Title : Our Life | Cast : EXO’s Oh Sehun | Length : Chaptered | Genre : fail!Action, Idol life | Rating : 13+ (PG)

***

“Halo? Ya? Tentu. Kenapa? Tidak ada, kok. Yup.” Telepon ditutup.

“Ada apa?” pertanyaan lolos keluar dari pemuda berambut hitam kepada yang lebih muda.

“Kumpul di markas, tengah malam nanti.”

“Siapa yang menyuruh?”

“Tao.”

“OK. Sampai bertemu nanti pagi. Atau malam? Ah, sudahlah.”

“Kali ini apa?”

“Eh, tidak apa – apa.”

Ini sudah entah ke berapa kalinya aku ke kamarnya untuk mengerjakan tugas biologi dan aku merasa gugup. Lebih gugup dari terakhir kali aku ke sini. Oh Sehun memang sebuah misteri.

Ia berjalan langsung mendahuluiku. Ke arah rak handuk?

“Aku ingin mandi dulu. Kau jangan mulai mengerjakan tugas sebelum aku selesai. Makan atau apalah.”

“Ya.”

Ia masuk ke kamar mandi. Tak berapa lama kemdian, suara lembut air yang mengucur terdengar. Membayangkan surai lembutnya basah karena terkena aliran air membuat pikiranku ingin meledak. Matanya yang menutup, mencegah air menyentuh selaput matanya. Mukanya yang—pasti—berubah polos,  menikmati air hangat yang mengalir membasahi tubuhnya. Dari pucuk kepalanya, turun ke mukanya, melalui kerongkongannya, ke dadanya…

Apa sih, yang kupikirkan?!

Astaga.

Aku mencari cermin di tasku. Aku melihat pantulan di kacaku yang memperlihatkan pipiku yang merah. Sangat. Aku baru sadar jika pipiku memang terasa sangat panas.

Menunggu dalam diam tidak pernah terasa semembosankan ini. Saat netraku mulai menjelajah dandanan kamarnya, konklusi yang bisa kudapat hanyalah ia adalah orang cuek. Tidak ada apa – apa di kamar ini yang menarik kecuali kanvas dengan potret dirinya.

Laki – laki tidak terlalu peduli dengan tubuh—yang penting, mereka mandi dua kali dalam sehari. Jadi tidak perlu banyak waktu bagiku untuk menunggu Sehun selesai mandi. Hanya sekitar lima menit ketika akhirnya terdengar kenop pintu terputar dan pintu terbuka. Aku membalikkan badan untuk melihat Sehun.

Tubuhnya  yang tinggi tapi kurus itu terekspos dengan udara bebas karena tidak mengenakan sehelaipun pakaian—hanya dengan handuk dililitkan di bagian pinggang untuk menutupi tempat super privacy. Di belakang tubuhnya, uap panas mengepul. Ia menggoyangkan kepalanya beberapa kali untuk mengusir air yang masih keras kepala untuk tidak meninggalkan rambutnya. Ini pertama kalinya aku melihat lelaki setengah telanjang.

Ternyata beberapa fitur tubuhnya mengejutkan. Ia tidak hanya kurus. Ia memiliki badan yang hampir sempurna. Beberapa bagian tubuhnya memiliki otot yang hampir terbentuk sempurna—tidak wajar untuk lelaki seusianya. Ada tato kecil meskipun kentara sekali karena berwarna hitam di atas kulitnya yang hampir pucat. Tapi, tidak terlalu jelas apa bentuk atau gambarnya, karena posisinya terlalu jauh dariku. Dan karena sebagian tato itu tertutup handuk karena berada di pinggang bagian kanan—seperti menjalar dari depan ke belakang.

Ia berjalan menuju lemari. Ia membuka pintu lemari itu lalu seperti mencari – cari sesuatu dan—

Astaga!

Ia melepas handuknya! Bahkan ia tidak berkata padaku ‘Jangan lihat.” atau setidaknya menyuruhku berpaling. Sebagai gadis baik aku memiliki reflek untuk memalingkan wajahku seketika. Mukaku terasa panas lagi sekarang. Aku tahu ia memiliki pikiran pervert seperti teman–temannya. Tapi, ternyata ia lebih parah dari dugaanku. Ia beda sekali dengan lelaki ideal versiku. Tapi, entah mengapa, dirinya masih dan akan selalu ada dalam pikiranku.

