Title : Our Life | Cast : EXO’s Oh Sehun | Length : Chaptered | Genre : fail!Action, Idol life | Rating : 13+ (PG)

***

Ia mendatangiku.

Astaga.

Tidak.

Tidak boleh lihat matanya.

Lho, memangnya dia Medusa?

Sebuah jari lentik mencolek pundakku.

“Ya?”

Ternyata Oh Sehun.

“Nomormu.”

Aku mencerna kata singkatnya untuk beberapa detik dan masih tidak mengerti.

“Hah?”

“Nomor handphone-mu. Aku memintanya.”

Untuk apa?

“Ya. Ini.”

Kusodorkan secarik kertas berisi angka – angka kepadanya. Ia membacanya sebentar dan menatapku.

“Terima kasih.” Dan ia tersenyum.

Ia tersenyum kepadaku.

Kurasakan sesuatu bergetar dari dalam tasku. Telepon masuk. Nomor siapa? Aku mengangkat handphone mendekati telingaku.

“Ya?”

Aku, Sehun. Simpan nomorku untuk lain kali.”

Telepon terputus.

Sehun menelepon dan menyuruhku menyimpan nomornya.

Apa?!

“Kenapa diam saja?”

Gadis itu menoleh pada pemuda di sampingnya. Ia tersenyum. Senyuman yang indah sejujurnya, tapi agak canggung.

“Tidak apa–apa.”

Pemuda itu menutup bukunya kasar dan membuat tubuhnya sedikit santai dengan agak bertopang dengan kedua tangannya.

“Ganti baju, cepat. Kasual tapi sopan.”

“Untuk apa?”

Pemuda itu menatapnya dingin dengan kesan tidak suka ditanya seperti itu.

Segera gadis itu meniti langkah menuju tempat pakaiannya disimpan. Ia membuka daun pintunya dan berpikir. Setelah ia tersentak dan mengambil pakaian yang dipikirnya tepat, ia memegang ujung T-shirt-nya, hendak menariknya ke atas hingga terlepas.

Tangannya terhenti ketika ekor matanya mendapati pemuda tadi masih di ranjangnya. Ia menatapnya dengan tatapan tidak nyaman.

“Sehun-ssi,” pemuda itu menengok ke arah gadis yang memanggilnya.

“Tolong keluar. Aku ingin ganti baju.”

“Kenapa?”

Gadis itu berwarna merah sekarang—kentara sekali dibanding kulitnya yang sebelumnya pucat.

“Kau laki – laki, Sehun-ssi.”

“Jadi? Kenapa aku harus keluar? Waktu itu aku bahkan tidak menyuruhmu jangan melihat. Kenapa kau mengusirku sekarang?”

“Sehun-ssi, tolong, keluar sekarang.”

“Aku di sini saja. Malas berjalan.”

Lalu pemuda itu dengan acuh menutup matanya dengan tangan.

“Sehun-ssi, darimana aku tahu kau mengintip atau tidak?”

Lelaki itu tersentak sedikit.

“Sehun-ssi, darimana aku tahu kau mengintip atau tidak?”

Sial, niatku tertebak.

Hehe.

Aku sedikit memutar posisi tubuhku ke kanan, hanya meyakinkan ia bahwa aku tidak melihat.

Mungkin karena ruang ini begitu kecil dan sepi, aku dapat mendengar kausnya bergesekan dengan kulitnya.

Entah, aku tidak bisa melihat wajahku saat ini. Tapi yang jelas, aku merasa ada aliran panas dari telinga kanan, melalui kedua mataku menuju telinga kiri, ketika aku membayangkan Soojin. Membayangkan ia melepas kausnya dan celana pendek yang ia kenakan ketika aku datang barusan. Kulitnya yang putih susu, tubuhnya yang kecil ramping, ukurannya yang lumayan…

Aku tergoda untuk membuat celah kecil dengan jariku agar dapat melihat ke arahnya.

Tidak!

Tidak boleh!

Aku memejamkan mataku lagi kuat–kuat.

“Kau sudah boleh membuka matamu.”

