Choices [Chap. I]

[REQPOST] Choices

Title : Choices | Main cast : EXO’s Kim Joonmyeon (Suho) | Genre : Hurt| Rating : Teen| Length : Two-shots|

***

Akhirnya juga, ia yang menang. Di atas langit masih ada langit. Mungkin memang bukan takdirku. Ia hanya untuk adikku seorang. Pada akhirnya aku yang memang harus mengalah, karena aku menyayanginya, dan menyayangi adikku.

“Ya, Suho-ya! Cepat, pesawat kita ke Barcelona sudah hampir berangkat!”

“Sabar. Kau tidak lihat bawaanku sebanyak apa?”

“Ya sudah. Aku tinggal. Bye!”

“Ya, Luhan ge, tunggu! Kalau kau pergi, memang siapa yang akan menemanimu di sana?”

“Betul juga, sih. Makanya, cepat!”

***

“Kau membaca apa kali ini?”

Ini sudah entah hari ke berapa aku memergokinya menghabiskan break time di perpustakaan. Dan aku bingung apa yang membuat matanya tidak memerlukan bantuan kacamata.

“Eh? Aku melihat cara membuat scrapbook.” Ia meringis malu karena tertangkap membaca buku lagi.

Eoh? Untuk apa? Kan sebentar lagi ada write exam, bukannya practical.”

“Kan setelahnya ada libur panjang. Aku ingin mencoba membuatnya di liburan nanti. Aku sudah bosan dengan kerja part timeku.”

“Hmm. Memang part time terakhirmu dimana?”

“Hmm, di pet shop. Tapi aku alergi dengan bulu kucing, jadi aku tidak betah.”

“Dasar konyol.” Tapi, itu yang membuatku tertarik.

“Kau, mau mengisi liburmu dengan apa, Suho-ya?”

“Aku? Entah, aku tidak terlalu tertarik melakukan hal – hal rajin sepertimu. Mungkin aku akan tidur seharian. Jika bisa.”

Ia tertawa kecil mengetawai rencanaku yang bodoh.

“Kau boleh membantuku jika mau. Membuat scrapbook.”

Heung? Jinjayo? Ah, aku tidak terlalu pandai dalam bidang art. Jika aku membantumu, mungkin hasilnya seperti buku usang yang kebetulan dibuat asal – asalan.”

It’s OK. Tidak bisa ditambah tidak bisa mungkin akan membaik hasilnya. Sedikit.”

“Teori apa itu?” dasar gadis konyol.

“Teori Oh Youngmi.”

“Kau bangga dengan teori konyolmu?”

Euh, tidak juga, sih.”

“Dasar.”

***

Hyung, tunggu!”

“Kenapa?” oh, Baekhyun.

“Kau bisa bilang ke Ma tidak, aku pulang agak malam. Aku perlu menyelesaikan tugas di sekolah. Kira – kira aku akan sampai pada pukul 11. Maaf, ya.”

“Tugas apa? Kau sendirian?”

“Tidak. Ada anggota club yang lain juga.”

“Ya sudah. Sana, mereka pasti menunggumu.”

“Trims, hyung. Bye.”

Dongsaeng yang sibuk. Sekarang aku harus memikirkan bagaimana caraku untuk memberitahu ma bahwa ia sibuk. Mudah saja. Katakan sejujurnya.

Ma sudah terlihat saat aku baru menjejakkan langkah pertama di rumah.

“Ma, aku pulang.”

Ne, mana saeng-mu?”

Aku meletakkan tasku di sofa dan menuju dapur untuk mengambil susu dan roti. Perutku perlu di isi.

“Dia ada tugas. Ia bilang pulang jam 11.”

Mwo? Jam 11? Kau tidak bilang itu melanggar keputusan jam malam? Kau seharusnya mengerti itu sudah di luar batas. Kau seharusnya mengingatkannya. Bukannya berarti ia anak baru di sini dan ia mendapat perlakuan spesial. Tidak baik juga. Akan mengundang prasangka dan pikiran tidak baik jika anak seumurannya masih berkeliaran hingga pukul 11. Kau ‘kan tahu itu. Ingat Junmyeon, bantu ia menjadi anak baik. Mengerti?”

Ne.”

“Jawaban apa itu? Kau mendengarkan tidak?”

“Iya, ma. Aku mendengarkan. Aku lapar dan lelah. Aku akan tidur.”