Aroma biji kopi bakar memenuhi hidungku ketika aku sibuk menenangkan detak jantungku lagi. Aku belum cukup berani menolehkan kepalaku ke arahnya terakhir berada. Aku belum yaking apakah ia sudah memakai celana atau belum. Sampai hembusan dingin membuat peraba di leherku tergelitik.

“Hei, ayo kerjakan tugasnya.”

Bisikan dalam dan tenang serta menghanyutkan menggugahku dari upayaku menenangkan diri. Dirinya—yang ternyata juga jelas–jelas sumber dari aroma memabukkan tadi—menempatkan wajahnya sangat dekat denganku. Aku dapat dengan jelas melihat pipinya yang sangat, sangat flawless. Lelaki macam apa dia? Tidak adil untuk makhluk berjenis lelaki sepertinya memiliki wajah yang membius seperti itu.

“Yah, ya, tentu saja.”

Apa? Apakah barusan aku tergagap? Aku tidak menyangka hanya dengan melihatnya dari jarak sedekat itu membuat suaraku menjadi gagap. Apa sih, yang terjadi dengan diriku? Di novel–novel dramatis yang selalu kubaca reaksi seorang gadis tidak pernah kubayangkan akan jadi seburuk ini jika lelaki favoritnya berjarak sangat dekat.

Ia duduk bersila di hadapanku, di seberang meja. Membuka bukunya perlahan, membaca setiap soal yang perlu diberi jawaban dan melanjutkan ke soal–soal berikutnya.

Aneh, ia terlalu diam kali ini. Setidaknya—normalnya—ia akan bertanya 3 atau 4 pertanyaan padaku.

“S-sehunnie?”

Ups! Yun Soojin idiot! Untuk apa kau menambahkan vocal ‘-ie’ dibelakang namanya? Mau sok dekat, he?

Sehun mendengus geli. Ia tersenyum lebar sebagai gantinya menertawaiku.

“Apa?”

Ia mendongak, menatapku lekat–lekat dengan ekspresi gelinya. Ini curang—ketika dengan ekspresi menghina pun ia menawan.

“Maaf, aku tidak bermaksud memanggilmu dengan panggilan seperti itu. Maaf.”

Ia tertawa lepas kali ini. Dia curang lagi—bahkan ketika tertawa seperti itu ia tetap menawan.

“Santai saja. Kan kita teman. Apa?” Untung dia mentolerir keidiotanku.

“Eh, kau kenapa hari ini?”

“Maksudnya?” Ia memundurkan kepalanya sedikit, membuat gestur kebingungan.

“Maksudku, kau aneh. Kau tidak bertanya apapun. Padahal terakhir kali aku ke sini, pertanyaanmu hampir lebih dari sepuluh buah. Sekarang kau diam sama sekali.”

Ia mencondongkan tubuhnya menuju arahku. Terus, terus.

OK, mungkin terlalu dekat.

Hidungnya dan hidungku hanya menyisakan jarak sekitar satu inci. Ia tersenyum—tidak, mengeluarkan smirknya yang membuatku terhenti bernafas.

“Kau ingin aku mengatakan apa?”

Ia berbisik pelan di telingaku, dengan suara serak yang berkesan… Eung, menggoda?

Aku tidak bisa menjawabnya. Ia membuatku terbius dengan cairan dan suntik kasat mata.

“Nah, kau yang aneh. Aku sudah bertanya kau malah diam seperti baru melihat Myungsoo.”

Ia kali ini benar – benar mengeluarkan senyuman merendahkannya—membuatku mendengus kesal.

“Nah, kau malah mendengus. Aneh.”

Aku terdiam lagi. Kalau tahu akhirnya seperti ini, aku tidak akan bertanya. Selain pervert ternyata ia juga memiliki bakat membuat orang kesal. Lebih baik aku super konsentrasi mengerjakan tugasku.

“Aku buru – buru. I’ve an appointment tonight with many mad boys.”

Dasar, pamer kemampuan berbahasa.

Eh? Apa katanya tadi? Ia menjawab pertanyaanku?