Ia berkata—lebih seperti berbisik—padaku dari jauh. Aku melepas tanganku dan membuka pejaman mata. Ia masih di sana, dengan penampilan berbeda. Ia sudah mengganti pakaian rumahnya dengan gaun biasa berwarna milky pink.

Ia berjalan menuju meja riasnya. Sikat rambut dengan lembut menyikat rambut tembaganya.  Ia mengambil seuntai karet untuk menguncir rambutnya untuk tetap dalam kepang rumitnya setelah sekian lama mengepangnya.

Diambilnya tas tangan kecil putihnya dan flat shoes warna pink pastel. Ia memasukkan beberapa barang ke dalam tas tangannya, lantas menatapku.

“Ayo. Aku sudah siap.”

Aku berdiri, dan mengikutinya keluar kamar kecil nyaman miliknya. Ia sampai di ambang pintu lebih dulu daripada diriku. Ia berhenti dan mengenakan sepatunya. Setelah berdiri lagi, ia menatapku.

Tawa ringan keluar dari pita suaranya.

“Kau menyuruhku berdandan. Tapi, kau sendiri malah terlihat sekusut pengangguran.”

Aku menatapnya intens.

Aku menyukai eye smile-nya.

Aku menyukai suara tawanya.

Aku menyukainya.

Aku pura–pura tertawa canggung. Teringat ada beberapa baju ganti di mobil pinjaman dari L, kubuka bagasi. Ah. Ada selembar blazer biru muda dan kaus hitam yang lumayan. Tergeletak body spray milik L di samping semua itu. Aku mengendus sedikit kaus putih yang melekat di tubuhku sekarang. Kebetulan sekali—aku sudah bau.

Aku mengeluarkan semua itu dan kuletakkan di atas kap bagasi yang tertutup. Aku melepas kausku. Malam ini dingin sekali. Angin menusuk hingga ke tulang ketika kulitku terkena sentuhannya. Aku membuka kap lagi, mengeluarkan handuk hitam dari dalamnya dan mengeringkan seluruh tubuhku dengan handuk itu. Setelahnya, kuletakkan bersama benda lain di atas kap.

Aku teringat.

Masih ada Soojin di sampingku.

Kutolehkan kepalaku, memastikan ia memang masih di sana atau tidak.

Ia masih di sana. Menatap tato hitam di pinggang kananku, seperti patung. Ia terkejut mungkin, baru pertama kali melihat idol sepertiku, tidak terlalu memikirkan image-nya.

Kelewat cepat, kupakai kaus hitam tadi dan blazer biru mudanya. Dan dengan tidak peduli, menyemprotkan body spray di beberapa bagian tubuh.

“Selesai. Ayo.”

Aku masuk melalui pintu kanan—tempat duduk pengemudi. Aku lupa. Seharusnya aku membukakan pintu untuk Soojin dulu. Tapi, ia sudah terlanjur masuk. Jadi kumasukkan kunci mobil ke lubangnya, dan mengeluarkan mobil pinjaman dari L ini dari halaman parkir rumah keluarga Yun.

Baru setelah sekitar tiga ratus meter dari rumahnya, Soojin memulai percakapan.

“Jadi, kita mau kemana, Sehun-ssi?”

“Dengar.”

Pemuda dengan kulit eksotis itu berkata dengan nada tidak sabaran.

“Aku sudah bilang. Aku orang yang tidak suka—sangat tidak suka, membuang–buang waktu. Jadi, katakan saja sekarang. Karena tidak mungkin aku tidak mendapat jawaban darimu, entah cepat atau lambat. Tapi, karena aku tidak suka membuang waktu, katakan saja sekarang.”

Hening menyeruak. Pemuda tadi memutar kepalanya tidak sabaran. Ia berdiri dari sebuah peti hitam tempatnya berjongkok sebelumnya, dan menghampiri pemuda yang diajaknya berbicara beberapa detik lalu.

“Bang Yongguk.”

Lalu pemuda itu tertawa kecil—mengejek.

“Kau tahu? Aku selalu merasa geli. Tubuhmu yang besar itu, kenapa tidak bisa menahan kami saat itu. Mungkin otot–ototmu itu besar karena dipompa,” lalu ia tertawa lagi pada leluconnya. Segera setelah dapat mengontrol tawanya, ia menuju ke hadapan Yongguk.

