Rumpelstiltskin

[FFPOST] Rumpelstiltskin

Title : Rumpelstiltskin | Cast : GOT7’s Jr. & Apink’s Bomi | Length : Vignette (2.700+) | Genre : School life | Rating : G

Inspired by  Rumpelstiltskin [Germany’s fairy tale]

 

And by the time that dwarf start to loves the girl, no one to blame

 

Warning : Common story, leak of words and everything describe ‘plain‘ fic!

ӦӦӦ

 

“Kau sialan, Junhee!”

“Hey, dapat lima ribu won sebagai tambahan uang jajan bukan hal kecil, Bomi. Terlebih dari anak populer. Lakukan saja lah. Toh fisika hal mudah untukmu.”

“Hal mudah apanya! Juga, aku bukan jasa pekerja tugas sekolah. Kau saja yang—“

“Aku duluan, ada kursus gitar. Dadah, Bomi-ya. Fighting!”

Maksud dia apa? Dengar, siapa juga yang suka kalau ketika jam fisika ada tugas rumah mendadak dan Jin—laki-laki paling terkenal dan bodoh dalam fisika—membayarku demi tugas itu? Yah, lumayan sih, bayaran yang ditawarkan tapi, itu tidak sopan sama sekali ‘kan? Dan untuk lebih parah, ia bilang jika tidak kukerjakan, ia akan mengambil uang jajanku tiap hari.

Dan aku juga tidak mengerti kenapa sekarang aku malah menuju kafe di ujung taman, alih-alih mengerjakannya. Dan setelah konversasi tentang pesananku dengan pelayan berambut mahoni, buku fisika yang tidak pernah ringan kutelusuri. Kesal? Ya. Tapi, uang adalah kebutuhan mendalam semua siswa sekolah, benar? Terlebih siswa dengan keadaan ekonomi biasa sepertiku.

Tunggu, ya, aku akan kembali! Sesegera setelah tugas-tugas sialan ini selesai.

 

ӦӦӦ

 

Ah, sial!

Harusnya aku tahu, hingga pukul delapan menyongsong juga tugas ini tidak akan selesai. Dan begitu aku melihat handphone, tahu-tahu sudah delapan missed calls dari ibu. Ini bukan keuntungan namanya. Meski pepatah berkata ‘bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian’, aku juga tidak akan mau jika ‘bersakit-sakit’ yang dimaksud sesusah ini.

Seketika hening dan hening menyadarkanku dengan berkata, “Hey, bodoh. Lihat. Ini sudah setengah sembilan kurang dua puluh lima menit, dan kau satu-satunya orang di kafe. Yah, selain karyawan tentunya.” jauh di dalam kesadaranku.

“Seekor ikan berada pada kedalaman 15 meter di bawah permukaan air. Jika massa jenis air 1000 kg/m3 , percepatan gravitasi bumi 10 m/s2 dan tekanan udara luar 105 N/m, tentukan tekanan total yang dialami ikan. Ah, persetan lah! Toh ikan itu tetap hidup.”

Yah, kalimat kasar itu menarik atensi para karyawan.

Tepat setelah otakku benar-benar menyerah—yang tadi itu bercanda saja, sih—seorang pelayan berjalan menuju mejaku. Ok, satu hal yang penting. Aku sudah sering ke kafe ini, aku kenal semua karyawannya dan aku dekat dengan semuanya, kecuali orang yang sedang meniti direksinya kepada diriku. Anak baru.

“Hey.”

Jadi, aku harus apa jika dia seperti, ‘Hey, aku anak baru, ingin berkenalan?’ atau jika dia seperti, ‘Hey aku anak baru. Bisa kubantu?’ atau lain-lainnya. Ah, abaikan. Aku memang sudah terlalu lelah.

“Maaf, kami sudah ingin tutup dan…” ia sedikit menggerakkan leher, dan jika kuikuti arah matanya memandang, dan menilai dari cara matanya berbicara, ia bertanya, ‘Apakah benar-benar tidak apa-apa, aku bicara seperti ini?’ pada seniornya. Dan mereka hanya mengacungkan ibu jari dan tersenyum. Jadi, ia melanjutkan.

“…kau harus pergi. Maaf.”