Aku hanya berusaha jujur dan kenapa imbalannya berat sekali. Aku merasa tidak enak. Bukan karena habis dimarahi. Aku juga merasa tidak enak kepada Baekhyun. Aku tahu bukan berarti ia anak angkat ia memiliki perlakuan spesial. Tapi, cara ma mengatakannya membuat pikiranku geram. Tidak bisa apa, ia memikirkan apa yang akan dirasakan Baekhyun jika mendengar kata – katanya secara langsung.

Aku bersikap begini bukannya aku gay atau apa. Sejak kecil, aku ingin memiliki saeng. Aku tidak peduli laki – laki atau perempuan, yang penting ia saengku. Tapi, ma operasi rahim dan operasinya memaksa ma untuk mengangkat rahimnya. Padahal, ma masih ingin memiliki anak lagi, jadi kita pergi ke panti asuhan.

Di sanalah aku bertemu Baekhyun. Bocah cilik dengan senyum menawan yang membuat matanya seolah tenggelam di balik pipinya yang gembul. Ia bermain denganku seharian dan membicarakan banyak hal yang mungkin hanya dimengerti oleh anak kecil seusia kami.

Sorenya—waktu ma hendak memutuskan anak mana yang akan di adopsinya, kami tidak mau berpisah. Aku menangis dan meraung ketika aku dipaksa berpisah dengan Baekhyun. Begitu juga ia. Akhirnya ma mengadopsinya untuk menghentikan tangisku. Sejak saat itu, kami selalu bersama. Seolah saudara kandung. Seolah ditakdirkan bersama sejak sebelum diturunkan ke bumi ini. Seolah sepasang soulmate.

Mungkin soulmate cukup menjelaskan keadaan kita hingga beberapa bulan belakangan ini. Ketika aku menangkap sesuatu yang lebih membuatku tertarik daripada Baekhyun. Sesuatu yang kutemukan dan mulai kutelusuri baru – baru ini. Aku sendiri baru tahu bahwa rasa penasaranku dan tertarikku sebesar itu. Aku baru menemukannya di awal semester ini. Orang yang sekarang membuat Baekhyun tersingkir dari tempat pertama di pikiranku.

Oh Youngmi.

Gadis polos yang 1 angkatan denganku. Aku sendiri tidak yakin karena tidak mungkin ada murid high school yang sepolosnya. Ia sendiri tidak menyadari jika ia memang orang yang terlihat seperti itu di mataku. Setiap kali kukatakan padanya ‘Dasar gadis konyol.’ ia malah tertawa. Entah ia mengetawai apa—kata–kataku atau dirinya sendiri. Itulah yang membuatku tertarik.

Bukan hanya itu, sih.

Rambutnya yang selalu beraroma selai anggur. Pipinya yang selalu hampir semerah apel matang. Matanya yang berbentuk bulan sabit ketika tertawa. Jemari lentiknya yang tampaknya tidak akan pernah keriting meski sudah membalik halaman buku berjuta–juta kali. Aroma pandan yang selalu terkuar dari tubuhnya, meskipun berkali – kali ia menyangkal tidak memakai pengharum atau cologne apapun.

Seakan setiap bagian memori otakku terpenuhi hal – hal tentang Youngmi. Seakan semua hal di dunia tidak ada artinya jika dibandingkan dengan hal – hal sepele dengannya.

Mungkin ini yang selalu dirasakan oleh tokoh utama cerita bergenre romance. Rasa terpikat akan seorang gadis yang tadinya terlihat biasa – biasa saja—bahkan belum pernah melihatnya, tiba – tiba membuatnya merasa rela menjadi budak untuk budak gadis itu sekalipun, asalkan bisa terus setidaknya melihat gadis itu.

Fall in love.

Sebelumnya aku merasa bingung dengan kalimat itu. Mengapa harus diberi kata ‘fall’ di depan ‘in love’? Tidak bisakah hanya ‘in love’? Hingga akhirnya aku merasakan tahap itu sendiri. Aku mengerti kenapa harus ada kata ‘fall’ di awal kalimat. Karena kita memang terjatuh. Falling hard. Terjatuh sangat keras. Meskipun awalnya kita tidak merasa bahwa kita ‘terjatuh’, lama kelamaan perasaan kita mulai meyakinkan kita, bahwa kita sedang terjatuh—entah bagaimana perasaan kita menyampaikannya.