“Kalau kau lupa pertanyaannya, biar kuulangi—mau kau apakan Tao? Apa rencanamu selanjutnya?”

“Itu saja?”

“Ya.”

“Terima kasih.”

Pelayan mungil itu pun pergi. Aku masih menatap Soojin. Aku masih tidak mengerti. Matanya masih memancarkan rasa penasaran terhadapku. Tapi, yang membuatku lebih bingung, rasa takutnya pada waktu yang bersamaan padaku. Kenapa, sih? Ia berpikir aku akan bertindak macam–macam?

“Kau ingin langsung pulang atau bagaimana setelah ini?”

Ia menjawab sambil tersenyum kecil.

“Mungkin jalan–jalan sedikit akan menyenangkan.”

Entah, tapi senyuman tadi seperti menggodaku untuk tersenyum juga.

Setelah makanan kami sampai, ia tetap diam. Aku menunggunya makan duluan, tentu saja, sebagai laki–laki yang sopan. Tapi ia tidak memulai–mulai juga. Akhirnya, ia membuka mulut.

“Kenapa kau tidak makan, Sehun-ssi?”

“Kau duluan saja.”

Ia tersenyum lagi dan segera memegang garpunya.

“Kau. Kalian bajingan!”

“Oh, ya? Siapa yang memulai kalau begitu, kutanya?”

Hening.

“Begini. Biar kuberi tawaran. Kau jawab sekarang juga. Atau kuculik satu persatu membermu atau kau jawab sendiri.”

Yongguk—yang ditanya—memaki Kai—yang mbertanya.

“Sampai kapanpun juga, kau tidak akan mendapat jawabannya, bocah hitam!”

Kai menghampiri Yongguk dengan cepat.

“Hey, dengar. Tidak ada di antara kami yang menginterogasi lebih baik ketimbang diriku. Jika kau tidak bisa memberi jawaban, apa susahnya memaksa yang lain.”

“Brengsek. Sialan kau, Kim Jongin!”

“Terima kasih. Selamat datang kembali.”

Angin berhembus kencang ketika kubuka pintu restoran. Soojin keluar lebih dulu dariku. Aku baru mau menuju mobil ketika ia menegurku.

“Mungkin kita jalan–jalan dulu, Sehun-ssi.”

“Oke.”

Memutar balik arah, aku menghampiri Soojin yang sudah terlebih dulu berjalan di trotoar. Segera setelah aku berhasil menyelaraskan langkahku dengan langkah kecilnya, hening menusuk. Tapi, entah kenapa, aku justru merasa ini hal paling mendekati intim yang pernah kulakukan dengan seorang gadis.

I’m literally hanging out with a girl.

Aku masih memikirkan hal–hal tidak masuk akal dalam otakku hingga Soojin menghembuskan napas.

“Malam ini indah. Sayang dingin,” dan tertawa untuk diri sendiri.

“Bodoh sekali aku tidak membawa jaket.”

Aku menunduk. Kasihan sekali dia. Tapi, aku tidak bisa—

Hey!

Segera kulepas blazer biru mudaku, meski itu artinya membiarkan angin menggigitku seenaknya. Kusampirkan blazer itu di pundaknya.

“Sehun-ssi, yang benar saja. Kau tidak—“

“Tidak apa – apa. Makanan tadi cukup untuk membuat diriku hangat.”

Aku tetap berjalan. Menggosok – gosokkan tangan keluar masuk saku mungkin membantu. Sedikiiiit membantu.  Aku menoleh, menatap wajahnya.

Setidaknya ia tidak apa – apa.

“Euh…” aku mulai mengeluarkan suara.

Ia menoleh, menatapku lekat – lekat.

Well, begini. Kebanyakan laki – laki menyukai ketika seorang atau banyak gadis memperhatikannya. Tapi, entah apa yang salah pada diriku. Ketika SNSD sunbaenim menatapku lekat–lekat, berkata bahwa aku imut, aku tidak merasa apa-apa. Ketika Amber menggandeng tanganku ketika penutupan saat konser, aku tidak merasa apa–apa. Ketika fans berteriak “Sehunnie, saranghaeyo!” aku tidak merasa apa–apa.

