Title : Our Life | Cast : EXO’s Oh Sehun | Length : Chaptered | Genre : fail!Action, Idol life | Rating : 13+ (PG)

***

Panel atap besi mobil terasa dingin di bawah punggung Sehun. Angin malam Seoul—hal favoritnya sejauh ini—membuatnya tertawa pelan dan rendah di dalam pikirannya. Mata lembutnya—yang biasanya bersinar tajam, menusuk—terbuka pelan, menatap langit mendung Seoul.

Sehun bukan orang yang seleranya dalam aliran mainstream. Ketika seseorang menyukai langit malam cerah, penuh bintang serta bulan penuh, ia tersenyum untuk langit malam kali ini. Langit mendung, favoritnya. Langit malam ini membuat pikirannya jernih dari kabut akan pikiran bahwa B.A.P. sialan itu membunuh Dongho—orang yang lebih dekat, bahkan lebih dari hubungannya dengan Kai, maupun Tao, atau L sekalipun.

Ia mengangkat kakinya, meluncur menuruni kaca depan mobil, dan menuju kap mobil. Ia berbalik dan menatap L—orang di dalam mobil tersebut. Tatapan lembutnya, terusir dengan munculnya ekspresi keras yang tiba–tiba mengambil alih raut wajah pemuda itu.

“Sudah hampir pagi, ayo pulang.”

Ia berputar—mematuhi ucapan hyungnya—, memasuki mobil itu dari pintu kanan. Hembusan nafas berat keluar dari dalam hidungnya bersamaan ketika ia menyenderkan kepalanya pada sandaran.

“Hari ini, hari apa?”

“Baru hari Sabtu, Hun. Tidurlah. Minggu aku punya rencana.”

Ia tertawa merendahkan.

“Kurasa… kurasa pikiranku tidak memungkinkan untuk membiarkan aku istirahat, hyung.”

Well, selama kau ada di pertemuan Minggu, it’s okay.”

“Ya?”

“Ini aku, Sehun.”

Bump!

Kurasa jantungku baru saja kabur dari tempat seharusnya berada.

Sehun?

Oh, telingaku pasti rusak.

“Halo, ada orang?”

Pintu depan terbuka.

Buat apa aku buka pintu itu?!

“Ya. Uh, Sehun-ssi, untuk apa kau ke sini?”

Mukanya sekali lagi menunjukkan ekspresi yang sama seperti yang terakhir kali ia tunjukkan di hadapanku—raut bingung.

“Uh, kalau kau tidak mau… aku bisa pulang.”

“Hah? Aku bukan mengusirmu. Masuklah.”

Ia masuk.

Ini pertama kalinya seorang laki – laki selain ayah masuk.

“Jadi…”

Aku menatapnya.

“…mana ibumu?”

Oke, jadi untuk apa ia ke sini? Sebenarnya? Ia datang, langsung masuk dan bertanya mana ibuku. Dan parahnya, aku tidak tahu mau menjawab apa.

“Euh, ibuku… tidak ada. Ke minimart, belanja.”

“Heung…”

Ia berputar.

“Kau mau melanjutkan tugas lagi tidak?”

Aku menganggukkan kepala kuat – kuat—rasanya kepalaku akan jatuh. Aku menuntunnya ke kamarku. Ini pertama kalinya aku membawa temanku ke kamar.

“Jadi? Mau mengerjakan di mana? Tidak ada meja di sini. Di mana kau biasanya mengerjakan tugas – tugasmu?”

Aku menusuk – nusuk ujung jariku sendiri dengan kuku ibu jariku.

Well, di kasur?”

“Ya sudah. Ayo. Aku harus pergi pukul 6 nanti.”

Ia membawa tasnya dan duduk di pinggir kasur. Mukanya terlihat tidak nyaman.

“Hey, kasur ini milikmu kenapa malah aku yang dengan nyaman duduk di sini. Cepat, ke sini!”

