Choices [Chap. II]

[REQPOST] Choices

Title : Choices | Main cast : EXO’s Kim Junmyeon (Suho) | Genre : Hurt, School life | Rating : Teen| Length : Two-shots |

***

Sudah jam 11. Besok masih hari Selasa minggu pertama sekolah musim semi. Aku masih belum bisa tidur. Adegan tadi siang masih terngiang dengan jelas di kepalaku. Membuat hatiku merasakan sakit yang sama berkali.

***

Langkahku dengan mantap memasuki perpustakaan sekolah. Meja – meja, rak – rak, komputer – komputer di sana masih sama teraturnya seperti terakhir kalinya aku ke sini bersama Youngmi. Aku tersenyum tanpa dapat kutahan.

Aku mengambil buku fisika. Entah untuk apa—agar aku dapat berlama – lama di perpustakaan ini, mungkin. Kutarik salah satu bangku yang belum ditempati. Meskipun aku hanya secara iseng mengambil buku ini, aku benar – benar membacanya. Entah. Aku sedikit berubah menjadi kutu buku akhir – akhir ini. Kata Baekhyun, ini hanya gara – gara aku terbiasa bertemu Youngmi di sini, jadi aku hanya mencari kesempatan untuk bertemu Youngmi. Mungkin.

Aku menekuni buku fisika yang isinya sudah kuhafal di luar kepalaku. Mungkin Baekhyun benar. Mr. Cho—guru fisika yang masih muda tapi jenius itu—menatapku heran ketika beliau melihatku membaca buku fisika. Ia menepuk pundakku.

“Kim, untuk apa kau membaca buku itu? Kukira kau membaca english versionnya untuk mengasah kemampuan berbahasamu. Ternyata tidak.”

Aku tertawa canggung.

Ne, aku bosan, saem. Hanya mengambil sembarang buku saja.”

“Ya sudah, lanjutkan fisikamu.”

Mr. Cho meninggalkanku. Aku kembali menekuni buku fisika tadi hingga mataku menatap benda hitam besar di ujung meja. Terlihat seperti tas pinggang yang cukup besar. Kuletakkan buku fisika tebal tadi di sembarang tempat. Kudatangi tas di ujung meja itu. Hey, ada namanya.

Oh Youngmi.

Eoh? Gadis itu? Mungkin tidak apa – apa kubuka – buka sedikit. Ternyata tas kamera. Sejak kapan gadis itu tertarik pada fotografi? Setahuku ia tidak membaca buku – buku fotografi akhir – akhir ini. Kuambil kamera SLRnya—berpikir apakah tidak apa – apa melihat hasil jepretannya. Well, mungkin tidak apa – apa kuintip sedikit.

Foto Sehun—kakaknya, foto Ms. Jung, foto sekolah, foto anjing sekolah, foto buku – buku di perpustakaan, foto Baekhyun, foto Baekhyun, foto Baekhyun, foto – foto teman – temannya, fotonya dengan Sehun, foto Baekhyun, Baekhyun, Baekhyun.

Aku tertegun.

Foto – foto Baekhyun.

“Ada satu objek mendetail yang ingin kusimpan di buku ini.”

“Siapa?”

“Seorang namja.”

Seorang namja.

“Siapa? Satu sekolah dengan kita tidak?”

“Satu angkatan.”

Satu angkatan.

Dan ia juga tersipu begitu aku bertanya apakah ia dekat denganku.

Namja yang di maksudnya memang Baekhyun.

Orang yang dicintai oleh orang yang kucintai.

Pintu perpustakaan terbuka. Cepat – cepat kutaruh lagi kamera Youngmi sedemikian rupa agar terlihat seperti sedia kala. Kuputar badanku, menatap pintu perpustakaan—Youngmi. Ia memandangku terkejut.

Tuhan, tolong aku.

“Suho-ya, kebetulan sekali kau di sini.”