Tapi, Soojin berbeda.

Memikirkannya saja membuatku gila. Membuat darahku terasa seperti direbus. Membuatku merasa seperti mengenakan topeng yang membuat pipi, dan ujung–ujung kedua telingaku panas membara. Membuat jantungku seperti dipompa secara terburu–buru dengan paksa. Membuat diriku merasa bisa hancur, sekaligus meledak dalam cara apapun, kapanpun.

“Mungkin kau ingin bermain Truth Or Truth.”

“Oh, aku sering mendengar nama permainan itu. Bagaimana cara bermainnya?”

Aku menatapnya. Maksudku, benarkah? Gadis mana, di sekolahku setidaknya, yang tidak tahu cara bermain Truth Or Truth. Setidaknya sekarang aku tahu siapa.

“Bagaimana ya…” aku bingung menjelaskan permainan itu.

“Begini, lawan mainmu akan bertanya sesuatu—apapun itu. Dan kau harus menjawab pertanyaan apapun yang diajukannya dengan sejujur–jujurnya. Mengerti tidak?”

“Hmm… boleh kucoba dulu tidak? Agar aku tambah mengerti.”

“Tentu, tentu. Silahkan.”

“Hmmm… Aku belum tahu, siapa saja sahabat – sahabatmu.”

Pertanyaan itu tidak terlalu sulit.

“Sebenarnya, dalam pikiranku tidak ada. Tapi, jika komplotanku bisa disebut sahabatku, maka mereka.”

“Siapa?”

Ha, dia tidak tahu? “Myungsoo, Kai, Yoseob… Dan lainnya.”

Ia membuka mulutnya sedikit, dan terdengar bisikan ‘ah’ panjang lolos darinya. Giliranku.

Dan seterusnya, permainan berlanjut terus hingga tidak terasa. Mungkin kita sudah berjalan sejauh satu kilometer dari tempatku menaruh mobil.

Kami terus berjalan. Hey, tidak pernah sebelumnya kurasakan senyaman ini dengan jangka waktu sepanjang ini sebelumnya. Hubungan paling baik kumiliki hanya dengan Luhan Hyung.

Gadis ini sebenarnya hangat. Tapi, apa yang menghalanginya untuk berperilaku seperti ini di sekolah? Atau dia berperilaku ganda? Hehe, bercanda.

“Oke, giliranku sekarang.”

Pertanyaan yang kupikir mungkin terlalu private. Tapi, masa bodohlah.

“Kalau boleh, aku ingin bertanya. First kiss?”

Ia tersentak. Mungkin itu pertanyaan yang sangat tidak pantas.

Euh… Maaf, tidak usah—“

“Belum ada.”

Kali ini, aku yang tersentak.

Belum ada?

Oh ayolah, Oh Sehun. Gadis seperti dia bahkan tidak mungkin pernah dekat dengan lelaki. Apalagi memiliki first kiss.

“Kau sendiri?”

Aku baru mau membuka mulut untuk protes, ketika ia melanjutkan cepat.

“Itu pertanyaan untuk giliranku kali ini.”

Oke, kuakui, ini memang memalukan. Tapi, ini T.O.T., ‘kan? Memalukan atau tidak, tetap harus dijawab.

“Belum juga.”

Aku pura–pura mengalihkan pandangan darinya dengan sok menatap toko–toko atau bangunan kecil yang kami lewati.

Pertama, kukira ia akan menatapku tidak percaya dan terus diam sepanjang perjalanan. Ternyata tidak. Ia tertawa.

Iya, tertawa.

Aku tidak pernah suka tawa suara orang yang merendahkan. Tapi, entah kenapa, tawa yang merasuk ke dalam gendang telingaku kali ini, jauh dari kesan merendahkan. Ia tertawa dengan perasaan… Entah, geli, mungkin?

Oh, come on. Jika yang mengetahui ini bukan Soojin tapi fans, kau mati. Mereka akan mati – matian mencuri first kiss-mu. Jangan bilang kau lupa ada makhluk bernama sasaeng fans di dunia ini.

Ah, betul juga. Terkadang aku tidak mengerti, kata hatiku jauh, jauh lebih pintar dari otakku. Tapi, ide–ide dan masukkan dari kata hatiku akan muncul jika aku sudah bertindak bodoh. Sial.