Aku berjalan dengan langkah – langkah kecil. Ia turun dari kasurku dan menarik tanganku—menarikku menuju kasur. Ia duduk di hadapanku, dengan wajah flawlessnya yang tampak frustasi.

“Nah. Ayo kerjakan.”

Sebaiknya aku tidak pingsan untuk 3 jam ke depan.

“Jadi…”

Aku mendongakkan kepalaku. Yang lain melakukan hal yang sama denganku. Semua mata menatap mata L. Hyung satu itu memang selalu dengan mudah mendapat respect—rasa hormat dari orang–orang, ia kenal, maupun tidak.

“Sejujurnya, aku juga masih memikirkan apa yang harus kita lakukan. Seperti yang kita tahu, B.A.P. menaruh dendam karena mereka rookie. Dan bukan masalah itu saja yang mereka pikir mereka punya. Mereka merasa kalah, karena muncul EXO…”

Aku merasa ada ledakan rasa bangga dalam hatiku. Kai, Tao, kupikir mereka juga merasa hal yang sama—ditandai dengan smirk yang muncul di wajah mereka, juga di wajahku.

“…yang sama – sama rookie dengan mereka. Tapi, yang mereka takuti, adalah kepopuleran EXO—yang tidak mereka perkirakan—melesat seperti Tao mengendarai mobilnya.”

Semua yang ada di ruangan tertawa rendah. Tao merunduk malu dengan sindiran tak langsung dari L.

“Jadi? Sekarang apa, hyung?”

Aku menoleh pada Tao. Aku tahu itu Tao karena suaranya dan satu–satunya orang yang menghormati hyungnya hanyalah Tao. Kai sama buruknya denganku.

“Kenapa kau tanya padaku? Kau tahu ‘otak kita adalah bocah tengil itu.”

L menunjukku dengan dagunya. Aku tersenyum bangga dan berusaha menyembunyikan ekspresi maluku dengan mengelap hidung dan menyedot ingus—seperti bocah kecil yang merasa senang dipuji, hanya karena ia berani mengambil bola yang salah mendarat di halaman milik seorang om-om galak.

“Jadi, kau sudah berpikir?”

Well, tergantung pilihan kalian.”

“Maksudmu?”

Chunji menatapku bingung—mungkin karena kata–kataku yang biasanya terlalu dangkal, kali ini terlalu dalam hingga membuatnya tenggelam. Hey, itu berima!

“Bisa dibilang, jalan yang mungkin—masih mungkin—kita ambil ditentukan voting lagi.”

“Memangnya kenapa?” Kai bertanya dengan nada malas. Makhluk satu itu memang paling malas jika disuruh membuat keputusan—aku tahu betul sifatnya satu itu.

“Karena…”

Aku menegakkan tubuhku, membuat posisiku terlihat lebih serius.

“…aku membuat alternatif. Dan hanya bisa mengambil 1 diantara banyak alternatif itu.”

Banyak?!” Kai menggeram tidak suka.

Aku mengerti jelas saat Yoseob berkata, “Apa saja?” yang dimaksud adalah alternatif – alternatifnya.

Well, menyerang, menunggu, atau menahan. Basics.”

Semua menatapku tidak suka.

Hyung, lihat? Itu mengapa aku tidak suka pada bocah tengil itu.”

Aku mendengus tidak senang pada Chunji.

“Lanjutkan.”

L merespon pada kata – kataku, mengacuhkan komentar Chunji.

Well, sebelum melanjutkan, kita harus voting dulu untuk menentukan akan  mengambil jalan yang mana: menyerang, menunggu, atau menahan.”

“Menyerang.”

“Menyerang.”

“Menyerang.”

“Menunggu saja. Aku lelah.” Aku menatap tajam pada Kai. Ia hanya melempar cengiran tolol sebagai balasan.

“Menyerang.”

“Menyerang. Well, then, here’s the plan.”

‘Infinity to Brain. I repeat. Infinity to Brain. Aku sudah siap di posisi.”

‘Dancer to Brain. Aku juga.”

‘Brain to Infinity and Dancer. On my command.”