Kau tahu apa yang dimaksud ‘canggung’? Ya, seperti sekarang ini. Aku dan anak baru itu bertukar pandang dalam beberapa menit yang canggung. Bukan salahku jika aku tidak ingin beranjak dari kafe nyaman ini, bukan? Dia gila jika menyangka tugas-tugas ini bisa kurampungkan di rumah.

Lalu, “Maaf, halo?”

Anak baru itu melambai-lambaikan tangannya di depan mukaku.

“Ya, maaf.”

Sial, kalau begini ‘kan aku harus bergerak membereskan buku-buku yang berat, mengeluarkannya lagi di rumah, dan…

“Tunggu.” dan tahu-tahu tangan laki-laki itu menahan tanganku. Agak sedikit pegal untuk pergelanganku, karena buku fisika tebal itu sedang dalam giliran untuk kumasukkan ke dalam tas. Dan jika tidak salah lihat, tatapannya terpaku pada buku fisika sialan itu. Sial, padahal kukira ia akan menatapku seperti di drama-drama.

“Kenapa?”

“Fisika, ya?”

Iya, tuan muda. Kaupikir buku apa lagi yang sedang kupegang? Majalah Cosmopolitan?

“Ya, kenapa?” Dan haruslah aku bersyukur, karena akhirnya ia melepas tanganku, yang membuat tanganku berkata selamat tinggal pada pegal.

“Aku bisa bantu jika kau kesulitan.” Dan ia tersenyum.

Senyumnya, kalian harus tahu, manis.

Ralat, sangat manis.

“Euh, ya. Terima kasih.” Jadi, itu membuatku mengeluarkan (lagi) segala tetek-bengek soal fisika. Jika ia bercanda soal ini, maaf saja tuan-pelayan-baru, aku harus memukul sesuatu. Dan karena ini toko orang, juga penyebabnya adalah anda, jadi maaf saja jika hari ini kau harus tidur dengan memar di tungkai atau mungkin di dahi.

“Jadi, aku boleh pinjam pensil?”

Ah, ternyata dia serius.

 

ӦӦӦ

 

“Sekarang nomor berapa?”

“Euh, sudah selesai semua.”

“Benarkah?”

“Ya.”

“Ah, padahal aku ingin lagi.”

Lagi?

Lagi?!

Setelah dia mengerjakan soal-soal sebanyak itu dan bahkan melahap semua soal latihan di buku dia masih ingin lagi?

“Haha, kau bercanda?”

“Tidak.”

Oh, dia tidak bercanda.

“Maaf, tapi aku harus pulang. Dan, terima kasih ya, ehm…”

“Junior, panggil saja Junior. Dan namamu?”

Aku sangat mengerti nama julukan itu. Karena dia junior di sini ‘kan?

“Terima kasih, Junior. Aku Bomi.”

“Sama-sama, Bomi. Dan, ah… jika kau punya soal fisika lagi, kau boleh ke sini. Biar kubantu. Ok?”

“Ya, terima kasih. Selamat malam.”

Lalu, aku keluar. Jujur saja, semua itu tadi melelahkan dan dia masih ingin lagi? Apa dia semacam alien yang hanya akan hidup jika mengerjakan soal fisika? Aku harus bercerita pada Junhee bahwa ada makhluk seperti itu.

Tadi dia bilang jika ada pekerjaan atau masalah bersangkutan dengan fisika tidak apa-apa untuk menghubunginya ‘kan? Yah, dia beruntung. Minggu selanjutnya, guru fisikaku mulai gila-gilaan memberi para siswa tugas-tugas fisika lagi. Dan kalian pasti bisa menebak bahwa Jin, orang sialan itu, membayarku. Lagi.

Jadi, kutemui Junior.

Masih sama dengan apron hitamnya, ia tersenyum padaku, mengalihkan perhatiannya sebentar dari lantai yang dengan tekun digosokkannya dengan pel.

“Ada soal lagi ya?” Ia akan mengerti ‘kan, meskipun aku sekarang hanya melambaikan kertas-kertas penuh angka dan huruf? Dan lagi, ia langsung saja tanpa aba-aba meneruskan urusannya untuk mengepel lantai dengan kecepatan yang bisa dibilang ia percepat.