Eoh.”

Hening dengan kejamnya menyeruak, mengisi kekosongan. Sejujurnya, aku paling benci situasi seperti ini, dimana ada dua orang yang sebenarnya bisa berbicara tapi merasa canggung untuk memulai percakapan. Siapa juga yang menikmati situasi seperti ini?

“Memangnya kenapa? Segitu besarnya keinginanmu untuk mendengar suaraku?”

Cih, dasar. Sejak kapan ia berubah menjadi Tuan Sangat-percaya-diri?

Kuhiraukan pertanyaan sangat tidak pentingnya. Untuk apa juga aku menjawab pertanyaan seperti  itu?

“Hoy, tenggorokanmu sakit? Kenapa kau tidak mengeluarkan suara?”

Astaga, baru aku menilainya sebagai lelaki dewasa menilai dari tatonya. Sekarang ia sengaja ingin merubah penilaianku terhadapnya, dengan bersikap childish dan tak tahu malu?

“Ya, kenapa kau tidak memakai kacamatamu seperti biasanya? Padahal aku lebih suka—kau terlihat seperti resepsionis yang seksi.”

OK, setelah berusaha—mungkin—menjadi bocah childish, ia berusaha menjadi lelaki flirty seperti Jongin? Tapi, jujur. Meski ia tak sopan berkata seperti itu padaku, aku yakin darahku sudah menjadi uap—bukan mendidih lagi.

“Kenapa juga kau melepas kepang longgarmu? Ingin berusaha terlihat dewasa?”

Dia kenapa, sih? Berkepribadian ganda? Dan kenapa juga kalau dia berkepribadian ganda pertanyaan – pertanyaannya seperti ini?

“Kau tidak mau bicara? Kalau begitu kenapa kau tadi menyuruhku bertanya banyak – banyak?”

Astaga. Ia makin menyebalkan.

Cha, aku sudah bertanya 10 pertanyaan. Aku akan diam sekarang.”

Hemph, yang benar saja. Peran apa lagi yang berusaha dimainkannya sekarang? Gentleman? Mana bisa?

Tunggu. Sudah 5 menit kenapa ia tidak meroketkan pertanyaan lagi untukku? Ia sungguh – sungguh, dengan ucapannya? Aduh.

Oh Sehun, berhenti membuat orang menjadi gila!

“Ya, pulanglah. Sudah pukul 10 dan aku harus bersiap–siap untuk bertemu teman–temanku.”

“Ya, terima kasih. Selamat tinggal.”

Akhirnya. Akhirnya ia pulang—akhirnya aku bisa mengatur detak jantungku. Aduh, hari ini aku kenapa, sih? Ingin cari muka, huh, Oh Sehun? Untuk apa juga semua pertanyaan konyol dan memalukan itu kau keluarkan? Untuk apa juga kau sok menjadi orang berkepribadian ganda seperti itu? Kau ingin Yun Soojin merasa bahwa kau bocah idiot dan aneh?

Ok, aku benar–benar aneh sekarang—berbicara pada diriku sendiri.

Aku masuk ke kamarku lagi. Masih ada 2 jam sebelum saat aku harus pergi ke janjiku. Sekarang apa yang harus kulakukan? Memikirkan hal idiot yang tidak sampai sejam tadi kulakukan dengan wajah tolol?

Sungguh, aku tidak mengerti kenapa aku melakukan semua hal tadi. Biasanya, aku tidak terlalu suka jika ada orang yang melihatku tidak mengenakan pakaian. Diminta saja aku tidak mau. Kenapa tadi aku malah sengaja memperlihatkan tubuhku pada Soojin? Dasar idiot. Sekarang aku merasa seperti pelacur. Tapi, pelacur ‘kan perempuan. Tidak jadi, deh—aku masih lelaki.

Aku memutuskan untuk mencari pakaian yang tepat untuk kugunakan.

Lho? Kenapa aku jadi aneh? Sejak kapan aku… berdandan? Aish, waktu yang tidak tepat untuk frustasi. Tapi, toh akhirnya aku memutuskan untuk tetap memilih baju juga.

Apa ya, yang enak kupakai?