Tunggu…

Sedikit lagi…

Sekarang.’

Lorong yang kumasuki mulai berbau harum parfum ruangan. Sebuah cahaya menembus melalui sela–sela lubang ventilasi—dimana aku sedang merangkak saat ini. Senter kupindah dari mulutku menuju tangan kiri. Obeng bermata minus dengan mantap berada dalam cengkeraman tangan kananku. Saat destinasiku tercapai—lubang ventilasi—terlihat jelas ujung–ujungnya derekatkan pada besi lorong dengan sekrup besar.

Aku membuka sekrup satu persatu. Dan dengan selembut mungkin, menyingkirkan tutupnya. Kujulurkan kaki sebelum, dengan suara berdebum lembut, mendarat di karpet ruang tengah dorm B.A.P.

Aku melihat langit – langit. Gerakan samar berwarna biru terlihat.

Itu kodenya.

Aku mengikuti arah datangnya laser yang merupakan sumber warna biru yang bergerak itu tadi. L sudah menunggu di sana. Maaf—L hyung. Ia berdiri dan menggerakkan dagunya, menyuruhku masuk lebih dulu.

Dibelakangnya, pintu setinggi kurang lebih dua meter yang terbuat dari kayu baru berdiri, terpasang pada dinding dengan dua kenop tembaga di tengahnya.

Ini akan susah.

Pintu model seperti itu berisik sekali. Bahkan jika aku baru menyentuh gagang pintunya saja, mungkin akan berdecit keras. Mungkin akan membangunkan para member jika kubuka.

Aku mengibaskan tangan beberapa kali secara horizontal di depan leherku, berkata secara tidak langsung, hal ini tidak mungkin kulakukan. Ia mendengus tidak senang. Aku memutar kepalaku dan mengalah padanya. Aku merasa aku yang hyung di sini.

Aku berjalan menuju pintu itu. Aku mulai berpikir, apakah obengku harus turun tangan juga? Yang maksudku adalah, apakah aku harus menggunakan obeng untuk membuka kenopnya. Aku merogoh kantung hoodieku, tempat terakhir aku letakkan benda tukang itu. Tepat bersamaan dengan ujung benda itu menyentuh sekrup pertama pada kenop, terdengar suara dari dalam.

Aku menoleh pada L. Maaf—L hyung. Astaga, saat seperti ini aku masih memikirkan masalah honorific.

Ia terlihat tenang. Dia tidak memiliki pikiran tentang terdesak atau  apapun itu, ha?

Ia memberi kode dengan bibirnya untuk pergi menjauh dari pintu. Sebelum aku bahkan memiliki waktu untuk mengangguk, kenop berputar–putar. Aku menatap L panik. Kenapa susah sekali memanggilnya hyung?!

Pintu terbuka.

Kurasa jantungku terhenti.

Apel merah matang terlempar ke udara untuk mungkin keseribu kalinya dari tangan milik Chunji. Ia tetap terdiam. Ia tahu seharusnya ia tidak di sini di saat yang lainnya mungkin hampir mati.

Ia menyesal. Ia tadinya ingin meminta izin kepada siapalah, C.A.P., atau L.Joe, atau kalau bisa pemilik entertainment atau siapalah untuk bolos dari 1st World Tour mereka. Tapi, ia masih cukup waras untuk tahu hal itu tidak pantas.

“Hoy, dari tadi handphonemu berbunyi. Tapi, karena setelah kulihat itu unknown number, aku matikan.”

L.Joe datang, menyerahkan benda putih kepada Chunji. Ia menatap pemuda yang dekat dengannya itu bingung.

“Terima kasih.”

L.Joe menatapnya dan mengangguk sebelum pergi. Ia langsung menatap layar handphone-nya. Ia tahu pikiran L.Joe. Mungkin itu sasaeng fans, atau orang iseng atau bisa saja orang salah sambung dan beruntung tersambung ke nomornya.