Ia menaruh bokongnya di kursi tepat di hadapanku, segera setelah pelnya ia taruh. Dengan kopi mengepul di hadapannya, dan kopi dengan gelas penuh titik-titik air di luarnya di hadapanku, ia memulai dengan, “Boleh pinjam pensil?”

 

ӦӦӦ

 

“Jadi, siapa namanya tadi?”

“Junior, Junhee. Demi Tuhan, segala macam chord kau ingat tapi, bahkan nama sesingkat itu pupus dengan mudahnya di otakmu.”

“Hey, aku tidak familiar dengan nama itu, ok? Tidak dengan kau yang sudah berapa kali bertemu, katamu tadi?”

“Lima atau enam? Entahlah. Tapi, ia cukup membantu untuk mendapat uang dari Jin dengan mudah.”

“Kau terdengar seperti kriminal, Bomi.”

“Aku tidak bermaksud. Tapi, asal kau tahu saja, dia tidak melakukannya secara gratis.”

“Maksudmu? Ia meminta bayaran?”

“Tentu, Junhee. Untungnya tidak sebanyak yang kubayangkan ketika pertama kali ia bilang, ‘kau harus tahu semua ini tidak gratis.’. Ia hanya minta segelas kopi americano, alih-alih meminta uang.”

“Kau beruntung, Bomi. Kalau tidak mukamu sudah entah dikemanakan oleh Jin.”

Seteguk kopi menyela konversasi mereka.

“Ya, tapi Junior tidak meminta bayaran yang konstan. Sekali waktu ia meminta burger. Waktu lainnya, ia meminta kaus kaki. Di lain kesempatan, ia hanya meminta es stik. Ia sangat ‘acak’.”

“Dan di awal tadi kau bilang bisa mengerti dirinya?”

“Hal-hal dasar tentangnya, ya. Tapi, dasar jati dirinya masih terlalu dalam untuk bisa kuselami lebih jauh. Aku bahkan tidak tahu nama aslinya.”

“Ngomong-ngomong, berapa umurnya?”

“Tebak saja. Petunjuknya, aku noona untuknya.”

“Sungguh? Ia muda sekali untuk ukuran orang jenius. Kalau begitu, ia masih sekolah ‘kan?”

“Iya, tapi ia tinggal sendiri. Ibunya hanya mengirim satu juta untuknya perbulan.”

“Apakah itu masih terhitung ‘dasar’, Bomi?”

 

ӦӦӦ

 

Minggu ketiga bulan Mei. Minggu paling sibuk untuk para murid. Projek-projek datang, ulangan berderet, remedial-remedial menghantui, dan lain. Jin? Ia selalu datang padaku. Beruntung jika aku salah satu budak parasnya. Tapi, tidak. Maaf saja jika kukatakan secara jujur aku lebih merasa ia seperti kutu—mengganggu, parasit.

“Jujur saja Jin, jika kau seperti ini terus, ulangan terakhir nanti tidak ada yang bisa membantumu, bahkan tidak dirimu sendiri. Aku bisa membantu tapi, jika itu berarti mempertaruhkan kelulusanku karena membantu dirimu dalam ulangan, tidak, terima kasih.”

“Bomi, tolong. Hanya terakhir ini dan setelah itu aku belajar sendiri. Aku tidak punya waktu untuk projek besar ini.”

“Apalagi diriku! Berpikirlah sedikit, Jin. Jika aku saja hampir tidak sanggup mengerjakan tugas ini, kenapa kaupikir aku sanggup mengerjakan dua? Lagipula, apa yang kaulakukan dengan waktumu?”

“Kau tahu aku.” Ya, aku tahu kau hanya murid tampan pemalas dan dungu.

“Jangan anggap aku stalker-mu, Jin.”

“Kau tahu aku tidak pernah suka belajar. Minggu depan ada audisi pencarian aktor di Entertainment A, jadi aku perlu latihan setidaknya satu minggu, atau dari sekarang.”

“Berapa kali ini?” kalimat itu keluar dari mulutku, atau jika disempurnakan menjadi, ‘Berapa bayaranku kali ini?’

“Ini projek final dan besar, jadi… mungkin sepuluh ribu won?” untuk kalian yang tidak tahu-menahu perekonomian Korea Selatan, kuberu tahu. Sepuluh ribu won itu banyak—sangat banyak untuk murid sepertiku. Satu won itu sama dengan sepuluh rupiah, kasarnya.