Aku mendengar suara dari luar dengan teliti. Ada sedikit suara rintik hujan. Lebih baik aku memakai jaket dengan hoodie dari Luhan ge. Mungkin cukup dengan t-shirt tipis di dalamnya dan skinny jeans. Mungkin cukup bagus dengan jam putihku. Lalu, aku menyiapkan sneakers merah kesayanganku dan memakai kaus kaki hitam untuk menjaga kakiku.

Man, masih satu setengah jam lagi. Apa yang harus kulakukan?

Aku bersandar pada bufet kecil putihku. Kutekuk kaki kiriku  dan kuletakkan tanganku diatasnya. Kubiarkan kepalaku terjuntai ke belakang. Kupikirkan banyak masalah yang sudah terjadi pada ‘komplotan’ku. Kira–kira apa yang terjadi kali ini pada kita?

Kuraih sembarang gadget yang berada dalam jangkauan tanganku. Kusambar earphone putihku yang berada di atas bufet dan memakainya ditelinga. Kumasukan jack-nya ke dalam port. Lagu Gulliver milik Super Junior yang masih setengah terputar, dimainkan.

Matanya terbuka. Ia tampak kebingungan untuk sepersekian detik. Tangannya yang terbalut jam diangkatnya, agar ia dapat melihat waktu dengan lebih leluasa. Untuk suatu alasan, posisinya menjadi lebih rileks. Digerakkannya kakinya yang jenjang untuk membawanya ke suatu tempat. Dengan cepat dan teliti, dikenakannya sneakers merahnya dan dengan sigap berdiri dan keluar dari kamarnya.

Tangannya mengetikkan sesuatu di atas smartphonenya. Ia mendekatkannya ke telinga kirinya dan menunggu.

“Hoi, ini aku, Sehun. Dimana? Ya. Tunggu sebentar, sekitar lima menit.”

Percakapannya dengan orang yang tidak diketahui berlangsung dengan sangat singkat. Pemuda tersebut bergegas di atas skateboard merah senada dengan sneakersnya. Earphone putihnya berkibar seiring angin dengan tidak pedulinya berusaha membuat tubuh pemuda itu menggigil.

Laju skateboardnya terhenti di depan pintu besi usang dengan karat di sekujurnya. Ia mengambil skateboardnya dan memegang kenop pintu. Dengan hati – hati, ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan keadaannya aman.

Ia memasuki ruangan dengan aroma besi itu dengan tenang—seolah sudah terbiasa. Ia memasuki sebuah ruangan tanpa pintu, dimana 4 pemuda lain sudah menunggunya.

Ia menaruh skateboardnya dan berkata,

“Jadi?”

Tak ada yang menjawab—mereka hanya menatap langit – langit atau lantai. Ia melihat ke sekeliling. Ia menjengit ketika merasa ada sesuatu yang salah.

“Mana Dongho?”

“Gara–gara B.A.P. Lagi.”

Pemuda dengan tubuh menjulang dan pakaian serba gelap menjawab. Sehun tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang kentara.

“Oh. Apa kali ini?”

“Mereka menghilangkan Dongho. Benar – benar menghilangkannya. Ia tidak ada lagi.”

Pemuda dengan kaus pink dan cream menjawab—membuat Sehun tertawa.

Great joke, Chunji. Seriuslah. Kau sudah dewasa.”

Pemuda bernama Chunji tadi menjengit tidak senang. Ia menatap pemuda tadi dengan tatapan ‘kau-tidak-percaya-hah’.

“Tanyalah Tao kalau begitu.”

“Tao, mana Dongho?”

Pemuda menjulang sebelumnya yang bernama Tao mendengus.

Hyung—kau harus memanggilku hyung, Hun.”

Sehun memutar matanya.

Hyung, dimana Dongho?”

Tao menatapnya dalam–dalam—seolah menelan sesuatu yang tidak ingin orang lain ketahui.

“Chunji sudah benar, Sehun. Dongho hyung mereka bunuh. Tanyalah L jika kau masih belum percaya padaku.”

Sehun menatap ke arah jendela di pojok ruangan, dimana ada sesosok pemuda yang sedang merenung—tidak terusik sedikitpun oleh percakapan di ruangan itu.

“L, tolong jangan berbohong seperti yang lainnya.”

L—pemuda dekat jendela tadi—menoleh.