Aku menghembuskan nafas lega sekaligus tersenyum kaku. Ia menghampiriku dengan langkah gemulai khasnya. Ia duduk di kursi seberang, mengambil kameranya yang terletak di depanku. Ia mengeluarkan kameranya, mencoba menerka apakah ada yang melihat – lihat isi kameranya. Matanya menatapku.

“Kau melihat sesuatu di kameraku tidak?”

Ma pernah memujiku saat pentas drama ketika aku masih kelas 7, berkata aku aktor yang baik. Dengan wajah meyakinkan, aku menjawab pertanyaannya.

Ne? Itu kameramu?”

Ia tersenyum—menghapus ekspresi curiga padaku dari wajahnya. Ia membuka tas kameranya dan mengeluarkan kamera SLR yang belum sampai 5 menit ke belakang tadi kurazia.

Ne, ini kameraku.”

Ia melihat – lihat foto – foto hasil jepretannya. Samar – samar, kudengar ia berbisik.

“Untung kau tidak lihat.”

Aku pura – pura tersenyum dan memperlihatkan wajah penasaran saat ia berpaling dari kameranya dan menatapku. Ia tertawa sendiri—entah mengetawakan apa. Aku tetap berusaha menjaga kepura – puraanku tersembunyikan.

Kajja, aku ingin makan siang.”

Ia terkejut saat aku menarik tangannya dengan lembut namun memaksa.

Aku membawanya ke belakang sekolah. Tempat ini selalu dan akan terus menjadi tempat favoritku. Mungkin karena aku suka pohon apel tuanya yang sampai sekarang masih memproduksi apel – apel merah segar—memberi kesan bahwa menjadi hal biasa itu tidak apa – apa, asalkan berguna untuk apapun dan siapapun. Masih menarik Youngmi, aku menuju pohon apel tua itu. Aku langsung bersandar di akarnya yang mencuat—mengistirahatkan diri. Kulambaikan tanganku pada Youngmi, memberi isyarat padanya untuk bersandar di sampingku.

Ia berjalan dan berjongkok. Aku menutup mata. Kurasakan Youngmi mulai bersandar di akar pohon di sisi kananlu. Aku mulai berpikir.

Aku harus tahu kebenaran—meski sedikit saja.

“Jadi, bagaimana liburanmu?”

Aku membuka mata—penasaran akan reaksinya. Ia tersenyum sangat lebar. Bagian gelap hatiku terasa ditikam oleh perasaan cemburu—hanya berpikir dan berperasangka buruk bahwa yang membuatnya tersenyum bukan diriku. Tapi, Baekhyun.

Neomu joha-yo. Appaku pulang dan ia mengajakku jalan – jalan.”

Aku mengeluarkan senyum palsuku—lagi.

Jeongmalyo? Wah, aku ikut senang mendengarnya. Bagaimana dengan scrapbookmu? Sudah selesaikah?”

Ia tertawa seperti biasanya, hanya saja kali ini aku yakin ia menertawakan jawabannya untuk pertanyaanku.

“Sudah, kok.”

Aku pura – pura terkejut.

“Kau sudah mendapatkan foto – foto namja itu, kah?” aku berusaha mengorek lebih dalam kebenaran. Aku bahkan tidak memikirkan apakah aku cukup siap untuk mendengar jawabannya.

Ne, sudah. Aku mendapat banyak sekali. Mungkin lebih dari yang bisa kucetak dan tempel di scrapbook.”

Otakku menolak untuk mencerna semuanya. Hatiku menolak untuk menerima rti dari jawabannya. Aku cukup tolol untuk mencari tahu lebih dalam. Aku tidak cukup kuat untuk melanjutkan kepura – puraanku sekarang. Dengan suara lemas, aku melanjutkan.

“Boleh kulihat?”

Ia terdiam, memikirkan hal terbaik yang akan dilakukannya. Tangannya dengan mudah meraih kamera SLR miliknya yang tergeletak di sampingnya. Ia melihat – lihat foto – foto yang terdapat di dalam memori kamera itu. Ia tertawa sendiri. Tidak seperti biasanya, aku tahu ia menertawakan jawabannya.