Deal. Ada USB atau hard drive?”

Ketika hard drive yang disodorkannya padaku sudah berpindah tangan, aku meninggalkan kelas.

 

ӦӦӦ

 

“Aku bisa tapi…”

Pasti dengan kerjanya.

“Tapi kau tidak bisa meninggalkan shift-mu ‘kan?”

“Tapi ini penting, Junior. Dengar, kali ini Jin memberi sepuluh ribu. Kubagi kau setengahnya untuk kali ini. Bagaimana?”

“Cih, kau pikir satu kali shift di sini semurah itu?”

Sebetulnya aku tidak suka juga jika bertingkah lucu, atau melakukan suatu hal yang disebut aegyo—bertindak seperti anak kecil. Tapi, untuk alasan yang kupikir normal, kulakukan untuknya—memajukan bibirku dan menggeram. Iya, menggeram.

Dan pemirsa, ia tertawa.

Matanya terpejam, membentuk setengah lingkaran. Sesuatu yang disebut eye smile.

Bibirnya terbuka lebar, menampilkan gigi-gigi rapinya. Sesuatu yang disebut wide laugh.

Dan wajahnya, menampilkan sesuatu yang disebut lucu.

“Bercanda. Bolehlah. Tapi, benar ya, kau memberiku setengah bagian?”

“Iya. Aku pulang dulu. Dan ini hard drive-nya. Terima kasih, Junior.”

 

ӦӦӦ

 

“Kesimpulannya… adalah ketika… arus konvensional bertemu… dengan…”

New message!

Siapa, sih? Dia tidak tahu ini masa-masa kritis bagi anak-anak sekolahan?

From: Eomma!

Subject: Bomi, maaf.

Bomi, maaf. Ibu tidak bisa pulang untuk sebulan ini, uang sakumu terpaksa harus bisa kaugunakan hingga akhir bulan. Ibu akan pulang tepat setelah kau ulangan.

Akhir bulan?

Akhir bulan?!

To: Junior

Subject: Maaf ya!

Junior, maaf! Ibuku bilang tidak bisa memberi uangsaku hngga akhir bln, jd uangmu terpaksa kugunakan. Maaf!

Akh, sejujurnya aku tidak tahu harus bagaimana lagi jika tidak dengan uang. Aku tidak bisa apa-apa dan jika aku harus belajar untuk melakukan apa-apa, bukankah akan memakan banyak waktu?

Sungguh merasa bersalah? Tentu. Apalagi ketika akhirnya Junior sudah menyerahkan pekerjaannya padaku, padahal itu baru dua minggu setelah kuserahkan tugas itu padanya. Entah mengapa aku selalu suka orang yang cepat. Junhee, Junior. Tidak seperti Jin. Ngomong-ngomong nama mereka berawalan ‘J’ semua.

“Terima kasih. Tapi, kau sungguh tidak apa-apa tidak mendapat uangnya?”

“Tidak, bayaran shift di sini sudah akan kuterima minggu depan. Lagipula, aku tidak pernah menghabiskan gajiku sepenuhnya. Aku masih punya tabungan tahu.”

“Tapi, kalau begitu aku harus membayarmu dengan apa?”

“Sudah, kauselesaikan dulu saja. Akan kupikirkan apa yang kuinginkan nanti. Selamat berjuang dengan ulangannya juga, ya!”

 

ӦӦӦ

 

Yoon Ahreum : 79

Yoon Bomi : 89

Yoon Songjoon : 95

Itu hanya tiga baris dari data yang tertulis di atas kertas yang tertempel di papan pengumuman nilai akhir. Dan rasanya aku ingin sekali mengirim pesan singkat hanya sekedar berkata, ‘Ya, aku dapat nilai lumayan.’ pada Junior. Ia tahu itu sepele tapi, hey, siapa yang tidak pernah melakukan hal-hal sepele?

To : Junior

Subject : Hey, baca!

Hey, baca! Aku dpt nilai bagus. Delapan puluh sembilan itu bagus ‘kan? Terima kasih jg utk project nya! Itu dapat nilai sembilan puluh delapan!