“Kau selalu penuh kejutan, Sehun-ssi.”

“Maksudnya?”

Dan kau selalu membuatku berpikir keras, Soojin-ssi.

“Tentang tatomu, sahabatmu. Dan kali ini, kau berkata belum memiliki first kiss.”

Aku menelan liur. Ternyata diriku sememalukan itu.

Aku memutar pergelangan tangan, menatap jam yang terbalut di sana. Pukul sebelas malam kurang lima belas menit.

“Mungkin sebaiknya kita pulang.”

Oh no, maybe we should walk a couple of mins more.

Tidak, dia gadis, dan ini sudah malam.

Oh, so what? Kau akan menyesal nanti, bodoh.

Setidaknya aku orang yang bertanggung jawab.

Kenapa ada perang batin di saat seperti ini?! Terkadang suara hati membuatku susah sendiri. Kalian tahu beberapa saat ketika aku diam saja, seperti saat fansigning? Saat–saat seperti itu adalah saat–saat batinku mengajak ribut di saat yang hampir selalu tidak tepat.

“Ya, ayo.”

Aku berjalan lambat–lambat. Aku tidak mengerti, kenapa Soojin bersemangat sekali pulang. Aku menatap kejauhan. Hey, Sungai Han terlihat dari sini. Dan itu, lebih jauh lagi, Namsan Tower. Dan lebih ke samping, Lotte World. Mataku hebat sekali—bisa melihat hal–hal seperti itu dari jauh.

Suara langkah kaki mendekatiku. Aku menatap depan lagi. Kenapa Soojin berbalik?

“Cepat, Sehun-ssi.”

Sesuatu yang ramping, putih dan dingin mencengkeram pergelangan tanganku. Apa itu

Kataku terhenti ketika menyadari sesuatu itu tangan kecil milik Soojin yang menarikku. Ia memalingkan mukanya—entah sengaja atau tidak. Tapi, entah—mungkin kulitku agak error atau kebas karena terlalu terekspos angin malam—terasa seperti ada aliran hangat dari kulitnya.

Aku memutar pergelangan tangan, berusaha mengganti posisi.

Assa!

Tangannya sekarang berada dalam genggamanku. Ia menatapku. Dan entah—sekali lagi, entah—angin apa yang menendang kepalaku hingga aku menatapnya juga. Aku merasa tidak benar. Serius. Aku merasa jantungku seperti habis digunakan untuk marathon.

Aku menatap toko di sampingku. Pura–pura adalah solusi terbaikku hampir di setiap saat. Aku tahu, pengecut memang. Memangnya jika kau di posisiku, apa lagi yang akan kulakukan?

Menatapnya balik? Well, lalu apa? Tatap – menatap seperti idiot?

Memulai percakapan? Apa lagi yang ingin kita bicarakan? Dan tenggorokanku sudah sangat kering.

Memeluknya? Tuhan, pikiran macam apa itu?

Aku merasa ada remasan kecil di tanganku. Aku menatap ke arah tanganku dan tangan Soojin yang terkait pada satu sama lain. Ujung bibirku mulai terangkat aneh. Aku menduga senyuman—tapi, aku tersenyum untuk apa?

Dan aku mulai merasa sangat ringan. Dan tanpa sadar, meremas lembut tangannya. Aku tidak tahu namanya apa, tapi sensasi menyenangkan yang menggelitik merasuk dengan kuat. Lalu, aku merasa ingin dunia melihat aku tersenyum lebar.

Tidak! Aku berubah menjadi idiot!

Tunggu, tapi, aku hanya merasa bahwa aku menjadi idiot jika bersama Soojn. Aneh tidak, sih?

Euh, Sehun-ssi. Aku rasa kau parkir di sana.”

Soojin menunuk ke arah agak dibelakang kami.

“Oh, ya.”

Aku berbalik dan menuju ke arah yang ditunjuknya. Akurat sekali tunjukannya, memang mobil L di sana.

Ha. Tindakan itu idiot tidak, sih?

“Ayo pulang,” adalah kalimat yang keluar dari mulut Soojin ketika aku dan dia sudah berada dalam mobil

Hyung, lihat.”