Ia masih memikirkan jawabannya. Aku memutuskan untuk memejamkan mataku lagi. Aku menggumamkan lagu Memories milik Super Junior, seiring memori – memoriku tentang Youngmi berdatangan—seolah ada slideslide berkelebatan di depan mataku saat ini juga. Aku masih memejamkan mataku rapat – rapat—takut jika aku membuka mataku, Youngmi imajnasiku hilang—ketika kecupan lembut menyentuh pipi kananku.

“Suho-ya, terima kasih. Kau satu – satunya sahabat dan lelaki yang mau berkenalan, berbicara bahkan membantuku. Terima kasih.”

Aku tersenyum. Ucapannya membuatku merasa lebih baik dan lebih buruk. Aku satu – satunya lelaki yang mengertinya. Tapi, ia menganggapku hanya sebatas sahabat.

Salahkah aku jika senyum yang kukeluarkan padanya bukan senyum persahabatan? Salahkah jika semua bantuan yang kuberi bukan berdasarkan pikiran bahwa aku teman yang baik? Salahkah aku jika semua pikiran tentangnya di otakku bukan karena aku menyayanginya sebagai sahabat? Salahkah aku jika aku berharap, berpikir, berimajinasi, dan bersikeras ingin menjadi lebih dari itu?

Hatiku menjerit, tidak ingin menerima siksaan ini lebih lanjut. Egoku memaksa untuk tetap memejamkan mata—memberi logika bahwa setidaknya dengan itu aku bisa berada di sisinya lebih lama. Apakah tidak apa – apa jika aku meneteskan mata karena hal yang membuatnya bahagia?

Tidak—pantaskah aku? Pantaskah aku menangis?

Aku tidak perlu—tidak peduli.

Setidaknya ia senang.

***

“Hey, maukah kau menjelaskan, kenapa kau memutuskan untuk memilih jalanmu sekarang?”

Suara Luhan hyung menarikku kembali ke alam nyata.

Ne? Buat apa?”

Terkadang aku agak heran. Luhan hyung selalu penasaran pada sesuatu yang seharusnya tidak menjadi ketertarikannya. Dan parahnya, ia selalu dengan frontal dan jujur menanyakan kepada orang yang menurutnya dapat mengatasi rasa penasarannya.

“Kenapa kau malah bertanya? Cepat jelaskan alasanmu memilih jalan ini!”

Aku merenung—menatap sayap pesawat di luar lagi. Aku masih memainkan postcard penuh glitter yang kaya akan warna di tanganku. Aku membukanya, membaca tulisan kecil – kecil yang rapih, yang ditulis dengan tinta hitam standard, untuk keseribu kalinya. Dan untuk keseribu kalinya, aku masih tersenyum sedih setelah membaca kata – perkatanya.

Ya. Beri tahulah. Aku penasaran.”

Aku menghela nafas berat—mengalah pada hyung tua tapi kekanak – kanakan ini. Mungkin hanya umurnya saja yang tua. Sosok dan perilakunya masih seperti pemuda yang lebih muda dariku. Aku menoleh dan melempar pandangan baiklah-kau-mau-apa padanya. Ia hanya melempar cengiran khasnya padaku lagi—khas dirinya ketika merasa malu akan rasa penasarannya.

Jebal. Aku akan diam selama penerbangan jika kau memberi tahuku tentang ini.”

Ia? Diam selama penerbangan? Well, perlu dipertimbangkan.

“Tapi, kau berjanji, tidak akan menyelaku. Ya?”

Ia mengangguk keras – keras, hingga aku yakin ia sendiri merasa pusing.

Aku tertawa melihat aksinya. Aku berdeham—menyiapkan tenggorokanku sebelum penjelasan yang panjang.