Ia melihat call record-nya. Orang itu keras kepala sekali. Sekitar tiga belas kali orang yang tidak-tahu-siapa-itu meneleponnya hanya dalam jangka waktu tiga puluh menit. Ia merengut kesal, ketika nomor itu meneleponnya lagi. Ia mengangkat teleponnya.

“Dengar, kalau kau sasaeng atau orang iseng, aku bisa dengan mudah melaporkan kepada polisi karena itu sudah termasuk kriminal.”

Hening panjang.

“Euh… ini Chunji kah?”

Yoseob hyung?, tebak pemuda itu.

“Iya, hyung. Hehe. Maaf. Kenapa nomormu ganti lagi?”

Terdengar hyung-nya mendengus kesal di seberang.

“Sasaeng menyebar nomorku. Dalam sehari aku dapat sekitar dua ratus telepon dari fans gila.”

Ia tertawa geli.

“Dengar. Aku punya sesuatu.”

“Ya?”

“L, Sehun dan Kai.”

“Kenapa mereka?”

“Mereka… well… Pergi.”

“Ke?”

“Euh… Dorm B.A.P.?”

Ia melepas handphonenya sejenak dari telinganya dan melihat tanggal dan bulan yang tertera di bagian atas layar handphonenya.

Hyung, please. Ini bukan April Mop.”

“Memang bukan.”

Suara di seberang sana terdengar ragu.

“Dan bukan hari ulang tahunku.”

“Memang bukan.”

Ia memutar matanya.

“Untuk apa kau berbohong, kalau begitu?”

“Hey, aku tidak bercanda. Mereka benar – benar pergi. Di sini—di markas maksudku, jika tempat ini bisa dibilang markas—tidak ada siapapun kecuali aku dan Tao. Tao bolos berlatih. Dan lagi ia sudah menguasai dance untuk comebacknya tahun ini. Katanya.”

Laki – laki itu tetap terdiam.

Hyung, kau serius, ya?” responnya.

“Jadi dari tadi kau masih menganggapku bercanda?”

“Memangnya…”

“Chunji!” Suara lain terdengar di sisi milik Chunji.

“Maaf, hyung. L.Joe sudah memanggillku. Aku harus naik.”

“Ya sudah. Good luck.”

“Kenapa kau tidak bilang kau masuk lewat situ?!”

Dan seperti kebiasaannya, setelah Kai membuatku mengalami serangan jantung, ia hanya melempar cengiran tolol padaku dan L.

“Aku kebetulan berbelok ke arah yang salah. Dan aku memang beruntung. Aku keluar tepat di samping kulkas dapur. Aku sudah masuk sini sebelum kalian masuk. Kamar kosong.”

“Sip. Kita berpencar. Kalian ingat prosesnya kan?”

L berkata dengan tenang. Aku dan Kai mengangguk.

Aku pergi melintasi ruang pertama dengan karpet tadi, mengarahkan diriku menuju pintu—entah pintu menuju  ruang apa, bisa saja toilet, gudang, atau jika beruntung, atau tidak beruntung, kamar member.

Pintu itu jauh lebih normal dari pintu sebelumnya. Warna kayunya agak lebih muda, bukan kayu redwood. Mungkin apel.  Dan gagangnya bukan tembaga bercat emas, melainkan hanya gagang kotak biasa dari besi dan hanya diberi pelapis aluminium. Ada kaca di tengahnya, mungkin bisa mengintip meski kaca itu sedikit blur.

Hanya toilet. Pantas saja.

Beberapa kaki di sebelah toilet itu ada pintu lagi. Kali ini, pintunya hampir sama bagusnya dengan pintu pertama tadi. Mungkin memang sama desainnya. Tidak ada cahaya keluar dari dalamnya. Jika itu kamar member, berarti semua sudah tidur.

Oke, jangan menilaiku pengecut karena berpikir sebelum membuka pintu ini.

Mengendap–endap ke dorm seseorang—bukan, dorm sebuah boyband rookie—adalah sebuah hal yang tidak semua orang bisa lakukan. Jadi, jangan menilai diriku pengecut jika kau belum tentu berani masuk ke dalam dorm B.A.P.