Dengan perasaan berbunga – bunga, mungkin—ketika kita hanya sedang menatap matanya dan secara tidak sengaja melakukan eye contact ketika ia menatap kita balik.

Dengan telinga yang terasa panas, mungkin—dengan mendengar suaranya yang lembut memanggil namamu hanya untuk mengisi absen kelas.

Dengan tenggorokan yang terasa tercekat, mungkin—ketika hanya hendak mengatakan ‘Kau di panggil Mr. A’.

Dengan napas yang tahu – tahu tidak beraturan, mungkin—ketika ia yang disuruh menemanimu ke ruang kesehatan untuk memperban luka barumu karena bertindak ceroboh saat bermain bola basket ketika break time.

Dengan hati yang terasa disulam dengan nenek tua yang tidak tahu rasa ampun, mungkin—hanya dengan melihat dirinya pulang bersama lelaki lain.

Fall in love. Yes, that’s what i feel right now.

***

Apa sih, yang berisik di bawah? Mengganggu tidurku saja.

Kutajamkan pendengaranku agar bisa menangkap suara samar – samar dari bawah. Sampai – sampai, aku tercekik karena tanpa sadar aku bahkan menahan napasku. Lama kelamaan, suara samar tadi, menjadi jelas terdengar oleh telingaku sekarang. Ada 2 orang berbicara. Siapa?

Baekhyun. Dimarahi ma.

Aku tetap tidak mengerti. Kan Baekhyun sudah berpesan ia akan pulang malam. Kenapa ma masih bersikeras memarahinya? Jika memang itu tugas sekolah dan Baekhyun memang harus pulang pukul 11, memangnya kenapa?

Setelah 20 menit, aku mendengar derap langkah kaki di tangga. Setelah langkah kaki itu terasa sangat dekat, pintu kamar terbuka. Baekhyun masuk dengan wajah merah padam dan mata yang berkaca – kaca. Tapi, ia bukan habis menangis. Menahan marah dengan mengeluarkan sedikit air mata.

Ya, dimarahi ma? Maaf ya. Padahal tadi sudah kubilang kau akan…”

“Diam, hyung. Please?”

Ne.”

Ia menuju teritorialnya di kamar ini. Ia langsung mandi tanpa mengucap apapun.

Kenapa sih, dia sebenarnya? Aku berusaha membuat suasana rileks dan dia menghancurkan usahaku. Biar sajalah.

Aku mengubah posisi tubuhku menghadap dinding, merapatkan selimutku hingga menutupi telingaku. Aku memejamkan mata, mulai memikirkan Youngmi lagi. Lalu tiba – tiba, Baekhyun keluar dari kamar mandi dan menghembuskan nafas berat.

Hyung, maaf.”

Eung?”

“Tadi kata – kataku kasar. Maaf. Aku hanya terpengaruh emosi akibat dimarahi ma. Maaf, hyung.”

Ne, tidak apa – apa. Memangnya apa yang kau kerjakan tadi, di sekolah, hah?”

“Untuk festival musim semi tahun depan. Mereka tidak ingin menunda – nunda pekerjaan katanya. Padahal kan, masih ada 2 bulan. Lagipula, apa sih, pentingnya festival? Haah, murid SMA zaman sekarang.”

Ya, kau berkata seolah kau bukan murid SMA zaman sekarang. Dasar, bocah konyol.”

“Oh iya. Heheh.”

“Sudah, tidur sana. Sudah setengah 12. Dan kau pasti lelah. Jalja.”

“Hm, jalja.”

See, having a sibling isn’t always a bad thing.

***

“Aaaaaah, akhirnya finale test selesai!”

“Kau sepertinya sangat senang, Suho-ya. Memang kenapa? Toh, kau tidak akan melakukan apa – apa saat liburan nanti.”

“Kau tidak tahu perasaan senang hanya karena menyelesaikan finale exam tanpa masalah, huh? Aku merasa lega. Kau tidak?”

“Aku… aku malah merasa gugup.”

“Kau aneh. Kenapa? Kan ujiannya sudah lewat.”

“Hasil rapot.”

“Oh iya! Astaga…”

Terdengar suara tertawa mungil itu lagi.

Euh, aku ingin bertanya. Kalau tidak menyinggung.”

Ia menoleh ke arahku cepat.

Ne? Tidak apa – apa, kok. Tanyakan saja.”

“Kenapa sih, setiap kau tertawa, kau menahannya sehingga hanya terdengar seperti cekikikan kelinci?” padahal aku tidak pernah mendengar kelinci cekikikan.