Yah, pulsaku tidak akan terbuang sia-sia ‘kan untuk pesan singkat itu? Lagipula aku juga sekalian memberitahu nilai yang ia dapat. Semua orang senang bukan jika mengetahui jerih payahnya mendapat hasil lumayan?

Sekejap, aku merasa ada yang memanggil. Kau tahu lah, perasaan berdenging di telingamu, atau merasa ada yang memanggil. Dan perasaanmu juga ketika itu ternyata hanya bayangan kepalamu saja. Tapi, syukurlah yang memanggilku bukan bayangan saja. Itu Jin.

Ya, Bomi.”

“Apa lagi? Jangan mengarang soal tugas, ok? Karena semua sudah berakhir sekarang.”

“Bukan itu.” Lalu ia tertawa kecil.

“Jadi apa?”

“Aku… maksudku kau ingin tidak?”

“Apa?”

“Pergi. Keluar. Denganku?”

Pergi keluar ya?

Maksudnya?

“Maksudnya apa?”

“Yah, kau tahu lah. Kubelikan kau es krim, atau naik beberapa wahana, atau nonton film.”

Jadi itu maksudnya.

“Maksudmu seperti berkencan?”

“Yah…”

Ok, maaf jika aku membuat beberapa dari kalian mulai meremas handphone dengan perasaan gatal, atau memegang tangan kuat-kuat agar tidak menonjok screen komputer. Tapi, aku sungguh-sungguh minta maaf atas kalimat bodohku barusan.

“…bisa dibilang?”

Apa?!

 

ӦӦӦ

 

“Tapi, astaga, Bomi. Kau tidak tahu siapa itu Jin? Tidakkah kau tahu?”

“Ia hanya terlalu biasa untukku.”

Raupan segumpal permen kapas singgah dan hilang begitu saja di mulut Bomi. Jin memang bukan orang biasa, benar? Ah, tapi toh panda tidak akan jatuh cinta pada singa jantan dengan surai paling indah sekalipun. Panda itu tetap akan jatuh cinta pada panda ‘kan? Jadi aku hanya harus menunggu panda lain singgah dalam hidupku.

“Jadi?”

“Apanya?”

“Kau membayar Junior apa?”

“Tidak tahu.”

Bisa saja itu dianggap hutang tapi, mau apa lagi?

Dan aku tidak sepenuhnya melupakan hutangku.

Hari keempat libur musim panas, Junior mengajak bertemu di kafenya lagi. Ia bilang imbalan pekerjaannya adalah melakukan shift-nya selama lima hari. Responku?

“Enak saja!”

“Jadi kau ingin menyimpan hutangmu sampai kapan?”

“Bukannya begitu.”

“Jadi maumu apa?”

“Yang lain saja. Lebih baik membayar daripada menyerahkan liburku.” Siapa juga yang sebegitu bodohnya hingga berpikiran bahwa seorang siswa akan menyerahkan hari kebebasan mereka?

“Ah, aku jadi teringat sebuah cerita.”

“Apa? Untuk apa juga kau teringat akan suatu cerita dalam situasi macam ini?”

“Tidak apa-apa. Hanya saja cerita itu mirip sekali dengan keadaan ini.”

“Oh, cerita apa?”

“Kau tahu dongeng Rumpelstilt—apalah itu—dari Jerman?”

“Maksudmu ‘Rumpelstiltskin’? Aku tahu.”

Menyesap float membutuhkan atensi yang cukup, jadi kuturunkan pandanganku sejenak dari Junior, meluncur menuju float di genggamanku. Dan ketika pandanganku kukembalikan padanya, Junior sudah tersenyum aneh.

“Apa?”

Ada yang kulewatkan kah? Seingatku ‘Rumpelstiltskin’ itu tentang petani yang berbohong pada raja bahwa anaknya bisa menenun jerami menjadi emas (dalam kasusku, Junhee adalah petani pembohong sialan itu). Lalu si Raja menyuruh si Gadis memintal jerami yang semakin banyak, dengan balasan ia nikahi atau mati jika tidak selesai. Kemudian ada seorang cebol yang bisa membantunya menenun jerami menggunung itu (dengan imbalan pastinya). Dan di klimaks cerita, saat si gadis tidak punya apa-apa lagi, si Cebol meminta anaknya ketika ia sudah diperistri nanti. Tapi, ketika anak pertamanya lahir, ia tidak kuasa memberi si Cebol anaknya. Akhirnya si Cebol memberi sang Ratu waktu tiga hari untuk—

“Kau ingin aku menebak namamu? Nama aslimu?”