Yoseob menengok ke arah TV.

“Apa lagi?”

Hyung, serius. Lihat, cepat!”

Chunji mulai tidak sabar. Mengalah dengan setengah hati, Yoseob beranjak dari tempat duduknya.

B.A.P. hiatus?

Begitulah banner yang tertera pada berita tentang Kpop sore ini.

Kerumunan pemburu berita bergerombol di depan B.A.P., yang menyulitkan mereka untuk bergerak. Ketika akhirnya suasana hening, Himchan mulai berkata,

Kita akan hiatus. Tidak akan lama. Tapi kita berjanji akan comeback dengan lebih dari sebelumnya. Saranghaeyo!”

Selesai.

Hyung, berita ini maksudnya bagus tidak, sih? Maksudku, untuk kita.”

Chunji mengadu pandang dengan Yoseob. Bisa ia lihat dari kilatan di mata hyungnya, bahwa hyungnya sedang berpikir.

“Mungkin. Tapi, tergantung.”

“Tergantung apa?” sepotong pertanyaan keluar lagi dari bibir Chunji.

“Tergantung sejauh apa kita bisa menahan anak itu.”

Pada dua kata terakhir di kalimatnya, Yoseob mengendikkan dagu ke seberang ruangan.

“Maksudmu, Zelo?” Chunji bertanya sambil menunjuk sosok pemuda yang menggantikan tempat Yongguk tadinya berada.

Zelo.

“Pulanglah. Sudah malam.”

“Tapi…”

Soojin berhenti.

“Hmm?”

Aku bergumam, bertanya apa yang ingin disampaikannya.

“Aku… Tadi itu menyenangkan. Terima kasih Sehun-ssi.”

Ia berbalik, menghadap pintu yang sudah terbuka. Kaki kanannya dikeluarkan ketika dengan tololnya aku mulai berucap lagi.

Euh, kalo boleh aku ingin…”

Ia berbalik lagi, menghadapku. Mungkin karena lupa memperhitungkan jarak, ia menjadi terlalu dekat.

Aku menelan liur.

Aku harus mundur—

Tidak, ini bukan waktu untuk menjadi pengecut!

“Aku ingin… kau memanggilku Sehunnie seperti waktu itu.”

“Hm.”

Ia menutup jarak. Aku bisa merasakan napasnya sekarang. Panas.

Aku mulai kerasukan lagi.

Aku mulai merasa sensasi lembut aneh yang jauh lebih kuat dibanding sebelumnya, ketika akhirnya memutuskan untuk menyentuh bibirnya dengan bibirku. Seluruh tubuhku terasa seperti diberi pasokan listrik yang cukup untuk membuatku menyala seperti semua lampu neon di bar di seluruh pelosok kota sepanjang malam.

Rasanya berbeda jika mengalami sendiri dengan menonton. Kukira biasa saja. Ternyata tidak. Ini jauh dari luar biasa malah. Aku merasa seperti dicekoki rasa bahagia hingga benar–benar meledak.

Ia menjauhkan kepalanya dariku. Dan aku mendengar, napasnya yang pendek – pendek.

Kehabisan napas.

Aku tersenyum. Itu first kissku.

It’s worth a first kiss.” Bisikku. Bukan padanya, untuk diriku sendiri.

“Iya. Terima kasih, Sehunnie.”

Aku tersenyum. Kata ‘Sehunnie’ terasa sangat pas di lisannya.

Ia maju dan memberiku kecupan ringan sebelum turun. Pedal gas turun ketika terinjak kakiku dengan tenaga luar biasa, membuat mobil yang kukendarai melesat.

Aku berani bertaruh, malam ini adalah malam terbaikku.

“Katakan, apa rencana kalian?” Kai—jelas dari suaranya—menginterogasi seseorang lagi.

“Aku tidak tahu! Hyung, hyung, tolong!”

Suara itu, adalah suara pertama yang menyesap ke telinga Sehun ketika dirinya memasuki ruang yang familiar baginya.

“Oh, ayolah. Kau tinggal bicara. Nanti kalau sudah, kau akan pulang ke hyungmu.” Ok, itu adalah kalimat paling merendahkan yang pernah Sehun dengar keluar dari mulut Tao.