“Kau ingin aku tertawa seperti Chanyeol sunbae?” ia mengeluarkan raut bingung.

FYI, Chanyeol sunbae tertawa seperti raksasa yang puas karena mendapat manusia korbannya untuk ke seribu kalinya.

“Astaga, bukan begitu maksudku.”

“Jadi… bagaimana?”

“Kau tidak bisa tertawa lepas seperti Yoona sunbae? Atau siapalah, gadis lain di sekolah ini.”

“Kau ingin aku menjadi seperti mereka? Tertawa seperti mereka? Kenapa?”

“Karena, jika kau tertawa kecil seperti itu saja sudah membuatmu terlihat seribu kali lebih lucu. Aku ingin melihat jika kau tertawa bebas—membuatmu terlihat bagaimana.”

Lalu, hening panjang.

Dan, aku baru menyadari kata – kataku tadi terlalu jujur.

Aku menengok ke arahnya. Pipinya merah padam. Astaga. Apa yang baru  kau katakan, Kim Junmyeon.

“Bukan begitu maksudku. Kau agak… berbeda dengan gadis lainnya.”

Ia menoleh ke arahku—lagi–lagi dengan cepat.

“Apa?”

“Maksudnya?”

“Apa yang membuatmu berpikir aku berbeda dengan gadis lainnya?”

Heung… apa, ya?”

Hening menyeruak. Hey, tapi aku memang sedang berpikir.

Mungkin karena ia kutu buku? Ah, banyak kutu buku juga di luar sana.

Karena ia orang yang ingin membuat scrapbook saat liburan? Meh, banyak scrapbooker.

Mungkin karena ia alergi terhadap kucing dan malah mengambil kerja part time di pet shop? Mungkin.

“Entah. Tapi, aku yakin, ada yang membedakan dirimu dengan gadis yang pernah kukenal hingga detik ini.”

“Kau sendiri, juga berbeda dengan laki – laki manapun yang pernah kutemui.”

Ne?! Benarkah?”

Ne. Kau agak… dramatis.”

“Ya… tidak lucu.”

Dan cekikikan mungil itu terdengar lagi.

***

Kring… Kring… Kring…

Siapa sih, yang menelpon pada pukul 7 pada Senin minggu pertama liburan akhir tahun dalam musim dingin?

Ne, yeoboseyo?”

Euh, ini kediaman Kim Junmyeon?”

Ne. Ini Junmyeon sendiri. Dengan siapa?”

Ah, syukurlah. Ini aku, Youngmi.

“Apa?”

Aku bersungguh – sungguh dengan kata – kataku yang mengundangmu untuk membantuku membuat scrapbook. Mau tidak?

“Aku…”

Heung?”

“…baru bangun tidur.”

Terdengar lagi tawa kecil itu.

“It’s okay. Mau tidak?

Ne. Tunggu aku, ya. Sekitar setengah jam. Oh, dan alamat rumahmu.”

Ia memberiku alamat rumahnya dan menutup pembicaraan.

Aku bergegas ke rumahnya ketika aku selesai mempersiapkan diri. Hey, alamatnya tidak terlalu jauh. Aku mengambil sepedaku. Mungkin aku bisa menghemat uang dengan memakai sepeda. Meskipun udara terlalu dingi, masih bisa kutoleransi—dan harus bisa kutoleransi demi Youngmi.

Begitu memasuki daerah perumahannya, aku terhenyak. Wow. Ini perumahan orang kaya. Sungguh. Memasuki daerahnya saja pun, sudah terlihat ini perumahan macam itu.

Aku mencari blok yang tertulis di alamat yang diberikannya. Ternyata agak masuk ke dalam. Dan semakin ke dalam, semakin besar rumahnya. Aku segera saja menemukan alamat yang dimaksud karena tidak terlalu dalam.

Rumahnya?

Ha—sangat, sangat mewah. Hanya terdiri dari 2 lantai sih, tapi luas sekali lahannya. Mungkin dia membeli 2 blok dan menggunakannya untuk 1 bangunan. Ia sudah menunggu di depan rumahnya ketika aku tiba.

Annyeong.” Sapaku pelan.

“Ah, Suho-ya. Beruntung kau berhasil menemukan alamatku. Kupikir kau tersesat. Kau lama sekali.”

Aku menggaruk belakang telingaku. “Ah, maaf, Youngmi-ya.”

