ‘First kiss? Pasti akan kau ingat, makanya jangan mencium sembarang orang.’ Dan ia merasa memiliki Yun Soojin sebagai first kiss-nya tidak terlalu buruk. Yang terbaik yang bisa ia dapat, mungkin.

Ya.”

Sehun menggerakkan otot–otot lehernya, memutar kepalanya beberapa derajat untuk menatap Suho hyung yang akhirnya keluar dari kamar mandi. Hyungnya jelas masih berusaha mengeringkan rambutnya, sementara terus saja langkahnya menuju bungsu boybandnya itu.

“Kau… mau keluar lagi?”

“Heum.”

Sehun tahu, bagi mayoritas remaja, keluar atau yang biasa disebut date sering membuat mereka tidak keruan. Mengapa? Karena macam – macam. Memikirkan apa yang harus dipakai; harus pergi kemana; apa yang akan mereka lakukan; atau hanya memikirkan apakah yang diajak mau pergi keluar lagi dengannya.

Tapi, Sehun tahu dirinya memiliki perbedaan yang teramat besar dengan mayoritas remaja pada kelompok tersebut. Mulanya ia berpikir ia tidak normal. Tapi, pada akhirnya ia menyadari ia hanya menjadi dirinya. Toh, Yun Soojin tidak benci padanya karena ia menjadi dirinya.

Sehun hanya memikirkan betapa beruntungnya ia bisa menjalani kehidupannya dengan hal–hal yang ia sukai. Dengan EXO, dengan keluarganya, dengan karirnya sebagai entertainer, dengan Yun Soojin.

“Jangan macam – macam, eoh?”

Keheningan dipecah dengan kalimat yang meluncur dari bibir tipis leader EXO-K itu. Sehun berpaling, berbaring, lalu menyelimuti dirinya sendiri. Ketika ia tahu hyung satu itu sudah duduk di kasurnya—tidak mengharapkan jawaban dari si bungsu itu—ia berbisik agak keras.

“Aku tidak bisa berjanji.”

Selanjutnya, gelak tawa dari dua pemuda itu memenuhi ruangan.

Mengendap–endap—itu yang sedang dilakukan pemuda dengan rambut pirang dengan sedikit warna pink lembut pada surainya. Dengan jelas, terdapat bat dari kayu di tangannya yang mengenakan sarung tangan.

Pintu tua dari besi itu berayun untuk kesekian kalinya dengan lembut dari tangan pemuda itu. Jelas ia memutuskan untuk menunggu, ketika disandarkannya tubuhnya di meja tua yang terletak di pinggiran ruang gelap itu. Masa tunggunya berakhir, ditandai dengan terdengarnya tawa beberapa orang dari luar ruangan, juga postur tubuhnya yang kembali tegap dengan bat yang kembali mantap bertengger di pundaknya.

“Bagaimana latihan kalian hari ini? Aku harap, kalian belum terlalu lelah untukku,” begitulah kalimat sambutan yang diutarakannya untuk tiga pemuda yang baru memasuki ruangan

Dan bisa dibilang, kalimat tersebut terlampau sukses membuat tiga pemuda tadi membulatkan mata.

Ya, Sehun! Kau kenapa? Apa yang—astaga! Kalian—Kai, Tao! Jelaskan!”

Myungsoo, leader komplotan mereka yang biasanya memilih untuk stay cool, kali ini tidak diam saja, melainkan meminta penjelasan untuk beberapa lebam, darah kering juga luka yang menghiasi sekujur tubuh tiga anggota paling muda EXO. Menunduk adalah hal yang mereka kira paling tepat dalam situasi ini.

Tao adalah yang pertama membuka mulut. Dari perjalanan mereka menuju markas nista komplotan mereka, alasan yang membawa mereka ke sana, dan pelaku semua ini.

“Apa? Siapa katamu pelakunya?”

Tao memutar matanya, tampak lelah dengan semua yang dilaluinya hari ini.

“Kau tidak salah dengar, hyung. Lee Byunghun Teen Top. Kalau kau tidak tahu, pasti kau tahu, kau pasti tahu nama panggungnya—L.Joe.”

“We’re Hurricane, We’re Hurricane, We’re Hurricane, Hurricane, I’m Hurricane!”

 

“Wah, tadi itu hebat sekali.” Pemuda bersuara emas di tengah kerumunan itu membuka pembicaraan.

“Ya, Daehyun-ah. Tadi kau hampir menabrakku. Kau tidak dengar aku berbisik padamu untuk menyingkir ‘kan?”

“Hehe. Toh aku tidak menabrakmu, Jae.”

Masih dengan cengiran tolol di wajahnya, Daehyun mendongak, merasa sentuhan ringan di bahunya.

“Ya, hyung. Kenapa?”

Yongguk, dengan air mineral di tangan, berbisik, “Kau mengurusi L.Joe dengan baik ‘kan?”