“Yep. Bagaimana? Hebat ‘kan?”

 

ӦӦӦ

 

“Dia gila, Junhee. Aku baru tahu.”

Heung…”

“Jujur saja. Siapa yang bisa menebak nama asli dengan mudah? Dan hanya dalam waktu tiga hari?”

“Ini sudah hari ke berapa?”

“Tiga. Sial.”

“Bagus kalau begitu. Bukankah sang Ratu berhasil di hari ketiga juga?”

“Kau pikir hidupku benar-benar akan berjalan seperti di dongeng itu? Lagipula begitu ‘si Raja’ mengajakku keluar aku menolak, ‘kan?”

“Tapi, dengan banyaknya alur yang sama, mengapa tidak? Ayolah, toh kau tidak suka bukan, liburanmu diambil olehnya? Jadi percayalah bagaimanapun juga kau akan menemukan namanya.”

“Terserah.”

Tapi, ia benar. Bagaimanapun juga di akhir hari aku berhasil menemukan namanya—dengan kasar. Jadi, itu semua dimulai dengan niatku membeli roti di minimart. Kalian tahu ‘kan, kursi-kursi yang selalu ada di depan minimart? Jadi di situ aku melihat Junior dan Junhee sedang duduk berdua.

Dan mereka sangat akrab.

Dan beberapa kali aku mendengar kata ‘Jinyoung’ terdengar, menggantikan kata ‘Junior’ sebagaimana biasanya ia kupanggil. Ah, jadi itu nama aslinya. Aku sudah tahu, jadi aku tidak perlu melakukan shift-nya ‘kan?

“Ya, Jinyoung.” Ia menoleh, tapi raut bingungnya tertuju pada alasan mengapa kata ‘Jinyoung’ keluar dari mulutku.

“Aku sudah tahu namamu, jadi lakukan shift-mu sendiri.”

Dan langkahku menjauhi mereka.

Marah?

Hahahaha.

Tidak.

Memangnya aku harus marah kenapa? Karena ia mengenal Junhee?

Kalian tahu perasaan ketika pacar kalian mengacuhkan kalian untuk gadis-sialan-penarik-perhatian? Itu perasaanku. Tapi parahnya, ia bukan siapa-siapaku.

Dan pesan singkatnya yang berisi tentang meminta maaf dan mengajakku keluar hanya seminggu kemudian setelah hari itu, hanya membuatku semakin muak. Ia memberiku sebatang es stik rasa melon, tapi itu tidak memperbaiki apapun.

 “Dengar.”

Satu gigitan es.

“Aku minta maaf.”

Dua gigitan es.

“Dan aku suka padamu.”

Apa?

Ketika kutolehkan kepalaku, tidak ada siapa-siapa selain kami di sini. Berarti dia bicara padaku. Lantas, aku harus apa?

“Ah, aku tahu ini tidak seperti dongeng aslinya. Memang tidak cocok bilamana si cebol suka pada si gadis. Tapi toh, si gadis tidak tertarik pada sang raja. Lalu, apakah itu kesalahan?”

Sayup-sayup, jauh di kedalaman pikiranku, batin berbisik. Memang, tidak ada yang salah. Jadi?

“Ya, memang. Terlebih jika si gadis memiliki perasaan yang sama terhadap si cebol.”

Jinyoung memaparkan wajahnya lagi. Dengan semburat oranye sudah terlihat di barat sana, semua sudah jelas. Ah, Junhee tidak jadi masalah lagi sekarang setelah Jinyoung sendiri yang memberitahuku secara langsung.

Tapi, satu hal masih mengganjal.

Ya, Jinyoung.”

“Apa?”

“Apa kau suka noona-noona?”

 

FIN.

Haphap, bawa Bomi-Jinyoung. FF ini aku tulis untuk diikutin IFK 3rd Event yang di adain kemarin. And HAPPY ANNIV FOR IFK! Keep posting awesome fic, for authors.

Comment!

P.s : bonus Jinyoung for you all!

Jr 4

 

Advertisements

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s