Ne, ayo masuk.” Aku menaruh sepedaku di samping sepedanya yang terparkir di garasi. Aku melepas sepatuku di muka pintu, dan menjejakkan kaki di ubin lantai yang terasa dingin. Ia menuntunku untuk menaiki tangga yang terkesan mewah sementara aku membuka overcoatku.

Kami menelusuri tangga bersama hingga lantai atas (upper ground) berada di bawah kaki kami. Aku sangat serius kali ini; tempat ini sangat memiliki kesan vintage dan royal.

“Suho-ya, kemari.”

Aku tertinggal agak jauh dari Youngmi gara – gara terlalu terhanyut dalam pemandangan interior rumahnya. Ia menuntunku ke sebuah ruangan tanpa pintu—hanya 2 lembar gordyn berwarna putih dengan polkadot kecil warna – warni yang menandakan itu ruangan terpisah. Ia menyingkap gordyn itu tidak terlalu lebar, tapi cukup untuk bisa ia lewati.

Begitu ia sudah hilang di balik gordyn itu, aku cepat – cepat menyusulnya. Begitu sampai di dalamnya, kulihat Youngmi sedang berada di depan rak berwarna putih dengan banyak hal yang ditopangnya, mengambil beberapa benda. Ia menuju meja bundar berukuran sedang yang ada di tengah ruangan—yang sudah penuh, menaruh beberapa bawaannya. Ia pergi lagi menuju lemari kaca, membuka pintunya dan mengambil beberapa benda dari dalamnya.

“Duduk dulu, Suho-ya. Dimana saja.”

Aku menarik salah satu kursi yang ada di sisi meja. Aku duduk dan memperhatikan Youngmi. Ia sibuk, tapi kenapa? Kan ada aku, kenapa ia tidak meminta tolong? Ia membawa banyak barang untuk terakhir kalinya sebelum duduk di seberangku.

“Nah, peralatannya sudah siap semua. Ayo mulai sekarang.”

“Kita harus melakukan apa? Kau belum memberitahu apa yang harus kita lakukan untuk membuat scrapbook.”

“Oh iya.” Ia mengambil selembar kertas dan menunjukannya padaku.

“Lihat. Yang perlu kau lakukan hanyalah mengambil selembar kertas lalu menghiasnya dengan hiasan yang kupunya.  That’s it.”

“Tunggu, tunggu. Kupikir yang penting dari halaman scrapbook adalah sesuatu yang membuat dapat mengingat masa – masa yang akan disimpan. Kau tidak akan menempelkan foto apapun di halamannya?”

“Aku agak malu mengakui hal ini.”

“Apa?” aku mulai tertarik sekarang.

“Aku… tidak memiliki foto apapun, tentang hal yang akan kutempel di scrapbook ini.”

“Lho, kenapa? Kau tidak punya foto apapun bagaimana?”

“Ada satu objek mendetail yang ingin kusimpan di buku ini.”

“Siapa?”

“Seorang namja.”

Begitu ia menyebut kata ‘namja’, pipinya berubah drastis menjadi merah, kau harus tahu.

“Siapa? Satu sekolah dengan kita tidak?”

“Satu angkatan.” Pipinya tambah merah.

Mwo? Jinjayo?” Ia mengangguk perlahan, malu mengakui rahasianya hampir diketahui.

“Dekat denganku tidak?”

“Suho-ya, sudah. Kita harus mulai membuat secepatnya.”

“Ya sudah.” Kita menghias banyak halaman dalam 3 jam pertama. Sampai aku bosan.

Ya, Youngmi-ya.”

Ne?”

“Kita mau menghias sampai berapa lembar?”

Waeyo?”

“Aku bosan.”

Ia tertawa kecil lalu berkata “Ne, tunggu sampai aku menyelesaikan halaman ini.”

Aku memutuskan untuk menunggu sambil merapihkan kembali peralatan yang tadi kugunakan. Kusimpan di kotaknya bersama hiasan sejenisnya. Kuraih lem untuk kutaruh di kotak peralatan. Seekor nyamuk sialan lewat dan melintas serta hinggap di tanganku. Aku mengibaskan tanganku untuk mengusirnya dan sialnya lemnya jatuh—menggelinding hingga bawah lantai.

Kubungkukan tubuhku, berusaha memasukkan kepala ke bawah meja agar bisa melihat kemana lem tadi tergelinding. Tanganku dengan mudahnya menggapai lem itu ketika mataku menatap objek di seberang.