***

Selimutku membuatku sulit berpikir tentang sore tadi. Aku bahkan tidak mengerti kenapa aku harus berpikir dan apa yang kupikirkan. Sesuatu yang tanpa kusadari melesak, menyusup ke dalam hatiku dan membuatku gelisah berjam – jam pada malam sekolah. Kutengokkan kepalaku ke arah kiri, melihat ke arah jam wakerku bertengger.

Mataku terpejam pasrah, setelah melihat jam yang ditunjukkan. Aku hanya punya 4 jam lagi sebelum harus bangun dan melaksanakan rutinitas pelajar SMA.

Aku harus tidur.

Tapi, bagaimana caranya?!

Mendadak aku merasa bahwa tutorial untuk tidur yang dari kecil dapat kulakukan dengan mudah, menghilang.

Aku mendengus geli. Aku, kalah dengan adikku sendiri. Dalam hati, aku berpikir. Aku tidak boleh seperti ini. Aku yang membuat Youngmi nyaman. Aku yang membuat Youngmi tersenyum. Dan untuk seterusnya, bahkan untuk berabad – abad kedepan, hanya aku yang boleh membuat Youngmi tersenyum dan berbahagia. Dan hanya aku yang boleh memiliki Youngmi. Meskipun nanti aku berhasil, aku tidak ingin membaginya sedikitpun dengan Baekhyun, atau Chanyeol, atau siapapun.

Hanya aku.

Aku harus bisa menyingkirkan siapapun dan apapun mulai dari sekarang hingga kapanpun yang menghambatku untuk menjadikan Youngmi menjadi milikku.

And by anything it means anything.

***

Mwo?! Kau berencana membuat adikmu sendiri—maksudku adik angkatmu—kecelakaan? Kau benar – benar gila Kim Junmyun.”

Aku tertawa melihat Luhan hyung menutup matanya dengan dramatis menggunakan tangan kanannya, dan di saat yang bersamaan menyenderkan kepalanya di senderan kursi pesawat.

Ya, kau berjanji tidak menyela.”

“Ah, mian, mian. Lanjutkan, jebal?”

***

Kulihat baju hapkido milik Baekhyun yang terlipat rapi di ruang loker. Hari ini turnamen olah raga antar kelas diadakan. Bocah itu—seperti biasa—didaftarkan untuk mewakili kelasnya dalam lomba hapkido.

Aku harus melakukan sesuatu.

Tidak, aku tidak boleh.

Tapi, ia membuat Youngmiku menyukainya.

Itu bukan salahnya.

Oh, ayolah. Kenapa batinku bertengkar antara satu sama lain—antara baik dan jahat.

Bibirku menyunggingkan senyum yang menunjukkan rasa jijik pada diriku sendiri. Well, mungkin kali ini sisi baikku menang. Aku masih harus banyak merenung agar sisi baikku menang dalam pertempuran batin yang selanjutnya dan seterusnya.

***

“Cha, ayo kita latihan lagi Baekhyunnie.”

Aku menoleh, mengalihkan pandangan dari secangkir-kopi-pada-pagi-hariku. Appa? Latihan apa?

“Baekhyun mau latihan apa, appa?”

Senyum sejuk terlempar begitu saja dari bibir appaku—senyum yang sekarang diwariskannya padaku.

“Adikmu sudah berumur 17 tahun ini. Ia harus memiliki kartu kependudukkan dan ia bilang akan sekaligus mengikuti ujian untuk memiliki surat izin untuk mengemudi. Ia akan latihan mobil. Kau ingin ikut?”

Mungkin renunganku belum cukup agar sisi baikku sangat kuat—setidaknya cukup kuat untuk mengalahkan semua niatan jahatku.

Ani, appa. Biar aku saja. Lagipula, kemarin appa pulang malam. Appa istirahatlah lagi, biar aku yang menjaga Baekhyun. Kajja, Baekkie!”

***

“Kau  benar – benar berusaha membunuh adikmu?! Ya, kau gila!”