‘Dancer to Infinity and Brain. Mungkin aku menemukan kamar satu.’

Kai? Lumayan juga bocah itu. Hey, satu line boleh memakai informal, ‘kan?

Aku menuju ruangan terakhir kita berkumpul dan menuju lorong kiri, arah Kai menuju tadi. Hey, pintunya tidak terlalu sulit ditemukan—karena Kai berdiri di depannya. Dan di sebelahnya L sudah menunggu.

“Jadi, siapa yang berjaga?”

Aku menatap Kai penuh arti.

“Karena aku yang menemukan, mungkin aku aja yang berjaga.”

Kurang ajar.

“Karena aku paling muda, mungkin sebaiknya aku.”

Hyung, please. Aku, ya?”

Hyung, aku please.”

“Kau, kau bilang hyung karena ada maunya ‘kan? Hyung aku saja,” sindir Kai.

“Kalian berisik,” protesnya yang menyebabkan aku dan Kai terdiam.

“Gunting, batu, kertas. Cepat.”

Tanganku mengepal, sedikit di belakang pinggulku. Kai mengangkat tangannya tinggi – tinggi agak jauh di belakang kepalanya.

“Gungting…”

“Batu…”

Pintu di depan kita terbuka. Serentak kita menoleh ke arah pintu tersebut.

Hyung, kita sampai.”

“Oh, kau dapat siapa?”

“Lihat sendiri.”

Yoseob berjalan ke arah kita. Ia tersentak dan berhenti berjalan.

“Kalian hilang akal?!”

“Kenapa?”

Alisku agak tertarik ke atas.

“Kenapa dia?!”

“Euh karena…”

“Lho?”

Orang kekar itu menatap kami dengan bingung. Reaksinya bisa dibilang lambat. Aku menatap Kai, Kai menatap L, dan L menatapku selama sedetik. Kai menyambar pinggang orang itu tepat ketika orang itu mengangkat tangannya, hendak menonjok L.

Aku mengikuti hal yang dilakukan Kai, dan memegangi tangan orang itu, mengingat yang memegang tambang hanya L. Ok, mungkin Kai dan aku sudah cukup kuat untuk menghentikan seseorang. Tapi, orang ini kuat sekali. Apa, sih, yang dia makan?

L dengan tenang mengeluarkan kain tebal hitam dari tas dan mengikatnya di mulut orang itu. Lalu, dari tasnya lagi, ia megeluarkan tambang besar kuat untuk mengikat orang itu. Mungkin suatu keberuntungan ia seorang anak pramuka. Ia ahli tambang yang aneh itu.

L selesai ketika orang itu agak sedikit berhenti berontak. Ia mengeluarkan tabung kecil berisi cairan berwarna hijau pudar yang dimintanya dari dokter dengan alasan untuk menjaga diri—obat bius. Ia masukkan cairan itu ke jarum suntik dan mendekatkannya pada lengan pria kekar itu. Orang itu memberontak lagi, tetapi tidak lama setelah cairannya meresap ke bawah dagingnya, orang itu terdiam.

“Selesai. Ayo pulang.”

“Karena kebetulan. Kalau kita pilih, aku akan memilih Daehyun, ia lebih mudah.” Well, penjelasan serampangan, tapi mengenai pointnya.

“Iya, aku tahu.”

“Kalau begitu kenapa?”

Kai mendesah lagi, tetap tidak mengerti pikiran Yoseob.

Begini. Kalian tahu itu berbahaya. Kalian tidak menggunakan otak kalian? Kalian tahu itu berbahaya jika menculik leader B.A.P., tapi, kalian tetap melakukannya! Tidak bisa menggunakan otak kalian sebentar saja?!”

∞FIN

Hey, ketemu lagi dan ini udah chapter 2~ Gimana gimana gimana????? Ok maaf banget buat ooc nya:( Anyway thanks for reading. Do comment, pweash~

Zyan

Advertisements

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s