Kakinya terekspos dengan udara bebas hingga bagian teratas pahanya, karena menggunakan jeans overall yang pendek meskipun tidak ketat. Kaki putihnya yang jenjang menapak di lantai dengan tenang—tidak gusar seperti kebanyakan orang lainnya. Kulitnya yang seakan terlihat bening, membuatku ingin menatapnya berlama – lama.

Oh, ayolah, Suho. Mengintip kaki orang itu tidak baik. Itu tindakan… pervert.

Tapi, mataku menolak—bahkan untuk berkedip.

Hey, kau berjanji pada ma untuk menjadi anak baik, ingat?!

Oh iya. Tapi, tetap mata ini menolak perintah bawah sadarku.

“Suho-ya, kenapa?” Youngmi mengintip ke bawah meja untuk mengintipku. Ternyata ia memakai sweater wol. Pantas ia tidak mengeluh kedinginan meski memakai celana pendek seperti itu.

Ne? Ani, tidak ada apa – apa.” Aku mengambil lem itu dan kukembalikan ke atas meja.

Kajja, Suho-ya.”

“Mau kemana?”

“Katamu, kau bosan. Mau jalan – jalan tidak?”

“Kemana?”

“Mengelilingi rumahku.” Ia menarik tanganku, membuat posisiku berada persis di sampingnya.

“Jangan tertinggal lagi.” Bisiknya dekat telingaku yang entah kenapa membuat telingaku terasa habis direbus seperti kentang.

Ia mengajakku menuruni tangga. Berkeliling di rumahnya ternyata membutuhkan waktu lebih banyak dari yang kukira. Kita duduk di sofa ruang tengah untuk penutup jalan – jalan.

“Wah, sepertinya kau masuk daftar orang terkaya di korea, Youngmi-ya.” Ia tertawa malu.

“Jangan berkata begitu. Appaku yang membuat semua ini terjadi.”

“Kalau begitu—karena kau anak yang baik—kau pasti sering sekali berterima kasih pada appamu. Bahkan dalam bayanganku, kau melakukan formal bow kepada appamu beratus – ratus kali.”

“Kalau saja aku bisa.”

Appamu.. sudah..”

Aniyo! Appa ada di Rusia. Appa mengerjakan proyek besar di sana – sini, hingga bahkan aku tidak dapat menyapa, bahkan melihatnya dalam waktu yang sudah sangat lama.”

Heung…”

Kami berbicara tentang banyak lagi mengenai keluarga masing – masing. Sesekali keluar jalur. Dan kami berakhir membicarakan tentang piano. Yah, aku tahu itu aneh.

Ya, sudah pukul 2 siang. Tidak makan siang?”

“Ah iya, aku lupa. Maaf.”

Kajja, kita buat bersama.” Aku menariknya untuk sesaat—menggenggam tangannya yang terlampau kecil dalam dekapan tanganku yang besar. Hingga aku tersadar.

Euhmm… dapurmu dimana, Youngmi-ya?” Ia menertawai kebodohanku.

“Makanya, biar aku yang menunjukkan.”

Sekarang ganti tangan kecilnya yang menggenggam tanganku—menarikku ke arah yang pasti. Dapurnya cukup besar daripada ukuran standard.

“Sekarang, apa yang akan kita masak?” tanyanya.

“Punya sayuran?”

“Ada.”

“Punya telur?”

“Ada.”

“Punya daging?”

“Ada. Sebenarnya kau ingin memasak apa?”

Aku melihat apron di meja dapur. Kuraih apron itu dan kukenakan sambil berkata “Bibimbap.”

Mulutnya membuka, menggesturkan huruf ‘a’, kemudian meraih apron dan mengenakannya. Ia menuju fridge. Pasti mengambil bahan masakan. Benar kan. Ia meletakkan semuanya di meja dapur.

Aku mencuci tanganku dan mengambil satu gelas beras dan kumasukkan ke dalam rice cooker beserta air. Aku menutup tutup rice cooker dan memasaknya untuk tiga puluh menit.

“Dimana piringnya?” Ia berlari menghampiri lemari yang sepertinya untuk menaruh peralatan, dan mengambil piring. “Ini, Suho-ya.”

“Terima kasih.” Aku mengambil kacang, mencucinya dan menaruhnya di benda semacam baskom tadi dengan air, memberinya sedikit garam dan merebusnya. Aku beralih ke bayam, dan menengok ke arah Youngmi.