Aku tersenyum miring—sekali lagi merasa jijik pada diriku sendiri.

“Ya, memang.”

Aku menatap keluar jendela, lalu mengalihkan pandanganku ke arloji di tangan kiriku. Sudah hampir take off.

“Lalu? Apa yang kau lakukan?”

Aku tertawa—lagi – lagi ekspresi jijik pada diriku sendiri.

“Kau tahu? Appaku selalu berharap aku tumbuh menjadi pemuda sempurna. Setidaknya aku berusaha untuk menjadi sempurna. Tapi, hari itu, aku menghancurkan harapan appaku terhadapku satu – satunya.”

Luhan hyung menatapku dengan simpati bersinar jelas di matanya.

“Kau benar – benar kakak yang jahat, Kim Junmyeon.”

“Hei, kau bahkan belum mendengar cerita penuhnya dan sudah menilaiku.”

***

Aku diam di dalam mobil. Aku menyetir dengan tenang. Dan dalam ketenanganku, aku memikirkan cara untuk menyingkirkan adikku.

Aku menginjak pedal gas dengan agak kulepas sedikit – sedikit—membuat  mobil ini berjalan dengan tersendat – sendat. Aku memasang muka agak terkejut. Dan aku tidak terkejut saat Baekhyun menangkap kode palsuku dan bertanya

Hyung, mobilnya kenapa?”

Aku tertawa lemah dan menggeleng.

“Nanti di lapangan latihan, hyung periksa.”

Akku tetap mengendarai mobil dengan tenang. Dalam hati, entah apa yang merasuki sehingga hatiku puas dengan kepolosannya. Aku berusaha berpikir untuk menciptakan skenario selanjutnya.

Lapangan yang dulu pernah kupakai sebagai tempat berlatih mobil juga, terlihat hanya berjarak sekitar 5 meter di depan. Aku turun dari mobil dan bertanya pada Baekhyun.

“Hyun, kau membawa alat untuk mobil?”

Yang kumasud adalah, peralatan – peralatan untuk mobil. Appa belajar sedikit tentang mobil dari temannya, yang sesudahnya, diwariskan padaku.

Ne.”

Dengan patuh, Baekhyun mengambillkan peralatan yang ada di bagasi. Ia kembali setelah suara lembut pintu bagasi tertutup terdengar. Ia kembali dengan peralatan ala bengkel berada di pelukannya.

Aku masuk ke bawah mobil, berpura – pura membetulkan masalah. Aku mencari – cari akal apa yang bisa kulakukan. Di sudut mataku, terlihat suatu benda berwarna hijau besar. Pohon.

Pohon.

Mobil.

Menabrak pohon.

Dengan segera kucari kabel rem. Materi hari ini adalah tentang transmisi. Jika ia salah dan kehilangan kendali, ia akan dengan panik menginjak rem. Jika aku berhasil membuatnya tidak berhenti, ia akan menabrak pohon.

Dan Youngmi menjadi milikku.

Tanganku meraih tang. Aku mencari – cari kabel yang memiliki pengaruhi terhadap fungsi pada rem. Tanganku mulai bergerak—memutuskan tempat dimana aku akan memutus semua fungsi rem. Dengan tekad kuat, kugenggam tang berkaret kuning di tanganku. Kumasukkan kabel rem pada mulut tang yang menganga.

Kau bajingan, Junmyeon.

Sesuatu berbisik di telingaku.

Aku membeku selama beberapa detik, sebelum akhirnya tanganku melemas dan turun. Tang berkaret kuning itu turun bersamaan dengan tanganku yang lemas yang turun perlahan – lahan.

Ujung bibirku terangkat—membentuk senyuman lemas, palsu dan jijik. Kukeluakan diriku dari bawah mobil.

“Sip. Mobilnya sudah benar.”

Baekhyun mengeluarkan cengiran khasnya, yang membuat bibirnya menjadi berbentuk kotak—khasnya. Ia berlari menuju pintu sebelah kiri, dan masuk. Aku masuk lewat pintu di seberang kanannya. Kusandarkan punggungku di senderan jok mobil di sebelah Baekhyun.