Tawa mengintimidasi dari Kai dan Tao terdengar.

“Tapi, aku benar – benar tidak tahu!”

Sehun melangkah mendekati mereka bertiga.

“Belum berhasil?” tanyanya enteng.

“Anak ini keras kepala sekali, Hun.”

Sehun menutup matanya, berpikir. Dan sebelum keluar ruangan, ia berkata,

“Yaaah… mau apa lagi. Tunggu saja. Nanti ia akan bicara sendiri.”

∞FIN

Hahay~ /menari hula sejenak/ Gimana gimana episode sebelumnya??? Igeol daeteu-iyeyong~ Menurut kalian gimanaa~ aku penasaran~ /lalu dangdutan/ Anywaaaaayy comment juseyong~

Zyan

Advertisements

3 thoughts on “Our Life : Chap. III

  1. Halo zyan!

    Masih ingatkah aku? /pengen banget ya diinget/ tabok gue pake cintanya Mark plis/

    HAHAHAHAHA

    Iseng2 buka wp (app di hape) terus di beranda nemu blog-mu. Hihi :3 dan mampir lah kesini.

    Well sebelumnya maaf kalau aku mampir cuman basa-basi. Malah gak nge-review ceritanya. Tapi aku pengen bocorin sesuatu hal oke?

    Hahahahahahah

    Jadi aku suka sama fic movie contestmu! Menghibur sekali dan wowwww aku terpukau sama diksimu yang super enjoyable. Aku berharap sih kamu segera masuk jadi bagian IFK Fams. Karena well, komentarmu sangat lovely sekali dek :””)

    Dan makasih juga ya buat love-letternya. HAHAHA (maaf aku ngintip ada namaku disebut) :3

    Dan sedikit saran dariku.

    Hmm emang ini fanfiksi berbau korea zyan. Tapi menurutku kalau kita menghilangkan kosakata korea sepertinya jauh lebih enak dibaca ya :’) Bukan berarti tulisanmu jelek. NOO! Hanya mengutarakan pendapat kalau fanfiksi yg bahasanya 100% Indonesia itu lebih baik aja gitu kelihatannya. Hehe tapi overall diksi kamu bagussss! Lovely

    XX
    Sari. Maaf kalau spamming ya dek

    • KASARI
      KASARI
      YATUHAN KASARI KOMEN /terhura sejenak~

      Komen aku di IFK malah mungkin yang nge spam banget kaka:’) Merasa bersalah sama scriptwriter sana yang udah sabar banget baca review nggak berbobot yang aku tebar di sana beberapa bulan belakangan ini /ketawa jahatXD lol

      Diksi apaan kak yang ada di sana:’) Meski aku seline ama lais jagoan dia kali. Tapi makasih udah nyempentin baca kasari~ /terhura lagi

      Ngomong-ngomong soal ‘bau korea’, ada cerita sih dibalik semua hangul dan segala macamnya._. Ceritanya ini request temen aku yang kpopers akut yang entah kalo dia bisa dia udah tinggal di korea kali._. Dan setelah aku pikir ‘Wah, lumayan ni kalo di post di wp,’ aku melupakan bahwa ada sesuatu yang disebut NGEDIT ULANG. ya jadilah ga aku edit semua hangul dan bangsanya. SIP MAKASIH KAK NTAR AKU EDIT DAH~ Ngomong ngomong, kata kata ‘lovely’ kakak bikin aku pengen ngasih lope, nih ya~♥

      Sekali lagi, makasih kasari~♥
      Zyan

      • Hahaha xD zyan mah kamu bisa aja. Gak kok! Spam dari mana? Komenmu itu selalu bikin para SC semangat x) hihi oh jadi gitu toh kisah dibalik ficmu ini. Anyway, terlepas dari segala hal tsb diksi kamu memang sudah layak kok. Jadi jangan pernah minder ya. Teruslah diasah dan berkarya! ❤

        Btw zyan mau baca ficku yg ini gak? indofanfictkpop.wordpress.com/2014/09/26/ficlet-sewindu/

        Ada sesuatu pesan yg ingin kusampaikan disitu ^^

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s