Ya, Youngmi-ya. Cepat urusi zucchini dan kosari-nya.” Ia langsung berlari dan melakukan yang kusuruh. Sekilas, aku melihatnya memotong zucchini tadi cepat sekali. Ia tidak pernah bilang kalau ia semacam Low Self-Esteem girl—gadis yang diam – diam memiliki banyak bakat tapi tidak menunjukkannya.

Sekarang aku membutuhkan daging. Aku menuju fridge untuk mengambil daging. Tepat saat aku ingin berjalan, Youngmi ingin menuju wastafel untuk mencuci jamurnya. Yang artinya ia terhenti di hadapanku karena tujuan kami bertentangan arah. Aku bergeser ke sisi kiri saat ia dengan canggung juga bergeser ke kiri. Aku ke kanan agar ia bisa lewat kiri, dan ia malah bergeser juga.

Aku memegang pundaknya canggung, menahannya untuk tidak mengikutiku untuk bergeser. Aku bergeser ke kiri dan melepas pundaknya, dan dengan canggung menuju fridge.

Aku menyelesaikan tugasku tepat ketika ia telah menaruh telur ditengah – tengah hidangan sebagai hiasan. Ia membawa piring itu dan menarikku menuju meja makan. Aku menarik kursi agar ia bisa duduk, lalu duduk di seberangnya.

Ya, tapi, kenapa piringnya hanya 1?” aku bertanya.

“Untukmu saja. Aku tidak biasa makan siang.”

Ya, musim dingin terlalu berbahaya untuk tubuh kecilmu. Apalagi jka kau tidak banyak makan. Lemak membuatmu hangat tahu.”

“Jadi, kau ingin aku gendut?”

“Bukan begitu juga. Setidaknya makanlah.”

Shireo, kau saja.”

Jika aku memaksanya apakah aku akan berhasil membuatnya makan? Aku menatap matanya dalam – dalam. Ia berpaling. Itu dia! Ia malu jika kutatap terus. Aku mengambil sesendok dan mencondongkan tubuh mendekatinya. Tanpa terasa, aku sudah menyeberangi setengah meja dan semakin mendekat, mendekat. Dan akhirnya, ujung hidungku hampir menyentuh ujung hidungnya. Ia tergagap dan membuka mulutnya.

Aku bukan semacam orang yang suka menyia – nyiakan kesempatan. Langsung saja sendok yang tadi sudah penuh kumasukkan ke mulutnya dengan sempurna. Aku menarik diriku kebelakang—lama – lama merasa risih sendiri. Aku melihatnya masih tergagap dan ‘merah’ dari kursiku.

“Makanya, kuberi tahu 1 hal. Kau tidak akan menang jika berurusan dengan Suho yang keras kepala.”

Alih – alih mengelak, ia dengan patuh mengunyah makanannya. Aku puas karena jika ia tidak makan ia akan semakin kurus dan semakin rapuh untuk menghadapi musim dingin. Lalu ia terkena berbagai macam penyakit, masuk rumah sakit, dan berakhir tewas karena tidak makan siang.

Ok, mungkin terlalu jauh.

Aku mengisi lagi sendok di tanganku dengan makanan di piring. Kusuap dengan sabar dan lembut gadis aneh di seberangku ini. Ketika nasi sudah habis setengah, tiba – tiba Youngmi berdiri dari kursinya dan menyambar sendokku.

Hey!”

“Dengar. Kau juga kurus. Bisa – bisa kau mati kedinginan, Suho-ya.” Ia menyendok nasi dengan cepat dan memasukkannya ke dalam mulutku.

Dengan sendok miliknya.

Aku memegang bibirku.

Ia menyuapiku dan menggunakan sendoknya.

Sesaat, aku merasa waktu terhenti—entah kenapa. Aku merasa, aneh. Aku tersenyum sangat lebar, bahkan aku mulai tertawa—menertawai diriku sendiri, entah kenapa.

Mungkin karena aku yakin, malam ini aku akan mimpi indah—mimpi dimana Youngmi menjadi tokoh utamanya.

TO BE CONTINUED

Heyyyy, ‘sup. Ini FF Suho pertama aku. Gapuas juga sih soalnya di sini Suho full di nista-in. Padahal yang request itu temen yang justru Suho-biased. Tapi, yasudalah daripada gakjadi. Ya ‘kan?._.

Comment yow!

Advertisements

Say!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s