Hyung, kau percaya aku atau tidak?” jawabnya mempertanyakan kepercayaan sang leader.

Agak sulit kadang membungkam Yongguk seperti ini. Tapi, kali ini sepertinya mudah – mudah saja.

“Terserah.”

Seiring dengan berbaliknya sang leader, Daehyun berbisik, “Rasa tanggung jawabku tinggi, hyung—kau tahu itu.”

“Ah, sekalian. Sekarang tanggal?”

“Dua puluh tiga November, hyung. Mereka tidak akan bisa, comeback mereka tinggal dua minggu lagi—sembilan Desember.”

“Kita harus bicara pada manager, choreographer, pada semuanya. Comeback bisa berantakan jika kita malah diam seperti siput begini.”

Suho membuka suara. Yah, dia ada benarnya—dia selalu benar. Sehun, Kai juga Tao di lain pihak hanya bisa setuju. Tidak mungkin comeback tertunda hanya karena berandalan itu ’kan?

Pukul tujuh malam, mereka berkumpul lagi di tempat yang sama. Tiga orang yang cedera sudah siap di tempat, dengan topeng cemas. Tidak lama—tentu karena mereka berangkat bersama—semua sudah di sana.

“Jadi, tiga dancer kalian cedera. Benar?”

“Ya.”

“Jadi kalian tidak bisa comeback dengan dance pada MV.”

Hening ketika manager dan para pengatur comeback yang lain berpikir. Memang bukan hal enteng jika rencana yang matang hancur, bukan? Pikirkan saja. Memang ini harus dipikirkan, tapi ini melelahkan. Setidaknya itu isi kepala Oh Sehun.

“Ah.”

Luhan menegakkan punggungnya yang tadinya bersandar pada sofa dengan ‘ah’ keluar dari bibirnya. Sontak—karena pasti semua orang begitu—semua menatap Luhan.

Hyung, bagaimana jika lagu utamanya diganti saja?”

“Maksudnya?”

“Lagu utama yang ditetapkan ‘kan ‘The Star’. Kita ganti dengan ‘Miracles In December’. Lagu itu termasuk slow, jadi kita tidak perlu melakukan dance. Hanya D.O, Baekhyun, Chen dan aku. Bagaimana?”

Semua yang ada dalam ruangan berpikir sebentar sebelum akhirnya setuju. Dan ketika sudah berpikir, berembuk dan mempertimbangkan semua hal, direktur membuka mulut.

“Ya, semuanya sudah setuju. Mulai hari ini, kita lebih fokus ke ‘Miracles In December’.”

Sehun melemaskan punggungnya. Setidaknya bukan ia yang perlu bekerja keras untuk comeback kali ini. Setidaknya semua tidak akan bekerja terlalu keras, karena ini hanya mini album. Tapi, bukan berarti ia bisa bersantai seperti rumput ilalang. Ia juga harus menyelesaikan beberapa masalah. Terutama yang berhubungan dengan L.Joe dan semua hal itu.

Setelah akhirnya semua selesai (Sehun bersyukur bahwa acara itu masih bisa selesai), ia langsung menuju dorm. Dimana semua penatnya akhirnya bisa ia lepas semaunya. Ketika akhirnya ia memakai baju yang menurutnya terbaik—untuk tidur, tentu saja— ia masuk ke dalam selimutnya.

Tertidur?

Tidak. Sehun bukan bocah 17 tahun yang jika merasa lelah bisa dengan sekenanya terlelap. Ia berpikir (bukan, bukan tugas kuliahnya). Ia memikirkan banyak hal di luar itu yang lebih penting.

Ia memikirkan EXO.

Ia memikirkan L.Joe.

Ia memikirkan apa yang Myungsoo pikir tentang dirinya dan Tao, dan Kai.

Ia juga memikirkan Soojin.

Ia hanya tidak mengerti tentang kenapa L.Joe menyakiti mereka. Ia tidak sebodoh itu—kita semua tahu. Tapi, ia tidak mengerti, apa motif si L.Joe itu. Ia tidak memilik hubungan apa – apa ‘kan, dengan EXO? Jadi maksudnya semua itu apa? Pikiran-pikiran tentang semua itu dengan seketika mencandu jaringan otak Sehun.

Sehun membalik posisi tidurnya, resah. Setelah dirinya setengah terlelap, pikirnya menggapai satu titik yang membuat semuanya masuk akal.

B.A.P.

∞To be continued

Holaaaah semuanya~ Aduh gakerasa udah 5 chapter ajah~ Udah tinggal dua lagi dan semua berakhir… Btw, Ini hari peringatan peristiwa G30SPKI lho~ (gatau gimana ngejanya dan kenapa ngomongin ini).

As always, comment always appreciated~

Zyan

Advertisements

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s