Ia memasukkan kunci mobil pada lubangnya kelewat buru – buru, dan langsung menyalakan mobilnya. Aku menggerakkan tanganku perlahan, memegang pundak kanannya.

“Hyun.”

Ia menengokkan kepalanya padaku.

Ne?”

Sebenarnya aku ingin menyatakan seberapa besar perasaan sayangku padanya, tapi kurasa agak klise—bukan, agak aneh jika kukatakkan pada momen seperti ini. Aku juga tidak mungkin berkata padanya, aku bangga memilikinya sebagai adik. Jadi, alih – alih mengatakan semua kalimat aneh di pikiranku, kukatakkan padanya

“Aku merasa senang mengetahui aku berada satu dimensi, satu dunia, satu planet, satu negara, satu rumah dengan dan mengenalmu, Byun Baekhyun.”

Oke, mungkin itu berlebihan.

Hyung-“

Ia menatapku dalam – dalam.

“-kau menjijikkan. Kau gay.”

Ia mendorong tanganku dari pundaknya dengan canda. Aku tertawa. Ia benar. Aku menjijikkan—dalam banyak jalan dan hal.

“Cepat nyalakan mesinnya. Latihanmu akan agak lama. Kita harus pulang sebelum pukul 3.”

***

“Lalu? Kau mau tinggal dimana Junmyeon?”

“Aku bisa mencari teman untuk tinggal di sana. Lagipula aku sudah besar.”

“Ma tahu itu. Tapi, Barcelona? Yang benar saja, Junmyeon.”

Aku tertawa lemah. Mungkin tawa lemahku untuk yang entah keberapa juta kalinya dalam hidupku.

“Ma, please. Aku akan kembali. Aku hanya belajar.”

“Tapi, bisnis bukan hal yang mudah untuk dipelajari. Mengapa kau tidak belajar di sini saja, di Korea?”

“Aku tidak harus selalu di rumah. Ada saatnya burung kecil pergi meninggalkan sarangnya. Meski si ibu memaksa, ia tetap harus pergi ma.”

***

“Kau harus pergi ke Barcelona, Suho-ya?”

Matanya berkaca – kaca.

“Ya, aku tahu kau gadis pemalu lemah dan tidak banyak bicara. Tapi, aku tidak tahu kau gadis cengeng. Makanya, jangan menangis.”

“Tapi, siapa yang akan membantu dan menemaniku jika aku ingin melakukan hal gila?”

“Kan aku masih meninggalkan Baekhyun. Minta tolonglah padanya.”

“Tapi, aku tidak ingin dibantu Baekhyun.”

“Lho? Bukankah kau menyukai Baekhyun?”

Ia tertegun.

Aku menariknya. Memeluknya sebentar mungkin bukan masalah. Aku memeluknya dengan semua kehangatan yang bisa kuberikan padanya. Dengan mantap, aku  melepasnya.

Ia menolak.

Ia melingkarkan tangannya kuat – kuat di punggungku.

Aku mendengarnya terisak.

Mungkin ini memang susah. Untuk semuanya.

***

“Jadi, di sinilah kau. Setelah melakukan semua hal tidak menguntungkan pihak manapun itu, apakah kau senang?”

“Senang?”

Aku tertawa sarkastik.

“Aku tidak dilahirkan untuk senang. Aku dilahirkan untuk memilih. Kurasa.”

Peringatan bahwa pesawat sudah hampir take off terdengar. Aku memasang seat beltku. Dari jendela di sampingku, terlihat ia dan adikku menunjukkan kasih sayang terhadap masing – masing.

Setidaknya ini pilihanku.

FIN.

Sip, udah selesai twoshots nista dengan main cast si papih ini. Review sangat dibutuhkan untuk FF nista ini. Hope you like it lah ya.

Comment yow!

Advertisements

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s