“Semua orang benar, Hun. Terima sajalah.”

Seorang pemuda dekat Sehun dengan skin tone agak gelap, menepuk pundaknya.

“Hun, kau pikir hanya kau saja yang terkejut? Aku juga. Tapi mereka memang benar. Dongho hyung memang mereka bantai.”

Sehun mengepalkan tangannya kuat–kuat—menahan amarah yang tiba–tiba merasuki dirinya.

“Bukan itu masalahnya, Kai. B.A.P. masalahnya.”

Kai—pemuda agak gelap tadi—melepas tangannya dari pundak Sehun. Di mukanya terdapat ekspresi menyesal ketika mengetahui ia salah mengerti temannya.

“Mana Yoseob? Kenapa ia tidak datang membicarakan masalah ini bersama–sama?”

Amarah terpancar dengan jelas bersamaan dengan kata–kata yang keluar dari bibir tipisnya.

“Kau tahu dia ‘mata–mata’. Ia pergi. Menyelundup di markas B.A.P.”

Mata Sehun membulat.

“Kau serius?”

Sekarang aku harus kemana?

Kucheck GPS. Sip, sudah terlihat targetku. Tinggal sepuluh meter lagi.

Jadi? Apa yang kita lakukan malam ini?”

Suara rendah itu terdengar gorong – gorong ventilasi tempatku menguping. OK, aku tahu ini tidak baik, tapi apa peduliku? Toh selama ini semua aktivitasku berhubung dengan kriminalitas. Selain entertainment.

“Hyung, kita harus pergi ke toko sushi. Aku sudah lama tidak makan sushi seminggu ini. Ya?”

Kali ini, suara melengking milik si bungsu terdengar. Jangan terkejut—tapi, aku  memang pandai menbedakan rangasangan pada indraku.

“Yup, Zelo benar. Aku juga ingin makan sushi, hyung.”

Suara main vocal.

Iya, hyung. Lalu kita beli beer, kita minum bersama di dorm.”

Itu pasti visual.

“Hyung! Kau tidak ingat aku di bawah umur?”

Dasar—bungsu yang memiliki tak bernasib baik.

Ah, biar saja, hyung. Kita beli 2 botol ya, ya?”

Lead vocal. Aku kenal suaranya.

Sekalian, hyung. Tolong belikan aku lollipop besar ya, ya?”

Itu yang terakhir—main dancer.

Lengkap— 6 member bajingan berkumpul semua di sini. Bukan itu tujuanku ke sini. Aku ke sini untuk mendengar rencana mereka lebih lanjut. Setidaknya kita bisa memikirkan cara terbaik untuk membalas dendam.

Jadi, hyung, setelah Dongho siapa lagi?”

Bungsu polos itu bertanya. Tidak sepenuhnya polos, sih. Siapa yang bisa di bilang polos setelah membantai orang?

Selanjutnya? Ah, kau benar Zelo. Sekarang, kita voting dulu. Tao, Yoseob, L, Sehun, Kai atau Chunji?”

Sialan. Mereka ingin apa, sih sebenarnya? Kalau mereka  ingin menjadi Best Male Artist, harusnya ia berlatih lebih keras, bukan membantai anggota–anggota boyband lainnya. Dan entertainment yang menaungi U-Kiss harus berduka dan berbohong bahwa Dongho keluar U-Kiss atas kemauannya sendiri.

Jadi?”

Sehun.”

Sehun.”

Tao.”

Tao.”

Tao.”

Kai. Jadi, our next target’s EXOs’ Tao. Ayo, aku sudah lapar.”

Mereka keluar dari ruangan pengap itu. Sial. Alasan mereka hanya memilih member EXO adalah karena sekarang adalah masa milik EXO. Untung bukan Sehun—anak itu masih terlalu kecil meski sudah sedikit lebih dewasa dari maknae mereka. Tapi, tetap saja. Memiliki member yang ditargetkan untuk dibantai oleh boyband lain bukanlah suatu agenda yang membuat kita tersenyum.

Aku harus memberi tahu Tao—ia target selanjutnya.

∞FIN

Hai, episode 1 is out yup.  Howisit howisit? Comment yap buat chap ini~

Zyan

Advertisements

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s